
Udara cottage terasa sangat dingin menusuk pori-pori kulit menembus tulang. Membuat manusia yang merasakannya kembali menarik selimutnya. Membuat mata bening itu mau tidak mau memejamkan matanya. Sayangnya, itu tak mempan, bukannya dia bisa tidur nyenyak malah semakin tak bisa tidur. Tangannya meraba disampingnya, kosong. Tak ada suaminya, entah kemana lelaki jangkung itu meninggalkannya sendirian.
Laras mengambil bajunya, setelah semalam dia dan Rangga bertempur tanpa jeda. Setelah sekian lama mereka terpisah dan tidak merasakan malam yang hangat itu.
"Mas Rangga kemana sih? masa aku ditinggalkan sendirian.
Ah mungkin dia tidur sama Bagas. Kan biasanya begitu."
Laras beranjak dari kasur. Silaunya sinar matahari menembus kain gorden di cottage. Dia baru sadar kalau pagi kembali menyapa bumi. Dengan cepat menyambar handuk untuk membersihkan diri.
Sebelum itu Laras menemui Bagas, yang dirasanya pasti belum bangun.
Ceklek!
Kamar Bagas pun kosong. Laras memutar setiap sudut ruangan cottage mencari putra semata wayangnya. Sayangnya yang di cari tak kunjung menampakkan diri.
"Apa mungkin jalan-jalan sama mas Rangga? bisa jadi, sih. Yasudah lah, aku mandi dulu." Laras pun masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Kamar mandi cottagenya memiliki shower tanpa bak mandi.
Setelah membersihkan diri Laras pun keluar kamar untuk berjalan-jalan di sekitar cottage. Suasana cottage yang sepi membuat siapapun yang disana cocok untuk menenangkan diri.
"Laras," suara sapaan itu sangat Laras kenal.
"I..Na," ada rasa tidak percaya sahabatnya itu berdiri di depannya. Ada rasa tidak percaya kalau Ina menyapanya dengan ramah. Sama seperti beberapa tahun yang lalu.
"Ras," Ina berjalan mendekati Laras dengan perut besarnya. Wajah Ina yang sendu dan sembab, wanita itu memeluk Laras.
__ADS_1
"Na, kamu?"
"Laras maafkan aku. Karena selama ini aku terlalu percaya dengan cerita Tante Raya. Aku nggak nyangka Tante Raya sejauh itu melakukannya. hanya untuk mengadu domba kamu dan kak Rangga. Padahal tanpa di adu domba pun kak Rangga tetap setia sama kamu."
"Jujur saja aku sebenarnya kecewa sama kamu, Na. Semua orang terdekatku percaya sama aku, Mereka menguatkan aku saat down ketika mas Rangga tanpa kabar. Aku berjuang sendiri membesarkan Bagas. Aku .."
"Ras, maafkan aku. Aku tahu yang aku lakukan kemarin salah. Menjauhimu padahal kak Rangga saja bisa menerimamu."
"Sudahlah, Na. Yang lalu biarlah berlalu. Aku juga tahu kok kamu kena hasutan mama Raya. Dan aku selalu berharap ada masanya semua yang lalu dijadikan pelajaran berharga."
" Ini sudah berada bulan,Na?" Laras memegang perut Ina yang membesar.
"Masuk sembilan,Ras. Katanya ini cewek." jawab Ina sedikit menyusutkan hidungnya.
"Iya," Terdengar helaan nafas berat dari Ina.
"Apa ada yang menghimpit pikiranmu?" tanya Laras.
"Mereka mau menamai anakku dengan nama mendiang bundanya Shasa." Jawab Ina menunduk.
"Apa Alam yang menginginkan nama itu?" Ina menggeleng.
"Justru kak Lia yang mau memberi nama itu. Aku keberatan karena tak mau lagi pernikahan masih di bayangi sosok Gita."
"Na, apa arwah Gita masih mendatangimu?" Ina menggeleng.
__ADS_1
"Sejak aku menikah Gita tidak pernah menampakkan diri lagi." Laras menggenggam erat tangan sahabatnya itu. Keduanya saling melemparkan senyuman melupakan semua yang terjadi diantara mereka.
"aku rindu masa ini, Ras."
"Sama aku juga," Jawab Laras
Ina dan Laras duduk di pinggir pantai, mereka menikmati suara ombak di pantai dan tampak burung-burung berterbangan menari-nari di atasnya. Keduanya tersenyum memandang tarian burung sebagai keindahan yang tiada tara.
Duduk beralaskan pasir pantai, keduanya membiarkan baju mereka basah dan kotor di terjang ombak kecil. Air pantai bergoyang berlahan dari tengah, membentuk ombak dari besar hingga mengecil serta melebur ke pasir pantai.
Dari kejauhan dua pasang mata memandang kearah mereka. Salah satu mereka malah tersenyum kearah dua wanita tersebut. Salah satu dari mereka malah menatap beda ke arah sosok yang disampingnya.
Rangga memandang kedua wanita tersebut sambil senyum-senyum sendiri. Mengingat keduanya adalah masa lalu dan masa depannya.
"Andai waktu di putar..." Rangga menghentikan ucapannya.
"Andai waktu di putar dan andai kak Rangga dan Ina bukan saudara sepersusuan. Mungkin kita masih jadi rival sampai sekarang. Ada hikmahnya kalian tidak jadi menikah." sahut Alam.
"Heeeh, iya. Ambil saja hikmahnya. Andai wajah Ina tak mirip mendiang istrimu mungkin tidak ada cerita kekasihku menantuku. Dimana seorang menantu yang jatuh cinta pada adik mertuanya. Ya kan?" singgung Rangga.
"Hehe, nggak juga sih, kak. Pada dasarnya cinta itu datang tanpa diminta."
"Iya, aku percaya." Rangga dan Alam berjalan mengitari pantai. Sambil memantau ketiga buah hati mereka bermain.
Sesaat mereka memejamkan mata menikmati hembusan angin yang menyapa kulit tubuhnya. Matahari semakin terik, dan udara mulai meninggi. Sangat cocok untuk bersantai di pinggir pantai.
__ADS_1