
Sinopsis
Rindu purnama Sudrajat harus tinggal di sebuah penampungan. Setelah orangtuanya meninggal dunia tanpa meninggalkan harta gono-gini.
Rindu itulah panggilannya. Gadis muda arogan, yang suka semena-mena sekarang menjadi gadis sebatang kara.
akankah ini bisa merubah dirinya menjadi lebih baik?
Cuplikan:
"Ini sekarang jadi tempat tinggal kamu." Lelaki itu menuntunku ke sebuah rumah kecil.
Mataku membulat saat melihat kondisi rumah tersebut. Kotor, jorok, sempit dan pastinya banyak penyakit. Hadeuh papa dan mama emangnya nggak ninggalin aku warisan rumah gitu.
"Sekarang kamu masuk ke kamar! Mandi dan sehabis itu kita makan." Titahnya.
Aku memasuki kamar kecil yang hanya beralaskan tikar dan kasur busa. Kasur busa! Astaga! mama ... papa .. kalian jahat! kalian bilang hanya aku anak kesayangan! Tapi apa kalian pergi meninggalkan penderitaan buatku!
"Rindu! Waktunya makan malam!"
Aku beranjak dari kamar laknat ini! aku penasaran kenapa lelaki ini mau memungutku atau jangan ini rencana dia bukan wasiat dari orang tuaku.
Langkahku terhenti saat melihat menu dihidangkan.
Telur ceplok, tahu tempe dan nasi putih. Menu apa ini! nggak ada berkelas sama sekali. Huh! mending aku pesan gofood aja.
__ADS_1
Aku meninggalkan meja makan. Terserah lelaki itu mau bilang apa, aku tidak peduli. Aku mengambil handphoneku di tas. Tapi? Handphoneku raib, aku membongkar semua tas barangku, tetap saja tidak kutemukan.
"Rindu! kalau kamu tidak mau makan nggak papa! Tapi besok tidak ada jatah makan buat kamu!"
Aaaaarrrrgggh!
"Nggak papa! biar aku mati sekalian." Jawabku.
"Hey! kamu mati pun nggak akan masuk surga!"
Aku tidak peduli. Mau masuk surga kek! neraka kek! Bodo amat! Aku cuma mau kembali ke kehidupanku yang seperti dulu.
Perkenalkan aku Rindu Purnama Soedrajat. Cukup kalian panggil Rindu saja. Tapi papa dan mama selalu memanggil Rindu, karena kehadiranku yang mereka tunggu selama bertahun-tahun. Aku terlahir sebagai anak tunggal.
Blurb:
"Yes! malam ini!" soraknya dalam hati.
Tubuhnya langsung bangkit dari ranjang. Memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Diliriknya jam dinding yang bertempel di kamarnya.
"Masih jam enam pagi. Santai saja ke sekolahnya. Lagian itu kan yang mendirikan sekolah adalah kakek. Jadi mama adalah pewaris dari kakek. Ngapain harus nurut sama mereka. Kan mama yang gaji mereka." umpatnya dalam hati.
Rindu membuka lemari pakaiannya. Memeriksa beberapa gaun untuk di pakai acara nanti malam. Biasanya anak sekolah mempersiapkan perlengkapan sekolah, tapi tidak dengan Rindu. Dia lebih mementingkan acara nanti malam. Toh nanti ada bibi yang mempersiapkan perlengkapannya.
Matanya membulat lebar saat melihat bajunya sedikit rusak di bagian tangan. Gadis itu meluapkan emosinya pada asisten rumah tangganya. Dia menganggap si bibi tidak becus memelihara pakaiannya.
__ADS_1
"Bibiiiiii" Sebuah lengkingan kuat terdengar dari sebuah kamar.
Tak lama seorang wanita paruh baya berlari tergopoh-gopoh. Dia tahu kalau nona mudanya akan memarahinya. Karena setitik kesalahan saja akan ada rentetan cacian yang keluar dari gadis itu.
"Iyaaaa...non.." Jawabnya setengah takut.
"Kenapa baju saya rusak? Hah!" Rindu melototi bibi yang menunduk takut kepadanya.
"Maaa...maaaf, non saya tidak tahu." Kepalanya masih menunduk.
"Bibi tahu tidak. Baju ini dibandingkan dengan gaji bibi tidak akan sama. Dan kamu tidak akan sanggup menggantinya!" amuknya.
"Ampun,non. Jangan dipotong gaji bibi." Sujudnya pada sang nona Mudanya.
Rindu melempar gaunnya ke wajah pembantunya. Ini bukan yang pertamakali mereka dimaki-maki oleh nona mudanya. Bahkan sudah jadi makanan mereka menghadapi kesombongan gadis itu. Mereka sudah bertahun-tahun bekerja di rumah itu. Mereka tetap bertahan karena majikan mereka sangat baik, jauh kontras dengan putri semata wayangnya.
"Cuuuiiiih!" Rindu meludah di depan si bibi.
Tangan mulus itu menjambak wanita yang bernama Susi. Matanya menyiratkan kemarahan pada wanita didepannya. Bisa-bisanya gaun kesayangannya rusak saat mau dipakai.
"Dengar, ya. Tidak ada yang boleh menyentuh barang-barang saya. Kecuali kedua orangtua saya. Paham!" Ucapnya dalam mode jambak.
"Paa...ham... Non!" Jawabnya sambil menaham kesakitan.
Susi cuma bisa pasrah saat Rindu meludahi wajahnya. Susi memunguti gaun sutra tersebut, tanpa dia membersihkan wajahnya dengan gaun itu. Sontak membuat kemarahan puncak Rindu melihat baju mahalnya dijadikan serbet.
__ADS_1
"Ampun, non ... ampun!" Pekik Susi saat Rindu menendang wajah Susi.