
"Assalamualaikum," suara bariton terdengar di depan pintu kediaman Rahim Junaidi.
Yana yang mendengar suara panggilan di depan pintu rumahnya itu pun beranjak dari sofa ruang tengah. Wanita usia 59 tahun itu mengenakan kemeja navy sepanjang lutut di padu dengan celana berwarna senada. Rambutnya masih hitam tidak lebat dan tidak tipis. Dengan make up natural tidak melunturkan kecantikannya.
Yana berjalan membuka pintu depan rumahnya. Sesaat aksinya di serobot oleh asisten rumah tangganya. Wanita muda sepantaran putranya itu membuka pintu utama kediaman majikan.
"Maaf, Bu. saya tadi dari WC," jawab asistennya.
"Yasudah, kamu ke belakang. Buat bubur untuk menantu saya." titahnya.
Suara ketukan pintu kembali terdengar. Diiringi salam sebagai pembuka pertemuan. Yana pun membuka pintu rumah. Yana melihat lima orang lelaki berjaket hitam dengan merek turn back crime. Kedatangan pasukan tersebut membuat dirinya mengkerutkan dahi.
"Maaf ini kediaman bapak Rahim Junaidi?" sapa salah satu petugas tersebut.
"Iya, benar. Ada apa ya? apa suami saya melakukan kesalahan?"
Yana bertanya seperti itu karena menebak dari pakaian sudah membuktikan kalau tamunya dari kepolisian.
"Bisa bicara penting? ini tentang kecelakaan yang dialami saudari Camila Rengganis. Menurut informasi yang kami dapatkan, kalau saudari Mila tinggal disini."
"Iya, pak. Oh, maaf silahkan masuk. Kita bicarakan di dalam saja." Yana mempersilahkan tamunya untuk masuk.
Para petugas tersebut akhirnya memasuki kediaman mertua Mila. Yana mempersilahkan tamunya untuk duduk di kursi tamu. Dia pamit untuk ke dapur sebentar. Tentu saja untuk menginstruksikan pada asistennya menghidangkan jamuan untuk tamunya.
"Maaf, apa kedatangan anda ada kaitannya dengan kecelakaan menantu saya?" Yana duduk diantara para tamunya.
"Benar, ini ada kaitannya dengan kecelakaan saudari Mila. Disini saya menemukan kotak hitam sebelum kecelakaan tersebut. Dari kotak hitam tersebut, saudari Mila seperti orang ketakutan sedang di kejar seseorang. Namun kami belum menemukan siapa yang sedang mengejar menantu anda."
"Astaghfirullah, terus bagaimana cara menemukannya, pak. Ini harus di usut tuntas. Saya yakin pasti ada yang ingin mencelakai menantu saya. Usut tuntas, pak. Menantu saya juga butuh keadilan."
"Akan kami usahakan, Bu. Tapi kedatangan saya kesini juga punya tujuan lain. Masih berkaitan dengan video yang kami temui di kotak hitam mobil saudari Mila."
__ADS_1
Yana merapikan cara duduknya. Demi mendengar apa yang akan di kabarkan petugas kepolisian. Dia pun juga penasaran dengan temuan lain dari kejadian menantunya.
"Kami menemukan kasus tabrak lari dari mobil saudari Mila. Kalau di lihat dari tanggalnya sudah sebulan yang lalu kejadiannya. Jadi kami mau bertemu saudari Mila untuk keterangan masalah ini. Kami juga menemukan laporan terkait kasus tabrak lari ini."
Yana menelan salivanya, sepertinya ini kasus yang berat. Yana meminta tamunya menunggu karena akan menghubungi anaknya.
Yana masuk kedalam untuk menelepon Fadli. Jujur kalau tahu ada kasus tabrak lari, dia tidak akan mau menampung Mila. Yana malah takut akan berimbas pada reputasi suaminya yang akan maju sebagai calon bupati.
"Ada apa, ma?" suara Fadli mengangkat telepon mamanya.
"Kamu pulang sekarang, mama mau ngomong penting."
"Aku belum jadwal pulang, ma. Masih banyak kerjaan di rumah sakit. Mama mau ngomong apa? nanti saja pas aku pulang. Kak Mila bagaimana keadaannya?"
"Dirumah sedang ada polisi, mama nggak mau tahu sekarang kamu pulang. Mama nggak mau berurusan dengan polisi, nanti kalau ada lawan papa mu bisa berabe."
"Iya, ma. Aku pulang." Fadli menutup teleponnya.
Bibi meletakkan makanan yang tidak di sentuh Mila. Yana melihat makanan yang mendengus kesal. Ada sesal dia sudah menampung Mila. Entah kenapa setelah mendengar kasus Mila rasa simpatiknya hilang.
"Iya, Bu."
"Yasudah kamu makan saja. Masih enak dikasih makan, banyak tingkahnya." omel Yana.
"Ibu ngomong apa? bukannya ibu sayang banget sama non Mila?" bibi bingung dengan perubahan sikap majikannya.
"Kamu kerja lagi sana! nggak usah ikut campur urusan orang!" ucap Yana.
"Si ibu kenapa, ya?" batin bibi.
Yana masuk ke kamar Mila. Tampak Mila berbalik dengan kursi roda. Dia mendengar ada yang masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"Siapa itu?"
"Mama Yana,"
"Oh, mama. Silahkan duduk, ma."
"Di luar ada polisi yang nyari kamu. apa kamu mau menemui mereka?"
"Polisi?" Mila mendadak pucat mendengar nama itu.
"Iya, mereka mengusut soal kecelakaan yang kamu alami."
"Owh, mama mau antar Mila menemui mereka."
"Oke." Yana menuntun kursi roda Mila menuju ruang tamu.
Tampak para polisi yang sedari tadi menunggu menoleh kearah Mila dan Yana.
"Ini pak, menantu saya yang bernama Mila. Dia buta dan lumpuh setelah kecelakaan itu. Kalau bapak mau mengorek informasi dari dia silahkan."
Kalau benar dia bersalah saya dengan suka rela membantu membujuk dia untuk menyerahkan diri. batin Yana.
"Benar anda yang bernama Camila Rengganis?" tanya petugas kepolisian.
"benar, pak." jawab Mila mantap.
"Oke, saya butuh keterangan anda. Bisakah ikut kami ke kantor polisi."
"Keterangan apa, pak?" tanya Mila.
"Soal kecelakaan yang anda alami dan soal tabrak lari yang anda lakukan. Bisa? kalau anda mau kooperatif kami tidak akan menahan anda."
__ADS_1
"Baiklah, pak. Saya ikhlas kalau bapak semua mau menahan saya. Karena ini murni keteledoran saya." salah satu petugas polisi menuntun kursi roda.
"Mama terimakasih sudah menampung saya. Maafkan Mila kalau sudah merepotkan mama. Pak, ayo kita ke kantor polisi. Saya siap memberikan kesaksian."