Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Surgaku padamu


__ADS_3

Waktu terus berjalan, rotasi matahari masih setia menyinari bumi. Detik-detik waktu seakan berkejaran dengan cepat. Dan tak terasa sudah jam dua belas siang. Laras merasa kegiatannya terus menuntunnya tanpa henti.


Setelah mengantar Bagas ke sekolah, Laras bertemu dengan Ina yang sedang mengantarkan Yusuf ke sekolah. Dia tahu reaksi Ina yang masih mengacuhkannya, namun Laras tetap menyapa wanita yang sudah bersahabat dengannya sejak SMP.


"Kamu apa kabar, Na?" sapa Laras.


Ina tak sedikit pun mencoba menatap Laras. Ada rasa sesak yang menyelip di hati Laras. Dia sangat merindukan keceriaan Ina, dia juga merindukan masa-masa dimana Ina selalu menceritakan semua masalah pada dirinya.


"Baik." Masih dalam sikap pengacuhan.


"Syukurlah." Terdengar helaan nafas sangat berat.


"Mas, tolong antar saya ke kantor." Ina memanggil Raka yang menjadi sopirnya.


"Kamu sekarang kerja di kantor, Na."


Ina hanya berjalan berlalu meninggalkan Laras. Tak ada sosok yang ceria atau ramah seperti yang dia kenal. Laras berusaha menahan air matanya, namun nyata gagal. Di dalam mobil Laras menumpahkan air matanya. Gambar-gambar kenangan mereka menjadi bukti kalau semua itu tinggal cerita.


"Ibu nggak apa-apa?" Tanya Adit yang diutus Rangga menjemput Laras di sekolah Bagas.


"Nggak apa-apa, dit." suara Laras masih terdengar berat.


"Oh ya, dit. Katanya vila kebakaran,Ya. Kok bisa? sebabnya apa?" Tanya Laras.


"Saya kurang tahu, Bu. Saya cuma pas di kabari rumah bapak sudah di lalap api. Kayaknya konslet, Bu." jelas Adit.


"Kok bisa? Bukannya rumah tidak di tunggu."


"Nggak paham juga, Bu. Tapi bisa saja kan listrik tetap hidup. Soalnya kata Bu Raya kalau gelap Vilanya suram." Adit masih berusaha menutupi permasalahan yang sebenarnya. Itu yang sudah diamanatkan oleh atasannya.


"Iya, sih. Tapi aneh aja kok bisa konslet, ya? Dit, mas Rangga sekarang dimana?"


"Di rumah sakit, Bu. Soalnya pak Donal drop." Jelas Adit.

__ADS_1


"Ya sudah. Antarkan saya ke rumah sakit." titah Laras.


"Kata pak Rangga, Bu Laras langsung ke rumah. Dia mau pulang katanya."


"Aku nggak enak nanti mereka bilang aku nggak simpati karena nggak datang ke rumah sakit. Antarkan saja aku kesana."


"Maaf, Bu. Bukankah perintah suami lebih harus di turuti. Dosa Lo, Bu nggak nurut sama suami." ucapan Adit seakan menyadarkan dirinya.


"Ya Allah, maafkan hamba." ucap Laras.


"Sebagai seorang istri, pertama dan utama adalah kepada suami. Kepatuhan pertama dan utama pada seorang suami, karena itu Imam dalam rumahmu kecuali dilarang atau diperintahkan sesuatu yang diharamkan, maka tidak boleh menuruti suami.


Saat memutuskan untuk berumah tangga, seorang wanita tentu memiliki kewajiban kepada suaminya, bahkan melebihi terhadap orang tuanya.


Itu yang pernah dikatakan oleh ayah saya, Bu Laras."


"Ya Allah, maafkan saya. Saya lupa kalau suami saya adalah imam yang harus dipatuhi. Saya lupa bahwa surga saya saat ini adalah suami saya. Tindak tanduk saya adalah tanggung jawab suami saya.


Mobil akhirnya berhenti di pelataran gedung apartemen. Laras turun dari mobil lalu memasuki gedung apartemen, menaiki lift dan pada akhirnya sampai di depan pintu kediamannya.


"Mas," sapa Laras saat Rangga membuka pintu. Ia menyalami tangan Rangga.


"Kamu sudah sampai, sayang. Aku kira kamu bakal langsung ke rumah sakit." sahut Rangga.


Laras bingung, bagaimanapun Rangga tahu kalau dirinya ingin ke rumah sakit. Ia menebak kalau Adit sudah mengadu pada suaminya.


"Aku tahu kamu merasa tidak enak pada mama dan keluarga disana. Tapi aku saat ini kurang enak badan, jadi aku ingin kamu disini. Nggak keberatan kan?"


Laras menggeleng. Ini adalah sebagai wujud abdinya pada suaminya.


"Bukankah surgaku ada padamu, Mas. Apapun yang aku lakukan tentu harus mendapat ridho darimu. Maafkan aku jika ada salah satu sifat ku yang masih mengecewakanmu." Laras menunduk merasa sudah banyak mengecewakan suaminya.


Rangga menarik dagu Laras searah dengan wajahnya.

__ADS_1


"Tetaplah menjadi dirimu sendiri, Ras. Selama aku menikah denganmu, aku tidak pernah menuntut kamu yang melebihi kapasitas.


Tetaplah melakukan kebaikan. Dan biarkan orang membicarakan dirimu. Membicarakan sesuatu yang baik dalam dirimu. Biarkan juga orang menilai kamu yang tidak sesuai dengan pemikiran mereka. Karena secara tidak langsung kamu akan mendapatkan pahala dari mereka."


"Mas, kondisi papa Donal bagaimana?"


"Alhamdulillah, papa Donal sudah siuman. Tadi dia ngotot mau pulang saja. Hanya saja dokter meminta istirahat sehari di rumah sakit."


"Mas, sebenarnya ada apa? kenapa rumah di puncak bisa terbakar?"


Rangga terdiam sejenak. Dia masih belum bisa jujur soal keberadaan ketiga wanita yang disimpan di rumah pohon. Entah kenapa keberanian itu belum bisa dia lakukan.


"Sayang, kamu mau ke rumah sakit bukan. Sekalian jemput Bagas. Ini sudah siang, bukankah kelas agama Bagas selesai jam satu." Rangga mengalihkan pembicaraan.


"Ah, iya, mas. Aku siap-siap dulu." Rangga menahan tubuh Laras di depan pintu.


"Kamu sudah cantik, sayang. Nggak perlu siap-siap. Kayak gini saja sudah bikin makin cinta."


"Gombal, kamu, mas." cicit Laras.


Setelah menjemput Bagas, mereka langsung berangkat ke rumah sakit. Meskipun tadinya Rangga bilang kalau papa sudah baik-baik saja. Tetap saja dia tidak enak pada mertuanya. Sebisa mungkin Laras menghindari konflik dengan mereka. Sebisa mungkin Laras akan berjuang agar di terima oleh keluarga suaminya.


Sepanjang jalan Laras hanya diam. Dia memandang jendela dengan tatapan sayu. Masih terpikir olehnya bagaimana sikap Ina padanya. lelaki di sampingnya pun merasa heran dengan sikap istrinya.


"Aku tadi bertemu Ina saat mengantar Bagas. Ina masih marah sama aku, mas. Entah kenapa Ina sepertinya berubah. Apa selama ini dia seperti itu atau hanya padaku saja, Mas. Apa yang sudah kamu ceritakan pada Ina sehingga dia sebenci itu padaku."


"Aku juga kaget saat Ina memarahimu waktu di rumah. Mungkin dia salah satu dari segelintir orang yang mendengar cerita simpang siur itu. Bukan hanya Ina, Tante Yulia juga sempat menasihati aku soal kembalinya kamu."


Ras, biar waktu yang menjawab semuanya. Aku yakin ini adalah ujian buat kita semua. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah buat umatnya. Dan aku yakin fitnah yang menjatuhkan kita dimata sesama manusia adalah jalan Surga di mata Allah."


Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, umat manusia dianjurkan untuk berbuat baik kepada manusia lainnya dan menjauhi segala perbuatan yang dibenci Allah SWT. Dengan demikian, kita tidak termasuk golongan manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah. Dalam hadits, Rasulullah SAW telah mengkategorikan beberapa golongan manusia yang paling buruk kedudukannya di hari kiamat kelak.


Ketika kita sedang dilanda sedih, satu hal yang harus diingat masih ada orang-orang yang menyayangi kita. Mereka percaya kalau kita bukanlah seperti yang dituduhkan. Orangtua, saudara, kekasih dan mungkin juga suami.

__ADS_1


__ADS_2