
Rangga pulang ke apartemen bersama anak dan istrinya. Laras melihat suaminya masih dalam mode diam. Tadi papa Donal menelepon kalau Rangga di suruh pulang ke rumah. Papa kewalahan dengan membeludaknya wartawan di rumah.
"Mas kalau mau pulang ke tempat papa Donal, nggak papa? kasihan papa kewalahan menghadapi wartawan.
Aku dan Bagas di rumah saja. Nggak mungkin kita bawa Bagas ke situasi seperti itu."
Rangga duduk di kursi ruang tamu memandang ke arah handphone. Dimana video tertangkapnya mamanya.
"Selamat pagi, Pemirsa. Kelanjutan dari penggelapan sertifikat rumah atas nama Kumalasari yang dilakukan mantan model senior, Raya Kalendina masih menyisakan tanda tanya. Siapakah Kumalasari, apa motif di balik penggelapan sertifikat rumah tersebut. Hari ini pihak kepolisian masih mengusut motif dibalik kasus tersebut."
Belum selesai video berita itu di tontonnya Rangga langsung mematikan gawainya. Dia masih merasa sesak dengan semua yang terjadi.
"Mas," Laras masih merasa bersalah dengan sikap suaminya.
"Iya, sayang." Rangga menatap istrinya sambil tersenyum. Meskipun Laras tahu senyum itu terkesan terpaksa.
"Kamu marah sama aku soal mama?"
"Tidak. Aku tidak marah, Ras. Hanya saja masih tidak habis pikir kenapa jadi seperti ini."
"Maaf," Laras menunduk.
Rangga menaikkan dagu istrinya. Menegakkan kepala Laras agar berpandangan searah.
"Ini lebih baik, Ras. Semua yang di lakukan mama memang harus ada konsekuensinya.
Jika manusia melakukan suatu perbuatan maka pasti ada konsekuensinya. Karena jika dibiarkan maka yang terjadi bukan pertobatan melainkan kezaliman.
Aku diam bukan karena tidak terima tuduhan mama. Aku bahkan berhari-hari menahan Ratna, Bu Endang dan Anisa demi menegakkan kebenaran. Demi membersihkan nama Istriku yang jelek karena perbuatan mamaku.
Aku minta maaf jika apa yang mama lakukan sama kamu dan Bagas sangat keterlaluan."
Laras hanya menunduk tanpa bicara. Terdengar suara Rangga seperti menangis. Laras tidak tahu apakah ini tangisan sebagai seorang anak atau sebagai seorang suami.
"Mas, sudahlah. Aku sudah memaafkan mama. Tapi soal hukuman untuk mama. Maaf, aku tidak bisa membantu."
"Mas daripada gundah gulana. Lebih baik kamu sholat istikharah. Minta petunjuk pada yang kuasa atas yang terjadi sama hari ini." Bujuk Laras.
Rangga masuk ke kamar mandi untuk berwudhu. Menyerahkan semua yang terjadi pada yang maha kuasa.
Suasana malam begitu sunyi. Waktu dimana di gunakan untuk bersantai dirumah, bahkan mungkin berselimut mimpi. Tapi tidak dengan Rangga, saat ini dia sudah berada di kediaman Pattimura. Menemani papa Donal menghadapi pertanyaan wartawan.
"Bagaimana dengan kasus yang menimpa istri anda?"
"Saya dengar kasus ini berhubungan dengan masa lalu anda dengan wanita yang bernama Kumalasari."
"Apa benar menantu anda terlibat dalam kasus yang menimpa istri anda?"
__ADS_1
Pertanyaan demi pertanyaan terus bergulir. Donal hanya menjawab yang menurutnya penting saja. Kebanyakan pertanyaan yang diajukan di luar kasus. Sampai pertanyaan tersebut menyeret nama menantunya, Laras.
"Dengar ya, jangan kalian mengaitkan semua masalah ke istri saya." Amuk Rangga.
"Tapi apa benar bahwa istri anda yang menjebloskan Bu Raya Pattimura ke penjara?"
"Bukan. Tapi bukti yang memantapkan mama saya sebagai tersangka. Jadi jangan bawa istri saya ke berita kalian."
"Memang Laras yang menjebloskan mama saya ke penjara." Lani muncul di tengah kerumunan wartawan.
Suara lantang Lani mengantarkan bidikan kamera ke arah ibu tiga anak tersebut. Dengan senyum kemenangan dia berjalan di tengah. Lalu memulai semua cerita versi dirinya.
"Tujuh tahun yang lalu ada seorang office girl dibawa ke rumah ini. Di jadi kan pembantu, di perlakukan seperti keluarga. Juga di jodohkan dengan kakak saya, Rangga Baratayudha.
Permintaan mama saya cuma satu, tolong kasih cucu secepatnya. Simpel kan, tapi permintaan itu dianggap Laras sebagai ancaman. Sampai kakak saya bawa istrinya ke Jepang. Karena apa? Karena kakak saya lebih nurut sama istrinya.
Terus ...."
PLAAAAAK!
Sebuah tamparan mendarat mulus di wajah cantik Lani. Tamparan berasal dari suami yang tidak mau istrinya di fitnah. Tamparan amarah sebagai seorang kakak atas kekurangan ajaran adiknya.
"Kenapa kamu malah menceritakan hal yang di luar urusan kasus. Kalau kamu tidak tahu apa-apa lebih baik diam! Jangan memberi statemen lain.
Logika saja kalau kamu di posisi Laras di suruh hamil baru satu bulan menikah, bagaimana rasanya? pikir pake otak!"
"Lani! papa kecewa sama kamu!" Donal meninggalkan para wartawan dan masuk ke dalam rumah bersama Rangga. Termasuk meninggalkan Lani yang masih di kerumuni wartawan.
Beberapa jam yang lalu.
Seorang wanita berjalan melenggang ke sebuah ruangan. Dengan anggunnya dia duduk sambil menunggu sosok yang akan di jenguknya. Sesaat dia mengetuk meja demi menghilangkan kebosanan. Wajahnya kembali sumringah melihat yang di tunggu muncul dengan seragam orange.
"Tante," Sapa wanita itu.
Raya menerima pelukan hangat dari wanita sudah dianggapnya anak sendiri.
"Kenapa bisa begini, Tante?"
Raya hanya diam. Waktu menunjukkan pukul 16. 00. Karena masih dalam hukuman skors dari rumah sakit, Mila bisa bebas pergi kemanapun dia mau. Setelah berita yang dia lihat di sosmed tentang tertangkapnya model senior, Raya Kalendina.
"Terimakasih kamu menyempatkan datang menjenguk Tante. Mama kamu apa kabar? sudah sehat?"
"Alhamdulillah, Tante. Mama sudah membaik. Sudah beraktifitas seperti biasa. Tante kenapa bisa begini?"
"Mila, kamu mau menuruti permintaan Tante?" Mila lama merespon ucapan Raya.
"Pasti Tante Raya minta aku menjaga Rangga. Atau mungkin minta aku menikah dengan Rangga." batin Mila.
__ADS_1
"Apa itu, Tante? kalau itu amanat dari Tante akan aku lakukan?" jawab Mila mantap.
"Termasuk soal Rangga?"
Mila menggangguk. Dengan harapan besar Raya dimendesaknya menikah dengan Rangga.
"Mila, Tante minta kamu cari kebahagiaanmu sendiri. Carilah lelaki yang mencintai kamu apa adanya."
"Maksud Tante?"
"Mila, lupakan Rangga. Dia sudah bahagia bersama Laras. Sekuat apapun kamu mendekati Rangga. Dia tidak akan pernah berpaling dari Laras. Jadi tante harap kita masih bisa menjalin tali silaturahmi meskipun kamu tidak jadi menantu saya."
Mila kaget. Tentu saja ada rasa sesak yang menderanya. Harapan yang tinggi jatuh seketika. Orang yang dia harapkan bisa memberi dukungan penuh malah memintanya mundur.
"Kenapa Tante baru bilang sekarang? kenapa saat harapan itu sudah melambung tinggi, Tante malah membuatnya terhempas."
"Maafkan, Tante, Mila. Maafkan saya sudah memberimu harapan palsu. Disini Tante memang salah.
Tante selama ini egois karena tidak memikirkan perasaan Rangga. Karena kekesalan saya pada Laras yang saat itu tidak kunjung hamil, karena saya masih di bayangi kecemburuan pada mendiang ibunya Laras."
Mila meninggalkan ruang jenguk lapas. Ada rasa kesal dan kecewa. Orang yang di harapkannya memberikan dukungan malah mematahkan hatinya. Setelah duduk dalam mobil Mila menghirup nafas dalam-dalam.
Sesaat dia terhenti ketika merasakan gawainya bergetar. Dahinya mengkerut saat melihat asal dari pemilik nomor.
"Dokter Indra? ada apa dia menghubungi aku?"
"Halo, assalamualaikum." Mila mengangkat telepon dari teman sejawatnya.
"Mila, kamu bisa datang ke rumah sakit?"
"Ada apa, kak Indra? bukannya saya sedang di skors. Saya tidak mau mengambil resiko fatal kalau melanggarnya."
"Kami disini kekurangan personel untuk operasi katarak. Saya sudah minta izin sama pak Rahmat. Saya tunggu kamu sekarang. Operasinya sehabis magrib."
"Saya sedang di luar, kak. Jadi saya harus pulang dulu mengambil pakaian kerja."
Mila melirik jam, sekarang jam lima sore. Itu artinya dia masih banyak waktu untuk pulang lalu ke rumah sakit.
Mila melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin cepat sampai di rumah. Rasa sedihnya terobati dengan panggilan dari rumah sakit.
Tak jauh dari posisi mobil Mila, tampak seorang lelaki dan anak kecil membawa gerobak jualan. Dari arah berlawanan ada motor yang mencoba menyalip mobil Mila.
Semua yang terjadi tak terelakkan. Fokus Mila buyar saat motor tersebut masih berusaha menyalip. Mila pun dengan nekat ingin memutar arah. Sayangnya dia tidak melihat adanya gerobak yang akan melintas. Langit pun gelap. Seakan menumpahkan air matanya.
Gerobak terseret bersama pemiliknya. Terseret karena tumburan dari mobil Mila. Mila mengecek keluar dari mobil. Kedua nyawa itu entah masih hidup atau tidak.
Mila berlari ke dalam mobilnya. Di rasa tempat itu sepi dia berharap tidak ada yang tahu kejadian itu.
__ADS_1
"Lebih baik aku pergi dari sini. Daripada nanti ada yang melihat bisa hancur reputasiku."
Mila kembali melajukan mobilnya. Meninggalkan korbannya di tengah jalan.