Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Positif


__ADS_3

Laras membuka matanya perlahan-lahan. Terasa berat sekali kepala untuk di ajak kompromi. Tangannya memegang pegangan ranjang. Pegangan? Laras menoleh kanan kiri melihat dimana dirinya berada. Ternyata masih dirumahnya.


Tampak sebuah tangan menuntunnya untuk melipatkan tubuhnya. Di sandarkan dengan dipan ranjang berukuran 160. Sebuah pemandangan ramah menyapa wanita tersebut.


"Kamu sudah sadar?" sapa wanita berjas putih tersebut.


Laras hanya mengangguk lemah. Dia merasa kepalanya sedikit pusing. Untuk bangun pun dia tak punya daya.


"Saya kenapa, bidan Ema?" tanya Laras.


"Selamat ya, Ras. Kamu sedang mengandung. Saat ini kandungan anda berumur 4 minggu. Harus di jaga ya."


Hamil? Aku hamil anak mas Rangga. Aku sekarang seorang ibu. Ya Allah, terimakasih. Engkau telah mengabulkan doaku selana ini.


Terimakasih ya Allah, kau berikan anugerah terindah yang sudah dua tahun ini kami tunggu-tunggu.


"Selamat ya, Ras. Kamu akan jadi ibu." Ucap Eva.


Laras tak bisa mengendalikan rasa bahagianya. Bulir air matanya menetes membasahi pipi bulatnya. Dia senang akhirnya diberi kepercayaan sosok malaikat kecil dalam rahimnya. Tak sesaat dia sedih, tak bisa membagikan kebahagiaan ini bersama suaminya.


Mas Rangga, dimanapun kamu berada. Aku yakin kami sedang berjuang untuk sembuh. Aku yakin kamu juga bahagia mendengar berita ini. Kita akan punya anak, mas. Mama Raya pasti tidak akan membenciku. Tapi maaf,mas. Untuk saat ini aku belum bisa pulang kesana.


Laras terus bermonolog berharap ada keajaiban dari suaminya. Eva melihat perubahan wajah Laras pun paham kalau sahabatnya pasti sedih. Perempuan manapun pasti ingin saat-saat hamil ada suami disampingnya. Tapi kenyataannya Laras harus menjalaninya tanpa suami, semua orang tahu kalau suami Laras sedang koma.


"Ras," sapa Adul.


"Iya, Dul." Jawab Laras.


"Selamat, ya. Kamu akan jadi ibu. Kamu tenang saja semua kebutuhanmu biar aku yang urus. Anggap saja latihan kalau nanti punya istri yang sedang hamil."


"Nggak usah, Dul. Aku masih punya tabungan. kamu nggak perlu repot-repot bantu kebutuhanku."


"Nggak papa, Ras. Aku ikhlas." Dul hanya tersenyum kecil saat Laras menolak bantuannya.


"By the way, terimakasih kalian masih meluangkan waktu buat aku. Maaf ya, kalau sudah merepotkan kalian."

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Ras. kita ini sahabat, jadi selalu ada saat dibutuhkan, kamu juga sudah banyak membantuku. Ibumu juga banyak berjasa di keluargaku. Jadi tidak ada kata merepotkan. Pokoknya kamu jaga Rangga kecilmu, kalau soal jualan biar aku yang urus."


"Laras sebaiknya istirahat. Ini vitamin buat ibu dan buku KIA nya" sapa bidan Ema menyerahkan buku berwarna pink pada Laras.


"Terimakasih, bidan Ema."


"Sama-sama."


Bidan Ema akhirnya meninggalkan kediaman Laras. Adul mengantarkan bidan Ema sampai depan pintu pagar rumah Laras. Bidan Ema tahu kalau Adul masih ada rasa sama Laras. Dia menebak hal itu ketika melihat perhatian lelaki itu pada Laras. Walaupun semua orang tahu, suami Laras sedang sakit.


"Dul,"


"Iya,kak."


"Maaf kakak mau nanya? kamu masih cinta sama Laras? kamu kan tahu Laras itu masih istri orang."


"Kak, aku hanya membantu Laras sebagai sahabat. Itu saja tidak lebih."


" Tapi yang aku lihat beda, Dul. Sebagai sepupu kamu, aku hanya bisa menyarankan agar kamu bisa membedakan mana teman mana cinta."


Siang ini cuaca terasa terik. Seketika kabar kehamilan Laras menjadi sorotan orang-orang sekompleks. Bukan soal dapat gunjingan, melainkan empati mereka pada Laras, apalagi setelah Eva bercerita pada para tetangga bagaimana Laras diperlakukan oleh mertuanya. Banyak yang kasihan saat mendengar cerita tentang Laras dari mulut Eva. Siang ini menjadi ladang berkah buat Laras, beberapa orang yang menjenguk sambil membawa bahan masakan, makanan instan dan uang.


"Terimakasih, Bu Farida. Tapi uang saya masih cukup untuk kebutuhan saya dan anak saya."


"Kamu terima sajalah, uang kamu disimpan saja, nanti kalau perutmu semakin besar, kebutuhanmu semakin tinggi."


Laras menatap para tetangganya yang sudah banyak membantunya.


"Saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya buat ibu-ibu. Saya tidak tahu bagaimana membalas budi pada kalian."


"Kamu cukup mendidiknya menjadi anak yang baik. Itu saja keinginan kami." Sahut Bu Celi.


"Kamu jangan pulang ke rumah mertuamu, Ras. Apalagi suamimu tidak ada di rumah. Kamu cukup kasih tahu mereka kalau kamu mengandung cucu mereka. Saya jamin mereka akan sedikit luluh. Biasanya kalau seorang mertua mendengar ada calon cucunya di rahim menantunya, mereka pasti akan baik sama kamu." cetus Bu Farida.


"Bu, Farida kenapa bilang begitu?" Laras bingung kenapa tetangganya tahu soal dirinya dan sang mertua.

__ADS_1


"Itu karena mereka simpati sama kamu, Ras. Sudah kamu jangan banyak tanya, kalau saran aku lebih baik jangan ke sana dulu. Kalau kamu kesana sama saja menelan ludah sendiri." cetus Eva.


Hati Laras terasa sangat hangat. Melihat kebaikan tetangganya pada dirinya. Tak ada sikap mereka yang mencemoohkan dirinya. Semua yang dirumah duduk mengitari ranjang di kamar Laras. Saling berbagi pengalaman tanpa menyinggung perasaan Laras.


Saat ini semua sudah pulang. Hanya Eva dan Cici yang tak lepas dari gendongan ibunya. Suami Eva bekerja sebagai ojek pengkolan, kalau malam suaminya kerja di siomaynya mang ayong yang mangkal di kompleks sebelah. Maka itu, sejak Laras kembali ke rumah, Eva lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Laras. Terkadang Yudi, suami Eva makan dirumah Laras sambil menjemput istrinya.


Laras memandang perutnya. Serasa jantungnya berhenti ketika mengingat keadaannya dan suaminya. Haruskah dia ke Jepang menyusul suaminya. Tapi darimana dia mendapatkan biaya untuk kesana. Memang Rangga selalu menyisihkan gajinya perbulan 15 juta, namun sebagian sudah terpakai untuk usahanya. Dari uang simpanannya, Laras berencana akan menyewa ruko untuk usahanya.


"Aku akan jadi ibu, mas. Kamu akan jadi ayah, kita akan menjadi keluarga yang sempurna."


"Kamu akan jadi ibu, Ras." Sahut Eva seakan paham isi hati temannya.


"Kamu pulang saja, Va. Yudi pasti menunggumu."


"Enggak, Ras. Yudi nanti kesini jemput aku. Nggak apa-apa kan, Ras kalau aku sering di sini.


Aku minta kamu jangan pulang sama mereka, Ras. Mereka nggak akan menerima kamu lagi. Aku nggak mau mereka menginjak kamu lagi. Kalau mereka perhatian sama kamu, kenapa sampai sekarang mereka nggak ada yang jenguk kamu. Katanya papa mertuamu baik sama kamu, tapi nggak ada datang nengokin kamu."


klik


Sudah seminggu Laras menikmati masa kehamilannya. Dia bermaksud memberitahukan keadaannya pada keluarga suaminya. Menurut Laras mereka harus tahu ada calon cucu mereka di rahimnya. Meskipun Eva terus mewanti-wanti agar dirinya tidak datang kesana. Laras rela menelan ludahnya sendiri asalkan mereka memberitahukan dimana keberadaan suaminya.


Laras akhirnya mendatangi kediaman mertuanya dengan menggunakan grab. Mobil berwarna silver tersebut melaju cepat menyapu jalanan yang masih terlihat sepi. Lama dirinya terhanyut dalam lamunan tak tentu ujungnya. Sebenarnya dia masih ragu untuk datang kesana, tapi entah kenapa rasa ingin tahu kabar suaminya lebih besar dari pada gengsinya.


Sejak lebih dari dua tahun menjadi istri Rangga Barata Yudha, sejak itulah Laras memasuki kehidupan kelas atas di keluarga suaminya. Kesibukannya hanya berpusat di rumah juga kantor suaminya. Rumah yang mau menampungnya dari kemiskinan. Apa itu termasuk dirinya sudah menjadi Cinderella. Tidak, awal pernikahan Laras memang diterima keluarga itu. Namun untuk seterusnya dia tidak lagi merasakan diterima oleh mertuanya. Mata Laras berubah sendu mengingat perjalanan rumah tangganya.


Belum beranjak dari ingatannya bagaimana suaminya rela tinggal di kompleks kecil milik orangtuanya. Suaminya yang tidak pernah menimba air di sumur sekarang harus melakukannya. Belum beranjak dalam ingatannya bagaimana Oma Gladys memperlakukannya seperti cucu sendiri. Laras menangis meratapi nasibnya.


Laras yang saat itu masih di buai surga dunia oleh suaminya. Bagaimana dirinya melaksanakan kewajiban suami istri sebelum kecelakaan itu terjadi. Laras pun tidak menyangka kalau ternyata hari itu adalah kebahagiaan terakhirnya bersama suami. Kakinya melemas ketika mobil grab telah sampai di depan rumah mertuanya.


"Apakah aku masih pantas menemui mereka?" Kekeh Laras.


Laras turun dari mobil menatap rumah besar di hadapannya. Ada rasa keraguan menginjakkan kaki di rumah itu. Seandainya dia tidak pergi saat itu mungkin dia masih bisa menjadi keluarga tersebut. Bisa mendampingi suaminya yang sedang koma. Laras terus merutuki kebodohannya.


"Aku datang memberikan apa yang mereka mau. Ini cara bodohku tapi kalau tidak seperti ini, bagaimana aku bisa tahu kabar mas Rangga."

__ADS_1


__ADS_2