
"Kakak tahu kenapa aku bisa diperlakukan seperti itu? itu karena kakak! kalau saja kakak tidak mandul! semua orang tidak akan mencemooh aku!"
"Raya!"
"Dengar, kak. Aku akan hidup bahagia bersama Aryo. Aku akan patahkan ucapan orang soal mandul keturunan. Bagaimana pun caranya aku harus bisa hamil!" tatapan wajah Raya penuh dendam.
"Sayang kamu jangan begitu. Apapun masalahnya kak Alya itu saudaramu. Kalian sedarah." Aryo masih berusaha sabar dengan sikap Raya.
"Maaf, mas. Maafkan aku, kak Alya. Aku saat ini terkepung rasa kekecewaan yang mendalam. Kakak tahu setiap mama Esmeralda memojokkan aku, dia selalu bilang aku bibit mandul. Karena kakakku belum bisa punya keturunan. Maafkan aku, kak." Isak Raya.
Alya memeluk sang adik yang masih terguncang dengan apa yang terjadi barusan. Sebagai kakak dia juga tidak tega adiknya di perlakukan seperti itu. Meskipun mereka orang miskin, tapi juga punya harga diri.
"Kita pulang, ya. Ibu pasti senang bertemu kamu, Dik." Raya menyeka air matanya dituntun oleh suaminya, masuk ke dalam mobil sedan kecil.
Beberapa saat mereka sudah sampai di sebuah rumah kecil. Tampak seorang wanita sedang duduk di teras rumah. Rumah kecil milik mertua Alya, kini mertuanya sudah meninggal dunia. Apalagi suami Alya adalah seorang pelaut yang pulangnya tak menentu. Maka itu Alya membawa ibunya untuk tinggal bersama. Suaminya tak keberatan dengan permintaan istrinya.
"Ibuuuu!"panggil Raya memeluk sang ibu.
"Ra..ya," suara wanita itu terdengar terbata-bata. Tangannya yang berkerut membelai pucuk rambut anak bungsunya.
"Iya, Bu. ini aku. Maafin Raya baru sempat nengokin ibu sekarang."
"Nggak apa-apa,nak. Kamu sehat-sehat saja kan, nak. Kamu kesini sama siapa?" Raya baru menyadari kalau ibunya sudah tidak bisa melihat lagi.
"Sama mas Aryo, Bu." Raya mengkode suaminya untuk menyalami ibunya.
Wanita paruh baya itu meraba pucuk rambut menantunya. Terbit senyum penuh kesejukan di wajahnya. Aryo memposisikan duduk di sebelah ibu mertuanya. Lelaki itu menggenggam erat tangan wanita di sampingnya sebagai rasa hormatnya.
__ADS_1
"Bu, ini aku Aryo. Saya datang kesini mau nengokin ibu. Ibu apa kabar?"
"Alhamdulillah, nak. Kabar ibu baik. Ibu senang kamu dan Raya mau main kesini. Ibu sudah mulai tak bisa melihat lagi, maklum saya sudah tua, nak." kata ibunya Raya.
"Raya, kamu mau kan tinggal disini untuk sementara." Ajak Alya.
"Anu ... kak ... maaf kami akan kejakarta. Kamu akan hidup mandiri. Aku sebenarnya mau disini tapi, kalau kami disini, Bu Esmeralda bakal buat macam-macam lagi." Raya berbicara sambil menatap Aryo. Lelaki itu memandang istrinya dengan penuh arti. Seakan tidak setuju dengan ucapan istrinya. Dia memang ingin mandiri, tapi apa harus menjadikan ibunya sebagai alasan.
"Sayang biar sementara ini kita disini dulu. Sembari aku mencari uang tambahan untuk kita berangkat. Masalahnya tabunganku ada di rumah. Aku belum bisa main muncul saja di depan mama." ucapnya pelan.
"Sebenarnya ada apa?" suara sang ibu mengagetkan pembicaraan mereka.
"Nggak ada apa-apa, bu. Mereka hanya berdiskusi soal rumah tangga saja." kilah Alya. Dia merasa tidak enak menyembunyikan kalau sang adik pergi dari rumah mertuanya.
"Iya, Bu. Kami nggak ada apa-apa, kok." sambung Raya yang mendapat kode dari sang kakak tertuanya.
Raya dan Aryo beberapa hari saja tinggal bersama kakak dan ibunya. Karena tekadnya ingin mandiri bahkan suaminya pun kalah suara. Maka mereka pun mantap merantau ke Jakarta. Aryo yang anak orang kaya pun tak membawa harta apapun kecuali yang ada di badan.
Dua bulan kemudian Raya hamil, tentu saja suaminya sangat senang. Lelaki itu semakin giat bekerja untuk persiapan kandungannya.
Hingga saat memasuki bulan ketiga, rumah tangga mereka kembali di usik dengan masuknya Esmeralda ke rumah tangga mereka. Dimana wanita itu mengaku sudah jatuh miskin, harta ayahnya habis.
Esmeralda berubah sayang seketika saat tahu Raya sedang mengandung. Dia berusaha mengatur apa yang bagus di makan serta apa yang bagus di kerjakan ibu hamil. Raya senang kalau mama mertuanya berubah menjadi baik. Seperti kata orang, anak adalah jembatan silaturahmi. Sekarang hal itu terjadi pada dirinya dan suaminya.
Pada akhirnya semua kembali ke yang diatas. Jika memang rezeki takkan kemana. Namun sepertinya rezeki itu belum mengalir pada Raya dan Aryo. Di usia kandungan raya yang sudah empat bulan, bayi mereka meninggal dunia. Raya mengalami keguguran saat sedang membersihkan rumah. Tentu saja, Esmeralda gusar dan kembali menyalahkan Raya.
"Dasar menantu nggak berguna! kan saya sudah bilang jaga cucu saya. Aaaarrrrg!"
__ADS_1
"Maaf, ma." isaknya.
"Ma, ini takdir. Jangan salahkan Raya. Aku yang salah karena tidak bisa menjaga Raya. Seharusnya aku di rumah."
"Kamu itu harus kuliah Aryo! biar bisa cari kerja. Bukan malah menempel jadi baby sister istri kamu.
Mama saja dulu bisa mandiri tanpa harus manja dengan suami. Sudah! kamu jangan bela dia terus! lama-lama kamu jadi suami takut istri." omel Esmeralda.
"Maaf, ma. Ini rumah tanggaku jadi aku yang berhak atas Raya. Jadi mama jangan ikut campur!" amuk Aryo.
Esmeralda melihat kemarahan putranya hanya bisa diam. Saat ini dia tidak punya kekuatan untuk berkuasa karena takut diusir. Hanya Aryo saat ini menjadi tumpuan harapannya.
Waktu terus berputar, perjalanan rumah tangga Raya dan Aryo berjalan bahagia. Aryo bahkan mengizinkan Raya bekerja supaya tidak bosan di rumah. Apalagi Raya sering melamun kala teringat bayinya. Hal itu semakin membuat Aryo tidak tega.
Beberapa tahun kemudian, lahirlah Rangga sebagai penambah kebahagiaan mereka. Raya yang saat itu sudah ikut dunia modelling terpaksa menunda kegiatannya. Apalagi dirinya berada di puncak karir. Sedang laris manisnya.
Semenjak bekerja, Raya sikapnya berubah. Bukan Raya yang dulu lembut dan nurut sama suami. Tapi Raya yang sudah merasa besar dan bisa punya penghasilan sendiri. Memang bagus, sih. Tapi Raya dan Esmeralda sering bertengkar karena hal itu. Mertuanya merasa Raya tidak peduli pada rumah tangganya. Begitu juga sebaliknya, Raya merasa sang mertua terlalu ikut campur. Dia bukan lagi Raya yang dulu takut pada mertua. Raya justru melawan setiap orangtuanya menegur.
Hingga saat Rangga berusia 9 tahun, Raya memutuskan menggugat cerai suaminya. Dengan alasan tidak ada kecocokan lagi. Aryo bersikeras tidak mau bercerai, namun hal itu tidak mempengaruhi Raya. Dia sudah mati rasa dengan Aryo. Rangga lebih memilih ikut papanya dari pada ikut mamanya.
*
*
*
*
__ADS_1
Selesai dulu flashbacknya. Nanti bakal ada part baru tentang Laras. Maaf ya menunggu lama. Soalnya dunia RL lebih menyita waktu.
Tetap pantengin terus karya author remahan dengan cara like, komen dan vote.