Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Suka dan duka


__ADS_3

Rangga menyalakan mesin mobilnya. Meninggalkan kantor polisi. Sayangnya Raya tidak mau ditemui siapapun, termasuk Rangga dan Donal. Rangga berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran berharga untuk mamanya. Lelaki itu memandang kearah sang istri yang sedari tadi hanya diam.


"Mas," suara Laras terdengar lirih.


"Iya, sayang."


Rangga memposisikan tubuhnya menyamping menatap istrinya. Tangan Rangga menyisir pucuk hijab instan Laras. Apa yang Laras rasakan dia pun merasakannya. Dia paham saat ini ada hantaman yang begitu kuat. Bukan hanya kuat tapi rasanya menusuk jantung. Bukan Laras saja yang merasakan. Dia pun merasakan hal yang sama. Sebagai mana pelaku atau dalang dari masalah ini adalah mamanya.


"Jika kamu ingin menenangkan diri aku antar pulang. Biar Bagas aku yang jemput ke rumah Eva."


"Tidak, mas. Aku ingin jemput Bagas juga setelah itu kita langsung pulang." Laras masih bersikap datar.


Rangga kembali menyalakan mesin mobilnya. Mereka melanjutkan perjalanan. Roda-roda itu menggelinding membelah jalanan kota Jakarta. Tepatnya Jakarta bagian barat. Langit mulai menampakkan semburat jingga. Itu tandanya sang surya akan diganti oleh sang dewa malam.


Waktu menunjukkan pukul empat sore. Sebagian harinya di habiskan di kantor polisi. Dari bertemu dengan tiga wanita yang berkomplot dengan mama mertuanya. Hingga, diminta menjadi saksi atas kasus tersebut.


Setelah beberapa saat menempuh perjalanan jauh. Mereka sampai di rumah Eva. Tampak beberapa orang mendatangi rumah sahabat karibnya. Membuat Laras bingung.


"Assalamualaikum," ucap Rangga dan Laras serempak. Tampak Bu Farida dan ibu-ibu yang lain memenuhi ruang depan rumah Eva. Rangga dan Laras menyalami mereka bergantian.


"Waalaikumsalam," Bu Farida, Bu Ratih dan para ibu-ibu seangkatan ibunya Laras membalas sapaan mereka. Bu Farida mendekati Laras. sambil memeluk wanita yang sudah seperti anaknya sendiri.


"Laras kamu nggak apa-apa, kan?" Bu Farida memeluk anak dari teman baiknya.


"Nggak apa-apa, Bu." Laras masih bersikap tenang.


"Syukurlah, ibu khawatir mendengar berita di tv tadi."


Laras dan Rangga bertukar pandang. Di tv? apakah berita Raya di tangkap sempat di sorot media.

__ADS_1


"Tadi kami lihat di tv tentang kasus mertuamu. Bahkan saat dia di tangkap sambil ngamuk-ngamuk tersorot kamera." jelas Bu Ratih.


Rangga membuka gawainya untuk mengecek terkait berita tersebut. Tubuhnya di hempaskan ke kursi teras rumah Eva. Pikirannya kosong, terlihat dia lebih syok ketimbang Laras.


Laras mendatangi suaminya di teras depan. Tangannya menggenggam erat supaya Rangga tahu. Dia ada disamping lelaki itu. Supaya Rangga tahu, apa yang terjadi sudah garis tangannya.


"Setiap manusia itu pernah berada di titik terendah, mas. Kamu tahu saat aku mendengar kamu melamar Ina saat itu. Aku merasa di hantam batu besar. Harapan yang aku pupuk saat SMP sudah punah.


Saat kamu bersujud meminta menjadi perantara antara kalian berdua. Aku merasa sesak. Angel mencintai kamu secara terang-terangan. dan kamu mencintai Ina dalam diam. Sementara aku mencintaimu dalam diam.


Kamu tahu, mas. Saat mama Raya gencar menjodohkan kita, aku malah pesimis. Karena aku tahu yang ada di hatimu hanya Ina, Ina dan Ina.


Setelah kita menikah aku sudah cukup bahagia hanya dengan kamu saja. Tapi ternyata tidak, mas. Aku harus melewati kerikil tajam yaitu mama Raya. Sosok yang dulu sangat aku kagumi saat bekerja di sana. Tapi ternyata menjadi kerikil tajam dalam rumah tangga kita.


Mas, aku tahu kamu masih kaget dengan semua ini. Sama aku juga. Aku harusnya lebih down karena aku yang korban disini.


Belajarlah untuk meyakini dan selalu ingat bahwa titik terendah di hidupmu itu pasti akan membuatmu tumbuh. Kamu bisa belajar banyak hal dari titik terendah itu. Kamu bisa mendapatkan banyak hikmah yang membuatmu kembali melangkah.


Setelah panjang lebar Laras menjelaskan pada suaminya. Kini wanita itu berpindah ke dalam. Tentu menyapa semua yang ada di dalam ruang tamu. Rumah Eva ruang tamu sekaligus dapur. Tidak ada sekat memisahkan dua ruangan tersebut. Bahkan Wc pun masih berada di area tersebut.


Di belakang rumah Eva ada sumur. Berhadapan langsung dengan jalan kecil belakang rumah. Jalan kecil yang biasa Laras lewati saat berangkat sekolah. Di sumur itulah biasanya Eva melakukan aktivitas seperti cuci piring dan cuci baju.


Laras melihat Eva sedang mencuci piring di dekat sumur. Sementara para tamu masih duduk di ruang tamu Eva.


"Nantilah kita beresin semua ini. Kamu temui tamu dulu." cegah Laras.


"Itu tamu kamu, Ras. Mereka kesini ya karena berita mertuamu. Kamu tahu, Ras. Tadinya mereka datang cuma minta aku nonton televisi. Berita mertuamu masuk viral tiktok sampai ke sorot media."


"Tapi kamu tuan rumah,Va. Kesannya nggak sopan mereka datang kamu sibuk sendiri."

__ADS_1


"Emangnya mereka pernah mikirin aku, Ras! Enggak! daridulu mereka mencari aku cuma mau nunjukin kalau mereka peduli sama kamu. Bukan sama aku! dari dulu, Ras. Bahkan emakku sering kasih kamu makanan enak."


"Va," Laras tercekat mendengar ucapan Eva.


"Selama ini aku tidak pernah berpikir seperti itu sama kamu, Va. Sejak ibuku meninggal dunia kamulah sahabatku, saudaraku yang masih tersisa. Keluargaku.


Tidak pernah aku berpikir membuat kamu merasa asing dalam hidupku. Apa yang aku miliki selalu aku bagi denganmu. Karena apa? karena kita keluarga,Va."


Dalam sebuah hubungan persahabatan tentu ada lika-liku perjalanan. Kadang ada selisih paham yang membuat keduanya saling menjauh. Laras tidak pernah merasa apa yang dia alami membuat Eva terpuruk. Dia tidak pernah lupa berbagi pada sahabatnya.


Eva sesaat berucap istighfar setelah mengeluarkan uneg-unegnya selama ini. Dia sadar tidak sepatutnya menyalahkan Laras karena mendapat perhatian lebih dari orang sekitar. Bukankah seharusnya dia senang jika ada yang perhatian dengan sahabatnya.


Eva langsung memeluk Laras. Dia menyadari ucapannya bisa menyinggung sahabatnya.


"Maafkan aku, Ras. Aku nggak maksud bikin kamu tersudut. Aku juga nggak iri sama kamu. Aku malah senang kalau ada yang perhatian sama kamu."


"Va, sudah tidak perlu di bahas lagi. Aku nggak marah, kok. Aku yang harusnya minta maaf karena membuat kamu berada di situasi sulit. Seperti kataku tadi, situasi yang kita seperti ini. Tapi kamu harus tahu bahwa aku bukan orang yang menyakiti sahabatku." Laras menenangkan Eva.


*


*


*


*


Assalamualaikum semua. Masih disini bersama author receh. Aku harap kalian masih setia mantengin kisah Laras dan Rangga.


Ada yang pengen tahu kabar Mila. Tenang nanti bakal author siapin yang pasti bukan tentang dia merusak hubungan Rangga dan Laras.

__ADS_1


Yang mau request biar aku buatin.


__ADS_2