Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Maafkan aku, Ras.


__ADS_3

Kebahagiaan hidup dalam rumah tangga merupakan anugerah Allah SWT yang telah diberikan kepada hamba-Nya.


Cinta dan kasih sayang serta ketentraman hidup dalam rumah tangga merupakan dambaan yang diingkan bagi setiap pasangan suami istri. Seorang wanita telah memutuskan untuk menikah, ia memiliki kewajiban kepada keluarga barunya terutama kepada sang suami.


Itu yang pernah Laras dengar dari sebuah pengajian di dekat rumah. Namun masa itu Laras belum bisa membaktikan diri pada suaminya. Tentu saja karena jarak dan waktu yang memisahkan mereka.


Seandainya waktu bisa di putar, Laras ingin memperbaiki semuanya. Termasuk merasakan bagaimana ngidam dan di manja suami saat hamil dahulu. Untungnya saat hamil Bagas dia tidak merasakan ngidam apapun. Saat Eva hamil Sadam, Laras sering dibuat iri oleh temannya. Dimana Saat ngidam ada suaminya siaga. Saat istrinya tak berdaya karena mual ada suaminya tetap disampingnya. Sedangkan dirinya, mau tidak mau harus menguatkan diri. Menjadi ibu sekaligus ayah buat putra semata wayangnya.


"Ras," terdengar sapaan dari depan pintu.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun Laras melipat mukenanya. Memakaikan hijabnya di depan kaca. Tangannya mengambil beberapa barang di tas. Untungnya saat ini dia masih tahap cuti kerja.


"Aku pulang dulu, mas." Laras berjalan meninggalkan kamar.


"Tidak ada yang pulang, Ras. Ini rumah kamu, rumah kita. Kenapa kamu harus pergi lagi? apa kamu tidak ingin bersamaku lagi?" Laras menunduk ke arah lantai.


"Tapi Bagas butuh waktu, mas. Aku tidak tega melihat Bagas tidak nyaman disini."


"Aku ayahnya, Ras. Aku yang akan berusaha agar Bagas menerimaku. Tapi aku mohon jangan pergi lagi."


"Selama ini kamu kemana, mas. Kamu menghilang bertahun-tahun, sekarang kamu muncul di saat kami sudah nyaman dengan kehidupan sekarang. Atau jangan-jangan benar kamu tidak pernah berusaha mencari kami."


"Bukankah kamu yang meninggalkan aku? bukankah kamu yang pergi dari rumah."


"Kalau begitu tolong lepaskan aku, seperti aku melangkahkan kaki dari rumah mama Raya. Bukankah itu tujuan kalian."


"Ras,"

__ADS_1


"Maaf, mas aku harus pulang." Laras tetap bersikukuh pergi dari rumah.


"Ras, please. Jangan pergi!" Rangga masih menahan Laras.


"Kasih waktu aku supaya bisa dekat dengan Bagas. Kasih waktu aku supaya bisa memperbaiki semua ini. Kamu tahu kalau aku tidak bisa jauh dari kamu, apalagi kita sudah ada anak, Ras. please pikirkan soal ini."


"Maaf," Terdengar susutan hidung dari wanita di hadapannya. Rangga langsung memeluk Laras. Seakan ingin meyakinkan istrinya kalau dirinya akan tetap berada di sisi wanita itu.


"Kamu tahu, Ras. Sejak aku bangun dari tidur panjangku, kamu orang pertama yang ingin aku lihat. Tapi saat itu duniaku gelap, Ras. Jangan melihat, untuk bangun saja aku tidak bisa. saat mama bilang kalau kamu pergi dari rumah bersama Adul. Duniaku rasa mati, mati ras! Rasa nyeri menggerogoti tubuhku, bukan nyeri fisik tapi batinku."


"Maafkan aku, mas. Seandainya kamu tahu apa yang membuat aku pergi dari rumah. Apakah kamu akan percaya padaku? aku rasa tidak, aku bisa melihat betapa patuhnya kamu sama mama Raya."


"Sekarang kita akan pergi ke suatu tempat. Kamu siap-siap, sayang. Aku akan mengajakmu jalan-jalan kali ini."


"Tapi aku harus pulang, mas." rengek Laras.


"Oke, aku akan antar kamu pulang. Tapi aku juga akan tinggal di kontrakan kamu. Sama seperti saat aku memilih tinggal di rumah ibu Mala."


Pintu apartemen Rangga terbuka. Tampak seorang wanita paruh baya memasuki apartemen tersebut. Langkahnya dengan angkuh memandang sudut ruangan. Senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya. Terdengar langkah terburu-buru saat mendengar ada yang masuk ke hunian tersebut. Seorang wanita memakai daster batik berjalan mendekati ruang tamu.


"Ya, Allah ada nyonya besar. Gimana ini? mana den Rangga bawa perempuan ke rumah. Aduh! bisa perang ini!" si mbak ketar ketir melihat nyonya besarnya sudah di depannya.


"Kamu kenapa? mana Rangga? apa dia belum bangun juga?"


"aaaanuuu... iniii...aduh bagaimana saya menjelaskannya." Si mbak makin bingung.


"Kamu kenapa kayak gitu! apa terjadi sesuatu di rumah ini."

__ADS_1


"Sekarang panggil Rangga! bilang saya sudah disini!"titah Raya.


"Ba... baik ..Nyonya.." Si mbak kembali ke dalam mencari majikannya.


Rangga muncul menemui mamanya. Tentu saja dia tidak sendiri, melainkan bersama Laras. Tampak guratan amarah tergambar di wajah wanita usia 58 tahun tersebut. Sosok yang di bencinya sekarang berada di rumah anaknya. Raya mencoba menahan diri agar tidak terlihat buruk di depan Rangga. Namun Laras paham dengan perubahan mimik wajah mertuanya. Laras hanya bisa menunduk, dia enggan banyak bicara dengan mertuanya.


"Mau apa perempuan ini disini!" batin Raya.


Laras menyalami Raya sebagai rasa hormatnya seorang menantu. Meskipun dia tahu Raya tidak akan pernah mau menerimanya. Raya mau tidak mau menerima salam dari menantunya. Rangga melihat sambutan Raya merasa senang. Tadinya dia takut akan reaksi Raya, namun apa yang di takutkan tidak terjadi.


Laras dan Raya duduk ruang tamu. Mereka mencoba pura-pura ramah di depan Rangga. Raya mulai melancarkan tekanannya pada Laras.


"Aku tahu tujuanmu kembali pada Rangga. Buat numpang hidup, kan? seorang Laras yang luntang-lantung hidupnya sekarang mengemis pada anakku agar bisa numpang hidup."


"Maaf, ma. Tapi memang sudah kewajiban mas Rangga untuk menjaga anak dan istrinya."


"Apa! anak dan istri? hahahaa. .. Laras jangan bermimpi kamu! anak itu belum tentu anaknya Rangga. Bukannya kamu meninggalkan rumah saat tidak sedang mengandung. Sekarang mengaku-ngaku itu adalah anak Rangga."


"Tapi, ma...."


"Ras, sudah jangan berdebat sama mama. Jangan diambil ke hati ucapan mama." kata Rangga.


"Mas, dia meragukan Bagas sebagai anakmu. Masa aku harus diam saja. Kamu harusnya membela Bagas bukan mama kamu." Laras pergi membawa tas nya.


"Kamu mau kemana!" panggil Rangga.


"Pulang. karena tempat anakku bukan disini. aku tidak bisa tinggal di tempat yang menolak anakku."

__ADS_1


"Laras!" Rangga berlari mengejar Laras yang sudah memasuki lift.


"Maafkan aku, Ras. Aku bukan bermaksud meragukan Bagas. Hanya saja aku tidak ingin kamu berdebat dengan mama. Itu saja." Batin Rangga.


__ADS_2