Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Di sita


__ADS_3

Rumah sederhana yang terlihat kukuh dan berwibawa menyambut kedatangan Laras dan Bagas. Pancaran kebahagiaan dari wajahnya sangat terlihat.


Rumah yang berlokasi di salah satu komplek kecil di daerah Ciracas adalah rumah peninggalan orangtuanya. Rumah yang dulu berdempetan dengan warga lain kini berubah menjadi bak istana kecil. Istana yang rencananya akan dibangun untuk keluarga kecil mereka.


Air matanya menetes mengingat dia pulang hanya berdua dengan putranya. Tanpa sambutan suaminya. Eva melihat kesedihan Laras langsung mendekati sahabatnya. Sebuah pelukan penuh kedamaian diberikan seorang teman yang sudah seperti saudara.


"Ras, kamu yang sabar, ya. Jika Rangga sudah sembuh, aku yakin dia akan menemuimu. Bukankah kalian saling mencintai. Kamu harus kuat demi Bagas."


"Terimakasih, Va. Kamu memang sahabatku." Laras membalas pelukan Eva.


Laras dan orang-orang terdekatnya pulang ke


rumah. Mereka menyambut kepulangan Laras dan Bagas di rumah kediaman ibunya. warga berbondong-bondong mampir ke rumah Laras hanya untuk melihat bayi kecil yang baru saja lahir ke dunia.


"Ya Allah tampannya. Andai suamimu pulang dia akan bangga melihat anaknya mirip sama papa-nya." ucap Bu Farida.


"Terimakasih, Bu." jawab Laras.


"Namanya siapa, Ras?" tanya Bu Ranti.


"Bagas Baratayudha,Bu."


"Keren, kayak di film Mahabarata." celetuk Bu Ranti.


"Emang terinsipirasi dari sana, Bu. Itu juga nama ayahnya."


"Ras, kalau aku dengar dulu tidak boleh memakai nama suami dibelakang nama anak."


"Kenapa, Bu?" Laras masih belum paham.


"Nggak tahu, aku cuma dengar seperti itu. Coba aja kamu lihat di internet."


"Jangan dengarkan, Ras. Hoax itu yang dibilang si Ranti. Mana ada larangan kasih nama ayahnya di belakang nama anak, bukannya malah bagus itu. Ranti... Ranti... jangan handphone saja yang smart tapi yang punya juga harus pintar." omel Bu Farida.


"Eh, Bu Farida. Alhamdulillah walaupun saya tidak sekolah tinggi tapi Alhamdulillah bisa buat anak saya bisa Sarjana dan bersuami. Emangnya situ, anaknya sarjana tapi sampai sekarang belum ada yang nikahi.Huh!"


"Lo kok bawa anak saya, kita lagi bahas handphone, Bu. jangan pengalihan pembicaraan. Situ mau pamer anaknya dah nikah, tapi belum hamil-hamil. Ihhh, jangan-jangan.." Bu Farida tidak mau kalah.

__ADS_1


Nindy melihat perdebatan dua ibu-ibu tersebut segera menengahi. Bu Ranti memilih pulang, sedangkan Bu Farida duduk di teras rumah Laras.


"Huuuh, dasar emak-emak rempong, mereka lupa ribut di rumah orang. Kan nggak enak sama Laras. Apalagi merusak ketenangan bayi."


"Sudah, ndy. Aku nggak apa-apa, kok. udah biasa melihat mereka debat. Bukannya memang dari dulu mereka gitu, ya. Tiap ketemu ada saja bahan buat debat. Orang-orang sudah khatam lihat aksi mereka." Laras mencoba menenangkan Nindy.


"Lahap bener si ganteng. Perasaan tadi dia sudah ASI, kok dikasih lagi. Nanti habis badanmu, Ras."


Laras memandang kearah Bagas. Si mungil itu tampak kembali terlelap setelah kenyang di beri ASI. Lama dirinya terhanyut dalam satu pikiran, jika sampai saat ini Bagas terlahir tanpa melihat siapa ayahnya. Berharap dia bisa mendengar kabar terbaru soal Rangga. Meskipun selalu nihil. Namun tak menyurutkan semangatnya untuk tetap menanti, apapun keadaan Rangga setelah kecelakaan. Dia akan tetap menerimanya, karena sesungguhnya hatinya sudah terikat satu nama. Laras meletakkan Bagas di ranjang bayi. Kemudian berdiri menuju sudut ruangan dimana ada photo pernikahannya dengan Rangga.


Mas kamu apa kabar?


Semoga kamu sehat-sehat saja.


Kamu tahu, mas. Anak kita sudah lahir. Dia tampan seperti kamu.


Andai waktu bisa diputar, serta kecelakaan itu tidak terjadi mungkin kita masih berkumpul dan kamu melihat kelahiran anak kita.


Aku rindu kamu, mas.


Kamu suami terbaik dari pria yang pernah aku temui.


Aku berharap kamu cepat sembuh dan pulang biar bisa berkumpul.


Biar Bagas merasakan kasih sayang ayahnya. Biar Bagas tahu kalau ayahnya masih ada.


Tok ... tok ... tok


Laras berjalan menuju pintu depan guna melihat siapa yang datang. Di depan pintu tampak beberapa pria berdiri. Wajah mereka terlihat garang dan seram. Laras menilai kalau mereka adalah preman. Tapi dia tidak paham kenapa para preman itu mendatangi rumahnya. Masih mencoba sopan para preman itu menyapa Laras dengan baik.


"Ada yang bisa saya bantu, pak?" tanya Laras.


"Apakah Ratna tinggal disini?" tanya salah satu dari mereka.


"Iya,tapi Ratna sudah sejak semalam tidak pulang."


"Owh, begitu. Hmmm, kami kesini karena meminta Ratna melunasi hutang judinya pada bos kami."

__ADS_1


"Judi!" ucap Laras kaget.


"Iya, Ratna dan ibunya terlibat judi dengan bos kami." jawab salah satu dari mereka.


"Ya, tapi Ratnanya tidak ada, pak. Jadi percuma bapak menagih kalau orangnya tidak di sini."


Salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah map besar. Laras terkejut dengan surat yang keluar dari map tersebut.


"Ratna dan ibunya menjadikan rumah ini sebagai jaminan atas hutang judi mereka. Makanya saya datang kesini untuk mengambil alih rumah ini. Jadi saya minta anda pergi meninggalkan rumah ini."


"Tidak bisa, pak. Itu sertifikasi rumah orangtua saya. Anda tidak bisa seenaknya mengusir saya!" Laras tidak terima di usir dari rumahnya sendiri.


Entah apa yang terjadi dalam sekejap Laras dan Bagas sudah berjalan keluar rumah. Membawa beberapa barang kebutuhan Bagas dan dirinya. Satu hal yang pasti, dia menyesal telah menampung bude Endang dan kedua anaknya. Mereka yang disebut keluarga ternyata membawanya kembali ke penderitaan. Laras hanya bisa menangis saat ini. Dia baru saja pulang dari puskesmas dan sekarang berjalan di tengah langit yang berganti gelap.


"Ya Allah, Laras. Kenapa kamu keluar rumah magrib- magrib." Eva menyambut Laras yang mendatangi rumahnya.


Laras masih terdiam. Pikirannya kacau saat ini, yang dia pikirkan bagaimana mencari tumpangan sementara. Bukan untuk dirinya tapi demi Bagas yang masih merah. Eva duduk di samping Laras. Tentu saja ingin tahu apa yang membuat sahabatnya mendatangi dirinya di kala waktu magrib.


"Rumahku di jadikan jaminan judi sama Bude dan Ratna. Mereka mengusirku karena hutang judi bude 200 juta. Bahkan jika rumah itu dijual tidak akan sampai dengan uang segitu." cerita Laras.


"Apaaa! kurang ajar mereka. Sudah dikasih tempat tinggal malah dikasih jantung. Dari awal sejak mereka datang aku sudah menduga kalau mereka bukan orang baik. Ngakunya famili tapi malah cari penyakit." Omel Eva.


"Kamu tinggal disini saja dulu, Ras. kasihan Bagas kalau dibawa kemana-mana. Dia masih berumur satu hari pula. Nanti aku akan rembuk sama suamiku."


Laras hanya diam saja. Berbagai pikiran berkecamuk, dia tidak mungkin lama tinggal di rumah Eva. Ada privasi rumah tangga yang harus di jaganya. Sesekali pandangannya mengarah ke Bagas. Bayi merah yang baru berusia satu hari itu masih terlelap setelah kenyang di beri ASI.


"Maafkan bunda,nak." Dikecupnya kening putranya.


Klik


"Mama bohong! Laras tidak mungkin pergi meninggalkan aku."Rangga tidak percaya dengan ucapan mamanya.


"Sumpah demi Allah,nak. Istrimu memang pergi dari rumah setelah Oma meninggal dunia. Padahal rumah masih sibuk dengan takziah Oma, tapi dia ngotot tidak mau tinggal bersama kita lagi. Kamu tahu dia bahkan pergi bersama lelaki yang bernama Adul."


"Adul!"


Ya aku tahu lelaki itu. Lelaki yang memberikan perhatian lebih pada Laras. Aku ingat saat kami belum menikah. Bagaimana sikap Adul terhadap Laras. Itu bisa membuktikan kalau lelaki itu punya rasa pada Laras. Tapi apa mungkin Laras juga suka padanya.

__ADS_1


"Kalau saja kamu bisa melihat mama punya photo saat mereka berdua di gerbang kompleks rumah mereka. Bagaimana mereka sedang berpelukan erat. Mama tidak bohong,nak. Buat apa mama bohong sama kamu. Nggak apa gunanya juga sama mama."


__ADS_2