
Hujan pun turun lebat, langit pun masih gelap. Mila membawa mobil dalam keadaan ketakutan. Setiap tetesan keringat dingin mengucur dari tubuhnya. Beberapa kali suara gemuruh serasa menghambat langit.
Masih dalam mobil, Mila menelankan laju mobilnya. Terdengar deringan ponsel yang tiada henti. Ia mengabaikan suara benda pipih itu. Dimatanya keselamatan lebih penting daripada ponselnya. Dia terus mengemudikan mobilnya menuju rumah mama mertuanya. Saat ini Mila enggan pulang ke rumah. Karena takut teror arwah tadi.
Lagi-lagi telepon tersebut menggangu fokusnya. Mila tetap menyetir sambil mencoba mengangkat telepon. Handphonenya jatuh, sebelah tangannya meraba lantai mobil untuk mengambil handphone. Karena konsentrasinya terbagi antara menyetir dan handphone.
Mobil Mila yang tadinya tenang di jalanan sepi. Sesaat Mila melihat seseorang lewat. Mila mengklakson agar orang itu minggir. Bukannya berhenti, orang itu menoleh, Mila kaget dan mencoba memutar stir mobil.
Dan...
Duarr!..
Mobil Mila menabrak jembatan pembatas jalan dalam keadaan terseret.
"Maamaaaa..." pekik Mila.
Mobil pun sudah terbalik pun terus menyeret jalanan. Kepala Mila membentur kaca mobil.
klik
"Apa yang terjadi?" Fadli mendapati Mila sudah bersimbah darah.
"Dokter Mila kecelakaan, mobilnya menabrak jembatan pembatas jalan. Mobilnya rusak parah, dok. "jelas perawat yang menemui dokter Fadli.
"Kecelakaan, dok!? jerit Fadli. Fadli memegang dadanya. Ada rasa sesak saat salah satu keluarganya tertimpa musibah.
"Terus kak Mila bagaimana keadaannya?" tanya Fadli.
"Kak?" tanya dokter Desi.
"Iya, kak Mila itu kakak iparku. istri mendiang kakakku." Fadli menjelaskan pada dokter Desi tentang siapa Mila sebenarnya.
"Bukan perempuan yang kamu sukai, Dli?" selidik Desi.
__ADS_1
"Bukan saatnya kita bahas masalah yang tidak penting. Yang pastinya saya mau mengecek keadaan kakak saya yaitu dokter Camila." Fadli meninggalkan Desi menuju ruang UGD.
Fadli sudah berdiri di depan UGD. Tampak beberapa orang berdiri di depan pintu UGD. Fadli mengorek informasi soal Mila dari orang-orang yang membawa Mila ke rumah sakit.
"Kalian yang membawa kak Mila?" tanya Fadli.
Salah satu dari mereka menjelaskan kalau tempat Mila kecelakaan memang rawan. Warga sekitar ternyata tidak terkejut dengan kejadian seperti itu. Fadli mendengarkan keterangan warga tentang kronologi kecelakaan tunggal tersebut.
"Astaghfirullah, padahal baru semalam Tante resi dimakamkan. Sekarang malah kak Mila yang kena musibah." Fadli sesekali mengurutkan dadanya. Ujian hidup Mila yang bertubi-tubi. Dari kasus video tersebut, Tante Resi yang sakit, dan setelah kecelakaan yang merenggut nyawa Tante Resi, Mila pun tak luput dari musibah berat.
"Dokter Fadli," Panggil Yosha, perawat pria di rumah sakit.
"Maaf, dok. Mungkin kalau yang saya bahas di luar nalar. Tapi itu yang saya rasakan dari satu minggu ini pada dokter Mila."
"Jelaskan saja, Yos."
"Maaf, dok. Saya melihat dokter Mila sering diikuti oleh sosok tak kasat mata seorang pria. Wajahnya hancur matanya keluar. Saya sudah mencoba berkomunikasi, dan ...."
"Saya minta pihak kepolisian memeriksa kotak hitam mobil dokter Mila." ucap Yosha.
Yosha tidak mungkin menjelaskan apa yang dibilang arwah tersebut kalau Mila yang sudah menewaskan orang itu. Dia sadar kalau kemampuannya masih dianggap tabu oleh orang lain.
"Jadi polisi sudah ada di TKP?" tanya Fadli.
Yosha mengangguk.
"Maaf, dok saya harus kerja kembali." pamit Yosha.
Fadli masih duduk di kursi depan UGD. Menanti kabar kondisi kakak iparnya. Dari jauh Desi dan beberapa dokter lainnya menatap lelaki muda itu.
"Segitunya Fadli perhatian pada dokter Mila." kata dokter Candra.
"Kata dokter Fadli, Mila itu kakak iparnya. Istri dari kakaknya yang meninggal." jelas Desi.
__ADS_1
"Kamu cemburu?" tanya Retno.
"Buat apa? aku dan Fadli sudah lama selesai." jawab Desi dan meninggalkan teman-temannya.
klik
"Kamu tidak ada ketertarikan untuk kembali merajut kasih dengan dokter Desi?" tanya mama Yana pada putranya di ponsel.
Bukan salah pertanyaan Yana pada putranya satu-satunya saat ini. Ya, sejak Farden meninggal dunia, harapan Yana tertuju pada Fadli putra bungsunya. Usia Fadli yang berkepala tiga membuat resah wanita berusia enam puluhan.
Fadli tersenyum kecil mendengar pertanyaan mamanya. Dia paham kegelisahan sang mama bentuk kasih sayang orangtuanya.
"Ma, suatu saat aku pasti nikah. Tapi bukan sekarang, ma. Maaf,ma. Desi dan aku sudah tidak bisa bersama lagi. Banyak hal yang tidak bisa dijadikan satu misi."
"Ya, mama cuma mau lihat kamu menikah dan punya anak. Usia mama sudah di penghujung waktu. Mama tidak bisa menebak kapan tuhan sewaktu-waktu mengambil hidup mama. Dan selama masih bernafas mama mau lihat kamu menikah."
"Semoga mama umur panjang. Jadi bisa lihat aku punya istri dan ngasih mama cucu." Fadli hanya bisa mengiyakan ucapan mamanya.
"Ma, aku mau kasih kabar, kak Mila kecelakaan. Sekarang sedang ditangani dokter di UGD." adu Fadli pada mamanya.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, mama kesana ya, Dli. Kasihan Mila tidak punya keluarga lagi." kata mama Yana.
Fadli menatap nanar ruang UGD, menunggu lampu yang menempel di dinding. Berharap ada keajaiban pada kakak iparnya.
"Ya Allah tolong selamatkan kakakku." batin Fadli.
"Fadli?" Yana menyerukan nama putranya. Fadli langsung menyambut mamanya dengan pelukan. Yana merasa terpanggil untuk melihat keadaan menantunya.
"Papa mana, ma." Fadli melihat mamanya hanya datang sendirian.
"Papa ke Baubau ada urusan kerja. Bagaimana keadaan Mila, nak?"
"Masih di UGD, ma. Kayaknya parah, ma."
__ADS_1