Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Kejar-kejaran


__ADS_3

Malam harinya


Seperti rencana awal, Endang, Ratna dan Anisa akan memancing kegaduhan untuk mengalihkan para pengawal tersebut. Ratna pun memecahkan barang-barang pecah belah yang ada di ruang atas. Anisa menyiramkan minyak yang dia curi dari bensin mobil para pengawal.


Entah bagaimana caranya mereka bisa mendapatkan bensin tersebut. Sementara Endang mengkode Ratna melemparkan pemancik ke lantai yang sudah di kasih bensin.


"Ayo! cepat!" teriak Endang.


"Bu aku takut. Kalau aku yang kena bagaimana?" kata Ratna.


"Ayo mbak Ratna, kita harus kabur dari sini." Anisa masih membujuk Ratna.


Ratna melempar pemantik api ke lantai. Seketika lantai sudah di jalar si jago merah.


"Tolong! Tolong! kebakaran! kebakaran!" Teriak mereka secara bergantian.


Terlihat para pengawal berlarian ke arah kobaran api. Mereka sibuk memadamkan api, mengambil air untuk menyiram si jago merah. Api semakin membesar, tak ada yang mereka pikirkan selain menyelamatkan diri.


Dengan memberanikan diri ketiga tawanan tersebut mengendap-endap, lalu berlari ke pekarangan, di belakang rumah masih di kelilingi oleh hutan.


"Selamat! kita selamat!" mereka saling berpelukan.


"Sekarang kita bagaimana?" tanya Anisa.


"Kita sudah jauh dari mereka. Aku yakin mereka lebih sibuk dengan kebakaran itu." jawab Ratna.


"Hay! mana mereka!" salah satu pengawal menyadari ketiga tawanan sudah tidak terlihat. Tiga orang pengawal sudah menelusuri hutan. Mereka pun menelepon penjaga hutan agar ikut mencari ketiga.


"Pokoknya cari mereka!" perintah Adit pada anak buahnya.


Semua pengawal berpencar mencari keberadaan tiga tawanan tersebut. Tadinya memang hanya tiga orang yang bergerak mencari. Namun bagi Adit, tiga orang tidak akan cukup menangkap mereka, maka lelaki usia 29 tahun mengerahkan anak buah yang lain. Meskipun markas mereka sudah habis di lalap api.


"Ya Allah, bagaimana aku menjelaskan pada pak Rangga." Adit mengacak rambutnya.


Adit yakin atasannya akan murka kalau tahu markas alias vila milik keluarga Pattimura. Sesaat matanya membulat melihat handphone bergetar.


"Mampus aku! gimana ngomongnya sama pak Rangga." Adit kembali mengacak rambutnya.


"Ya sudah aku angkat teleponnya?" batin Adit.

__ADS_1


"Assalamualaikum, pak" Adit menjawab telepon Rangga.


"Waalaikumsalam, ada perkembangan apa?"


"Markas kita kebakaran, pak!" jelas Adit.


"Kenapa bisa seperti itu!" terdengar suara amarah dari seberang sana.


"Sepertinya ini rencana mereka, pak. Karena asal api dari kamar mereka." Jawab Adit.


"Saya tidak mau tahu! Pokoknya cari mereka, jadi hukuman mereka jadi bertambah satu. Yaitu membakar rumah orang. Saya pastikan mereka akan mendapatkan hukuman berat."


"Iya, pak. Kami akan berusaha mencari mereka." lapor Adit.


Sementara itu Endang, Ratna dan Anisa mengistirahatkan diri pinggir pohon besar. Setelah berlari jauh mereka merasa perlu istirahat sejenak. Sayangnya mereka tak menemukan apa yang bisa dimakan. Bahkan setetes air pun tak mereka temukan.


"Kalian cari arah sana! kamu arah selatan dan saya arah barat! cari jangan sampai lolos!" perintah salah satu pengawal.


Ketiga wanita tawanan tersebut terkejut. Baru saja mereka bernafas, terlebih Anisa yang di liput kecemasan. Dia memeluk tubuh Endang karena ketakutan.


"Kamu kenapa, Nisa?" Ratna heran dengan sikap Anisa.


"Aku takut!"


Bagi Anisa, ini pengalaman pertama menjadi tahanan. Di kurung, kabur dari orang yang mengejarnya. Dan sekarang tersesat di tengah hutan. Sungguh menegangkan, kalau dia bisa memilih dia tidak mau terlibat dengan dua wanita yang baru dia kenal.


Nisa pun memilih melancarkan aksinya sendiri. Diam-diam dia berjalan mundur menjauhi kedua temannya. Dalam hatinya dia minta maaf pada keduanya.


"Itu dia!" salah satu pengawal melihat Anisa yang berlari. Anisa tak peduli dengan teriakan pengawal yang mengejarnya. Dia terus berlari dari kejaran mereka.


"Hei, kamu mau kemana!" Salah satu pengawal berdiri tak jauh dari dirinya. Anisa masih berusaha menyelamatkan diri. Dalam bayangannya tawa kebahagiaan orang tuanya, calon suaminya dan keluarga besarnya. Dia berlari sambil menahan tangisnya.


Grep!


"Lepaskan saya!" amuk Anisa. Tawa dari para pengawal sambil menggeret Anisa. Disertai suara Anisa yang meronta-ronta.


Ratna dan Endang yang sudah lebih dahulu diamankan mendengar suara Anisa menangis meraung minta dilepaskan. Mereka bertiga hanya bisa pasrah ketika digiring ke dalam mobil.


"Kami mau dibawa kemana?" kata Ratna.

__ADS_1


"Ketempat kalian seharusnya." jawab Adit.


"Kalian mau apa dari kami?" Endang ikut bicara.


"Mau kami pertemukan dengan atasan kami. Dia sudah menunggu kalian." jawab salah satu pengawal.


"Mampus kalau bertemu Bu Raya lagi" gumam Endang dalam hati.


"ibu, ayah maafkan aku. Mas Hazar, maafkan aku." gumam Anisa dalam hati.


"Sebentar lagi kita akan tamat di tangan Bu Raya" gumam Ratna dalam hati.


"Tidak!" suara Endang memecahkan keheningan.


"Kita kenapa takut dengan Bu Raya! dia yang bayar aku dan Ratna untuk menjatuhkan Laras. Berpura-pura menjadi Famili Laras, menjual rumah Laras kepada bu Raya. Memfitnah Laras punya hubungan dengan Adul. Padahal Laras sangat baik dengan kita.


Kalau kita terus terang pada pihak yang berwajib, bukan kita saja yang kena. Bu Raya juga akan terseret. Jadi kenapa kita harus takut sama dia."


Anisa kaget ternyata dua wanita tersebut juga suruhan Bu Raya Pattimura. Dua wanita itu juga di suruh untuk menyingkirkan menantunya. Dari tangan yang terikat di belakang, Anisa hanya bisa mengepalkan tangan. Jelas kalau mereka bertiga dimanfaatkan Bu Raya untuk kepentingannya.


"Benar kata Bu Endang, kenapa harus takut dengan wanita itu. Dia yang bayar kami, jadi kalau kami terseret dia pun akan kena juga."


Mobil berhenti ke sebuah tempat. Sebuah rumah kecil yang masih jauh dari jangkauan penduduk. Malam semakin larut, namun mereka bertiga tidak merasakan kantuk sekalipun. Rasa kantuk mereka berperang dengan rasa tegang yang mereka rasakan.


"Bagaimana?" sebuah suara laki-laki terdengar mendatangi ruang dimana mereka kembali di kurung.


"Ada pak, mereka aman." adu salah satu pengawal.


"Terimakasih." Langkah kaki itu semakin dekat. Baik Endang, Ratna dan Anisa ikut penasaran siapa yang masuk ke ruangan mereka.


"Selamat malam, bagaimana keadaan kalian? apakah kalian bisa tidur nyenyak setelah apa yang kalian lakukan pada Laras." Lelaki itu berdiri di dekat ketiga wanita itu.


"Siapa kamu?" Tanya Ratna.


"Saya adalah suami Laras, Rangga Baratayudha." Rangga hanya tersenyum kecil melihat pucat nya wajah ketiga wanita itu.


Ketiga wanita kaget kenapa ada suami Laras. Rangga menarik dagu mereka satu persatu. Dia ingin menatap orang-orang yang terlibat rencana sang mama.


"Kamu tahu kenapa saya membawa kalian ke vila saya." Ketiganya hanya mengangguk pelan. Tentu saja mereka akan diadili, mereka menipu Laras dengan mengaku saudara, mereka dibayar untuk memblokir akses rekening milik Laras.

__ADS_1


"Saya bisa saja membawa kalian ke kantor polisi jika mau. Tapi karena saya memikirkan perasaan istri saya. Maka saya akan memutuskan untuk mempertemukan kalian dengan Laras. Biar dia yang memutuskan apa yang akan kalian dapatkan. Dan satu lagi, saya minta kalian mau bekerja sama." kata Rangga.


.......


__ADS_2