
"Pagi anak Ayah" Sapa Rangga saat membangunkan putranya.
Tampak wajah Bagas menggeliat layaknya bayi yang baru bangun tidur. Senyuman kecil itu terbit saat melihat kedua orangtuanya tidur mengapit dirinya. Pelan-pelan matanya mengerjap menatap silaunya sinar matahari. Kepalanya berputar dua sisi, ada ayahnya disamping kanannya dan ada Bundanya disamping kirinya. keduanya ikut berbaring di samping Bagas.
"Pagi ayah, pagi bunda." Balas Bagas tampak menggeliat ketika dibangunkan ayahnya. Bagas mencium pipi kedua orangtuanya. Di balas keduanya mencium pipi putri mereka.
"Terimakasih ya Allah Bagas bisa seperti anak lainnya punya ayah dan bunda yang lengkap. Bagas sayang sama bunda dan ayah."
Pagi ini tentu saja Bagas harus bersiap-siap berangkat ke sekolah. Rangga dan Laras pun sudah bersiap-siap berangkat kerja. Raya melihat menantunya sudah membawa alat kantor pun bertanya.
"Kamu masih kerja sama Jihan?" tanya Raya saat duduk bersama di meja makan.
"Iya,ma." jawab Laras sambil mengambil nasi goreng ke piring suaminya.
"Mama harap kamu tidak usah kerja lagi. Bagas itu butuh perhatian kedua orangtuanya. jika salah satu dari kalian mau ngalah untuk tidak kerja, lebih bagus istri itu di rumah saja. Jadi ibu rumah tangga." kata Raya.
"Nanti saya pikirkan, ma. Masih ada pekerjaan saya di sana yang harus diselesaikan." jawab Laras.
"Rangga, kamu tidak melarang istrimu ikut kerja. Terus siapa yang akan mengurus Laras. Kasihan Bagas, dia baru saja merasakan orangtuanya kumpul bersama. Kebersamaan itu akan hilang kalau kalian malah sibuk kerja dan hanya memanjakan dengan materi."
Laras hanya menunduk ketika mendengar ocehan mertuanya. Baru sehari dia di rumah itu. Sudah diatur ini itu. Namun, dia hanya bisa mengelus dadanya. Netranya mengalihkan ke arah suaminya. Laras menangkap kalau Rangga sedikit mengacuhkan ucapan mamanya.
"Ma, biarkan Laras menyelesaikan urusannya di kantor. Nanti setelah itu, baru kami bahas apakah harus resign atau tidak. Selama yang di kerjakan Laras positif tidak masalah, kan. Aku tidak mau mengekang Laras untuk tidak bekerja. Laras itu sarjana, ma. Wajar kalau dia ingin merasakan dunia kerja meskipun punya anak. Toh, banyak wanita karir yang bisa membagi waktu antara kerja dan rumah tangga. Seperti mama dulu." kata Rangga.
Laras dan Rangga pun pamit pada kedua orang tuanya untuk berangkat kerja. Disusul Bagas yang pamit pada Oma dan Opa nya untuk berangkat sekolah. Bagas yang tadinya takut pada Raya mulai ramah pada Omanya. Mungkin karena Raya sudah menunjukkan sisi kelembutannya di depan Bagas.
__ADS_1
Mobil melenggang ke jalanan sepi. Karena jam masih pagi. Belum banyak kendaraan yang lewat. Apalagi arah kantor Laras dan Rangga sangat berlawanan. Belum lagi sekolah Bagas yang searah dengan kantor Laras.
Rangga sudah memberhentikan mobilnya di pelataran sekolah Bagas. Tampak beberapa anak sudah memasuki pelataran sekolah taman kanak-kanak Al-Zaman.
"kak Rangga?" sapa Alam.
"Hai, lam apa kabar?" Rangga membalas teguran sapa dari Alam.
"Akhirnya setelah satu tahun tidak bertemu kakak. Aku bisa melihat kak Rangga benar-benar sudah sembuh."
"Berkat doa kalian." jawab Rangga.
Alam menjongkokkan badannya sejajar dengan Bagas. "Halo, kamu yang namanya Bagas? saya papanya Yusuf." Alam memperkenalkan diri. Bagas menyalami Alam sebagai rasa hormatnya pada orang yang lebih tua.
"Itu," Rangga menunjuk Laras berjalan kearah mereka.
Laras berjalan kearah Alam dan Rangga. Alam menyalami Laras, sahabat istrinya sekaligus kakak iparnya.
"Apa kabar,Ras?"
"Alhamdulillah, baik kak Alam." balas Laras sambil tersenyum.
"Terimakasih, Ras. Kamu sudah kembali pada Kak Rangga. Kamu tahu saat mendengar hilangnya istrinya, kak Rangga sempat tidak punya semangat untuk sembuh.
Sampai aku harus berjanji agar dia mau berobat ke Jepang. Kak Rangga sempat di minta operasi plastik karena wajahnya yang rusak parah. Mama raya tetap mempertahankan wajah lama kak Rangga."jelas Alam.
__ADS_1
"Bagas belajar yang bagus, ya. Harus nurut sama ibu guru." Wejang Laras pada putranya.
"Iya, Bunda." Jawab Bagas dengan mantap.
"Yuk Bagas kita masuk. Sebentar lagi lonceng." ajak Yusuf.
"Papa, om dan Tante kami masuk ke kelas dulu." Pamit Yusuf pada para orang dewasa di hadapannya.
Alam pun pamit pada Rangga dan Laras karena akan kembali ke kantor. Setelah itu keduanya pun kembali ke mobil. Laras hanya diam tanpa membuka percakapan apapun. Merasa di diamkan Rangga pun mengawali obrolan pada istrinya.
"Ras,"
"Iya, mas." jawab Laras tanpa menoleh kearah suaminya.
"Soal kata mama tadi,"
"Iya saya paham, mas. Kamu pasti minta saya resign kan. Tapi bisakah saya tetap berkerja. Jujur aku sudah terlalu nyaman sama mereka. Disana aku di terima walaupun hanya aku yang mengawali kerja menjadi single parent."
"Ras, kalau selama ini kamu mau kerja karena tuntutan kebutuhan Bagas. Tapi sekarang ada aku yang memenuhi kebutuhan Bagas dan kamu. Sudah tugasku sebagai kepala rumah tangga menghidupi kalian. Jadi biarlah aku yang kerja dan kamu jadi ibu rumah tangga saja.
Kalau kamu segan dengan Jihan biar aku yang ngomong sama dia. Aku kenal Jihan, dia orang baik. Jadi mungkin dia juga tidak akan keberatan kalau aku yang bicara langsung."
"Tapi, mas, selama ini Bagas juga tidak kekurangan kasih sayang saat kami tinggal berdua. Aku pun selalu diberi kompensasi waktu untuk Bagas dari Bu Jihan."
Rangga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepertinya dia akan mencari cara meyakinkan Laras untuk tidak bekerja lagi.
__ADS_1