Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Penahanan Rangga


__ADS_3

"Saudara Rangga, anda kami tahan karena kasus menyekapan tiga wanita. Mari ikut kami untuk dimintai keterangan lebih lanjut." Beberapa orang berpakaian coklat sudah berdiri di tengah para pengunjung sidang.


Laras melihat hal itu berlari ke tengah kerumunan para petugas kepolisian. Dia tidak mau suaminya ditahan atas kesalahan yang memang sudah dilakukan Rangga. Laras tahu Rangga melakukan hal ini karena dirinya.


"Pak jangan bawa suami saya. Dia nggak salah, dia tidak menyekap mereka." Mohon Laras hingga bersujud di kaki petugas kepolisian.


"Pak Rangga memang menahan kami, pak." sahut Ratna tiba-tiba. " Dia menahan ponsel kami supaya tidak menghubungi keluarga. Dia juga memberi penjaga di depan kamar kami. Apa itu bukan namanya penyekapan." tambah Ratna.


"Tapi dia tidak menyiksa kalian, kan. Dia masih memperlakukan kalian seperti tamu. Buktinya sampai sekarang kalian masih utuh tidak kurang apapun."ucap Laras.


"Kalian juga yang sudah menyebabkan vila papa saya terbakar." sahut Rangga


"Kamu kan tidak tahu apa yang dilakukan suami kamu." sahut Ratna.


"Ras, sepertinya aku memang harus mengikuti proses hukum. Kamu tenang ya sayang, aku pasti pulang." Rangga mencoba menenangkan Laras.


"Enggak, mas. Kamu jangan tinggalkan aku lagi." Laras kembali beralih kearah polisi. "Pak saya mohon, jangan ...." Rangga memeluk istrinya. Laras tergugu di balik dada Rangga. "Aku harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah aku lakukan,Ras. Aku menyekap mereka karena ingin mereka jujur tentang semua yang sudah mereka lakukan sama kamu. Aku hanya tidak ingin ada lagi orang yang memalingkan wajahnya ketika bertemu dengan kamu, Ras."


Rangga menguraikan pelukannya dari tubuh Rangga. Dia juga mencium kening istrinya dengan lembut.


"Apa yang harus aku jelaskan pada Bagas, mas?" isaknya.


"Kamu harus yakin kalau aku ada disini." Rangga meletakkan tangannya di dada Laras.


"Cih, drama queen. Padahal dialah yang membuat suami dan mertuanya masuk penjara. Dia juga dalang kekacauan di keluarga Pattimura." ucap Ratna.


Selepas persidangan Laras pulang ke rumah sendiri tanpa Rangga. Sepanjang perjalanan dia hanya terdiam tanpa sepatah kata pun. Terbayang dalam angannya kalau Bagas menanyakan soal ayahnya. Terbayang di benaknya kalau dia harus terpisah lagi dengan suaminya. Setelah lima tahun jiwa dan raga mereka terpisah, sekarang dia harus menerima kenyataan suaminya berada di balik jeruji.


"Ras," Eva paham perasaan hati temannya. Istri mana yang tidak sakit saat terpisah kembali dari suaminya. Apalagi Rangga melakukan hal ini demi membersihkan nama istrinya.


"Semua karena aku, Va. Mas Rangga mengakui perbuatannya demi membersihkan nama baikku." isak Laras.


"Kamu tahu, Ras. Itu tanda sayang dan cinta Rangga buat kamu dan Bagas. Meskipun aku juga menyayangkan kenapa harus di sekap berhari-hari. Kenapa tidak langsung di serahkan ke pihak berwajib. Tapi mungkin kalau tidak begitu mertua kamu tidak akan sadar akan perbuatannya."


Sore itu Laras tiba dirumah. Tubuhnya menelusuri setiap dinding apartemen. Suara Bagas yang menyambut kepulangannya pun tak di tepisnya. Laras memilih masuk ke kamar tanpa sepatah katapun.


"Bu, mau masak apa?" tanya Ajeng.


Tak ada jawaban atas sapaan tersebut. Pikiran dan hatinya pun tak bersarang di tempat. Pikiran dan hatimu merasa tak semangat, apalagi dia terus menyalahkan diri karena suaminya di tahan. Tubuhnya disandarkan di pinggir jendela kamar.


"Bu, Bagas mau sama ibu." suara Ajeng kembali membuyarkan lamunannya.


"Bunda kenapa?" suara Bagas masih dibalik pintu.


"Bunda, sejak pulang tadi diam saja. Bagas takut bunda kenapa-kenapa? ayah mana?"


"Astaghfirullah!" Laras sadar ada Bagas yang masih membutuhkan dirinya.

__ADS_1


"Bunda?"


Laras membuka pintu kamarnya. Sosok kecil itu berdiri dengan ekspresi bingung. Laras langsung memeluk putranya dengan erat. Terdengar isakan kecil, Bagas menganggap bundanya sedang bersedih.


"Bunda kenapa?" tanya Bagas.


"Bunda kangen ayah,nak. Padahal tadi ayah baru saja pamit pergi kerja keluar kota."


"Yah, ayah pergi nggak pamit sama Bagas." Bagas sepertinya tertular kesedihan yang dirasakan Laras.


Ibu dan anak pun menangis bersama.


"Bagas kok nangis?" Laras mengusap wajah putranya yang basah.


"Habisnya bunda nangis, Bagas juga sedih kalau bunda sedih."


Laras tersenyum. Betapa bodohnya dia meratapi yang telah terjadi. Dia lupa ada Bagas yang butuh kasih sayangnya. Dia yakin suaminya akan cepat bebas.


"Bunda nggak akan sedih lagi, nak."


"Gitu dong bunda. Kan bunda cantik kalau senyum."


"Maafin bunda ya, nak. Bunda tadi hanya rindu sama ayah. Ya semoga ayah lekas pulang."


"Bagas mau telepon ayah, bunda."


"Iya Bunda. Sekarang temani Bagas bikin PR ya bunda." Laras mengangguk mengikuti langkah Bagas hingga masuk kekamar.


*


*


*


*


Seminggu berlalu. Bagas tak lagi menanyakan soal ayahnya. Mendekati sidang lanjutan Laras pun diminta tidak bertemu dengan Rangga terlebih dahulu. Entah kenapa permintaan itu sangat berat. Rindunya sudah berat, haruskah dia menahannya lagi.


"Kamu tenang saja, Ras. Rangga baik-baik saja,kok. Lagian ini baru seminggu. Belum sebulan." ucap Eva yang masih sabar menahan sahabatnya.


"Aku sudah sabar selama lima tahun,Va. Dan sekarang terpisah lagi selama satu minggu. Lima tahun sudah berat buatku. Lima tahun saja sudah membuat aku hampir gila. Dan sekarang aku disuruh bersabar lagi. Emang kenapa kalau aku mau bertemu suamiku?"


"Ya, nggak apa-apa. Cuma masalahnya suamimu kan masih tersangkut kasus yang berhubungan dengan mama mertuamu. Jadi harus ikut proses hukum. Apalagi dia seperti ini karena melindungi kamu, Ras. Kalau kamu menemuinya nanti akan disinyalir kalian sekongkol." jelas Eva.


"Jadi kalian juga nuduh aku terlibat gitu. Kamu juga terlibat, Va. Kata mas Rangga kamu yang memberitahukan keberadaan bude Endang dan dua anaknya." Laras meninggikan suaranya.


"Terserah kamu, Ras. Aku juga tidak mau kamu terus di tuduh yang tidak-tidak. Aku juga ingin nama kamu bersih. Mereka hidup enak sedangkan kamu terkungkung dalam fitnah. Tapi kalau kamu tidak suka dengan semua ini, maaf. Aku nggak akan ikut campur urusan kamu lagi."

__ADS_1


"Va, maaf bukan itu maksudku." Laras menahan Eva yang pergi dari ruang tamu apartemen Laras.


"Apa, Ras? aku nggak nyuruh suami kamu buat menyekap mereka bertiga. Aku hanya memberitahukan alamat budemu itu." Eva mencoba tidak emosi saat Laras menuduhnya terlibat dalam masalah Rangga.


Suara panggilan dari ruang sidang pun membuat beberapa pengunjung masuk ke dalam. Hanya saja Laras memilih di luar. Rasanya masih sesak mengingat kejadian seminggu yang lalu. Kepalanya disandarkan di salah satu tiang semen di sekitar pelataran area pengadilan.


Dari jauh sepasang mata memandang Laras dengan tatapan pilu. Air mata sosok itu menetes melihat Laras seperti tak punya semangat hidup. "Maafkan aku, Ras." Batinnya.


*


*


*


Sidang hari ini adalah sidang putusan serta kesaksian dari beberapa pihak termasuk kasus Anisa. Raya dan tiga wanita (Anisa, Endang dan Ratna) juga dihadirkan. Mereka akan diminta memberikan saksi di persidangan.


Eva membujuk laras untuk ikut kedalam. Segala upaya dilakukan Eva dan juga Adul sebagai sahabat. Hingga akhirnya Laras mau masuk ke persidangan.


"Saudara Ratna, anda mengenal Laras?" tanya Jaksa penuntut umum.


"Kenal." jawab Ratna.


"Apa benar, anda keluarga Laras?"


"Bukan." jawab Ratna.


"Jadi kenapa anda dan keluarga anda masuk ke keluarga Laras mengaku sebagai saudaranya?"


"Karena di bayar sama ibu Raya."


"Berapa bayarannya dan kenapa anda mau ikut dengan keinginan Bu Raya."


"Ya, karena saya butuh uang, pak. Saya bosan dengan kehidupan sekarang. Saya bosan jadi orang miskin."


"Oh, begitu. Jadi anda mengakui kalau anda mengambil sertifikat rumah orangtua Larasati."


"Saya kan hanya disuruh, jadi saya nggak salah, dong. Yang salah itu Bu Raya." Ratna masih tidak mau kalah.


"Ya kalau anda menuruti kemauan Bu Raya, berarti anda dan keluarga anda terlibat." jaksa masih berusaha mengorek informasi.


"Berapa nominal yang anda terima dari Bu Raya?"


"10 juta."


"Pak hakim dengar, ini sudah jelas kalau mereka benar-benar terlibat dalam kasus ini.


Menurut pasal 378 KUHP mengenai penipuan ancaman hukuman pemalsuan identitas bisa dikenakan hukuman maksimal 4 tahun penjara."

__ADS_1


__ADS_2