Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Dimana suamiku?


__ADS_3

Ketika berada dalam grab, Laras menyandarkan kepalanya di kaca mobil. Mengingat kejadian besar menimpa suaminya dua hari ini, mengingat kejadian besar juga dirinya alami. Tangannya terus melipat berganti posisi, sepanjang perjalanan dia memilih diam. Rasa sesak yang dirasakannya teramat dalam. Luka hati yang ditimbulkan atas sikap ibu mertuanya menjadi dasar utamanya.


Selama ini dia merasa tidak pernah berpikir untuk melawan mama mertuanya. Dia juga tidak pernah membuat Rangga durhaka pada Raya.


Laras mengenang semua yang terjadi dalam pernikahannya. Meskipun suaminya menyayanginya namun tak membuat dirinya bahagia seutuhnya. Sikap mama mertuanya yang sudah terlampau masuk dalam rumah tangganya sudah tidak bisa ditolerir lagi.


Saat ini dirinya masih mencoba bertahan demi suaminya. Meski sebenarnya dia dan Rangga sempat sepakat tidak akan melibatkan mama Raya lagi. Namun apa di kata, Raya tetap saja menggerecoki rumah tangganya.


Mobil akhirnya berhenti di depan gerbang rumah sakit. Sebelum turun Laras membenarkan hijabnya. Dirasa sudah rapi dia turun dari mobil setelah membayar ongkos. Helaan nafas panjangnya menghembus di rongga mulut. Kakinya pun melangkah memasuki pelataran rumah sakit.


Laras berjalan menuju ruang suaminya. Berharap melepaskan rindunya setelah semalaman mendekam di penjara. Kakinya berdiri di pintu kamar suaminya.


Ceklek!


Matanya membulat melihat pemandangan di depannya. Kamar Rangga rapi dan bersih serta kosong. Laras masih tidak percaya melihat suaminya tak ada di tempat.


"Suster!" Pekiknya.


"Suster!" Laras histeris melihat kamar Rangga yang kosong.


"Iya,Bu. Ada apa?" tanya seorang suster yang mendatanginya.


"Su...suami saya mana, sus! suami saya, mana!"


"Saya tidak tahu, Bu. Mungkin sudah pulang ke rumah, Bu." jawab suster yang ikut takut melihat reaksi Laras.


Laras tidak puas mendengar jawaban suster. Kalau iya suaminya sudah dibawa pulang, kenapa keluarga suaminya tidak mengatakan apa-apa. Kakinya sudah berada di depan pintu praktek Mona. Yang dia tahu Mona sempat mengurusi Rangga.


"Laras?" Sapa suara di belakangnya.


Laras menoleh ke arah suara. Tampak Mona berdiri sambil melepas masker di wajahnya. Dengan cepat Laras meminta keterangan kenapa suaminya tidak ada di tempat.


"Kak Mona, mas Rangga mana? Kenapa kamarnya kosong?"


"Maksud kamu apa, Ras? bukankah Rangga sudah pulang ke rumah."


"Kalau dia sudah pulang aku tidak menanyakan kesini, kak Mona."


"Kamu tenang dulu, Ras. Pikirkan dengan kepala dingin. Jangan seperti ini."

__ADS_1


Maksudnya apa meminta dirinya tenang. Sementara keadaan genting begini.


"Kak, Dimana suamiku?" Laras masih mendesak Mona.


Bagaimana aku menjelaskan pada Laras soal ini? aku sudah janji sama Tante Raya.


"Ras, saya tidak tahu soal keberadaan suamimu. Soalnya dia bukan pasien saya, saya menangani masalah kandungan bukan masalah kondisi suamimu. Jadi lebih baik kamu tanya sama dokter Rayhan."


Laras tentu saja tidak percaya begitu saja. Dia menanyakan keberadaan suaminya bukan tentang kondisi kesehatan Rangga. Tapi dia akhirnya menemui dokter Rayhan.


"Laras, kondisi kesehatan suamimu bergantung pada keajaiban Allah. Mata suamimu akan mengalami kebutaan karena terkena kaca mobil. Dan mungkin akan mengalami kelumpuhan dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan.


Saya harap kamu harus sabar mendampingi suamimu jika nanti dia sadar. Dan maaf sepertinya saya tidak tahu kemana suamimu dipindahkan."


Laras berjalan keluar dari rumah sakit. Tangannya menggenggam erat seakan menahan kemarahan. Suaminya dipindahkan ke tempat yang entah ada dimana tanpa seizinnya. Pihak rumah sakit bungkam. Laras yakin mereka di bayar oleh keluarga Pattimura. Dadanya terasa sesak, bukan tangisan melainkan amarah yang sudah di pendamnya.


Jadi mereka mau mempermainkan aku. Mereka mau memisahkan aku dan mas Rangga. Oke, kalau itu mau kalian. Aku akan ikuti permainan kalian.


klik


Assalamualaikum


Ya Allah apa yang harus aku lakukan. Kenapa semuanya seakan ingin menerkamku. Tenang Laras kamu harus bertahan, kamu harus menemukan suamimu. Aku harus kuat, jangan terlihat lemah di mata mereka.


Laras dituntun Donal masuk ke dalam rumah. Sementara dia diistirahatkan ke kamar Rangga. Matanya mengedar tak ada keberadaan suaminya di kamar.


Lalu dimanakah mereka menyembunyikan mas Rangga.


Laras memberanikan diri menemui papa dan mama mertuanya. Tentu saja menanyakan keberadaan Rangga. Dia yakin mereka tahu dimana Rangga di sembunyikan.


"Assalamualaikum, ma, pa."


"Iya, Ras. Ada apa?"


"Maaf, mengganggu, pa. Laras mau menanyakan soal kak Rangga?"


Donal tampak berpikir seakan heran dengan pertanyaan Laras.


"Bukankah tadi kamu ke rumah sakit? Apa dokter belum menjelaskan?"

__ADS_1


"Papa tahu kan dimana mas Rangga dipindahkan? Kenapa tidak ada yang mengabari saya. Saya masih istri sah mas Rangga, pa."


"Sebentar, Ras. Pindah? Nggak ada yang pindahkan Rangga, nak. Dia masih dirawat ..."


Astaga ini pasti ulah Raya.


Malam ini Laras kembali ke kamar. Banyak renungan berputar di pikirannya. Laras menangis dalam diam, menumpahkan kegundahan hatinya kepada Allah. Hanya Allah yang tahu apa keinginan umatnya. Tubuhnya melangkah ke luar. Menghirup udara balkon.


Langkah kakinya terhenti saat mendengar pembicaraan Lani dan Oma Fina.


"Kita tidak bisa membiarkan Laras menguasai harta Oma Gladys. Aku cucunya bukan dia. Ngapain Oma menghibahkan seluruh hartanya ke kak Rangga dan Laras."


"Jadi apa rencana kamu?" tanya Oma Fina.


"Bagaimanapun caranya kita buat Laras tidak betah disini? kalau perlu kita singkirkan dia dari muka bumi ini" sahut Lani.


"Lagian kamu kan dapat dari Oma. Untuk cicit-cicit Oma. Mau apalagi! beda dengan Laras, dia tidak punya apa yang di wariskan." jawab Oma Fina.


"Oma lupa apa kata pak Andi tadi. Laras itu sudah sembuh dan sewaktu-waktu dia bisa hamil. Kalau dia hamil kan yang dapat harta anaknya juga. Ya kalau kak Rangga selamat, kalau tidak Laraslah yang akan mendapatkannya. Lani nggak mau harta Oma jatuh ke tangan yang salah."


Laras berjalan kembali ke kamarnya. Pikirannya melayang saat mendengar pembicaraan Lani dan Oma Fina. Benarkah dirinya mewarisi harta Oma Gladys?Kenapa tidak ada yang memberitahukan soal ini. Bukan masalah hartanya tapi Laras merasa dia tidak pantas mendapatkan hal itu. Tangannya kembali bolak-balik seperti ada kecemasan.


Aku harus bagaimana ya Allah. Mereka pasti berpikir kalau aku yang menekan Oma untuk dapat harta. Aku tidak pernah minta harta Oma.


Apakah aku harus pergi dari sini.


Tapi bagaimana dengan mas Rangga. Aku harus menemukan keberadaannya.


Pagi ini semua sudah duduk di meja makan. Memulai sarapan yang sudah disiapkan Laras dan bi Asti. Donal, Lani dan Oma Fina sudah duduk menyantap nasi goreng buatan Laras. Setelah menyiapkan sarapan Laras memilih tidak berbaur dengan mereka.


"Ras, kamu tidak sarapan?" sapa bi Asti yang menemukan laras berada di kamar belakang.


"Enggak lapar, bi." Lirih Laras.


"Kamu harus makan, Ras. sejak semalam pulang dari rumah sakit kamu belum makan apa-apa. Jangan sakit, Ras, kamu harus kuat demi den Rangga."


"Mana bisa aku makan,bi. Apalagi mas Rangga mereka sembunyikan sekarang, dimana dia, siapa yang merawatnya, apakah dia mendapatkan perawatan yang baik. Aku tidak bisa tenang, bi." Keluh Laras.


Bi Asti duduk disamping Laras. Dia terkejut mendengar ucapan Laras soal kepindahan Rangga. Memorinya berputar saat mendengar pembicaraan Raya di telepon. Dia ingat ucapan Raya soal Jepang.

__ADS_1


__ADS_2