
Sehari sebelumnya
Rangga mendatangi pemilik kontrakan Laras. Dia ingin mengajak anak dan istrinya tinggal di hunian yang lebih layak. Lelaki usia 41 tahun tersebut berjalan ke areal pasar inpres Tanah Abang. Nama kompleksnya Jatibaru.
Lokasinya Di seberang Stasiun Tanah Abang sendiri terdapat lebih dari tiga gang kecil yang menghubungkan pedestrian di Jalan Jati Baru Raya dengan pasar Tanah Abang. Banyak hunian kecil yang terletak di pusat sentral busana tersebut. Salah satunya tempat tinggal Laras yang berdekatan dengan pasar blok F, Tanah Abang.
Menurut Rangga, Laras harusnya tinggal di sebuah perumahan yang layak. Bukan sempit-sempitan seperti itu. Semakin besar usia Bagas, semakin banyak kebutuhan yang harus di dapatkan putranya.
"Saya kesini mau pamitkan Laras dan Bagas. Kami akan pindah ke rumah yang sudah saya siapkan untuk mereka. Saya berterimakasih kalian menerima anak dan istri saya dengan baik selama disini. Jika ada sikap Laras dan Bagas yang sengaja atau tidak di sengaja pada lingkungan ini. Sebagai suami saya minta maaf."
"Iya, nak Rangga. Kami senang kalau Laras sudah bertemu dengan suaminya. Laras itu wanita yang baik. Selama disini dia mudah berbaur dengan orang di sekitarnya.
Meskipun setahun awalnya, Laras punya masalah dengan psikologisnya. Karena mungkin dia ibu baru harus punya bayi tanpa suami." cerita Dahlia.
"Sebentar, Bu. Psikologis Laras kenapa?" tanya Rangga penasaran.
"Anda pernah mendengar baby blues?" tanya Dahlia.
"Iya, saya tahu baby blues. Apa Laras pernah mengalaminya?"
"Iya, setahun pertama dia tinggal disini Laras hanya melamun. Tak peduli dengan dirinya, bahkan bayi nya menangis pun tak dia hiraukan. Dua orang temannya bolak balik mengurusi Bagas dan Laras. saya tahunya namanya temannya itu Eva. Sedangkan ada satu laki-laki yang sering mengunjungi Laras buat mengasuh Bagas."
Apakah itu Adul? sebegitunya lelaki itu memberikan waktunya untuk Laras. Apakah dia tidak ada pekerjaan lain?
"Bu, bisa ibu ceritakan bagaimana perjalanan Laras yang ibu tahu selama disini. Saya merasa menjadi suami yang tidak berguna, karena saat itu saya lumpuh bahkan tidak bisa melihat. Saya terlibat kecelakaan beruntun di jalan raya."
Akhirnya Dahlia menceritakan apa yang dia tahu. Hanya sebatas kasus baby blues. Laras juga mengaku kalau suaminya sudah meninggal dunia. Yang dia tahu Bagas itu anaknya gampang minder. Tapi dimata Dahlia, Laras itu perempuan kuat. Dia rela jualan pecel, sambil mengasuh Bagas. Mengambil kuliah malam demi masa depannya.
Rangga termenung sesaat. Lama dia mencoba mencerna cerita dari Dahlia. Begitu banyak lika liku kehidupan istrinya selama ini. Rangga merasa menjadi suami yang tidak bisa diandalkan.
Maafkan aku Laras, kalau selama ini tidak peka dengan apa yang kamu alami. Aku sekarang jadi tahu apa yang selama ini kamu alami sangat berat. Mungkin itu yang membuat kamu menjaga jarak dengan mama.
Tapi apakah yang kamu alami ada hubungannya dengan mama. Semoga saja tidak, Ras. Mama kan juga perempuan, aku yakin kamu hanya salah paham sama mama.
__ADS_1
Cuma satu orang yang bisa aku cari tahu kebenarannya. Eva! hanya Eva orang terdekat Laras. Aku harus menemui Eva." batin Rangga.
Setelah pamit dari kontrakan Laras, Rangga mengintruksikan pada anak buahnya untuk mengambil barang milik istri dan anaknya. Lalu kembali ke mobil untuk menjalankan rencana selanjutnya.
klik
"Ngapain kamu kesini?" Sambutan yang Eva masih terlihat ketus padanya.
"Saya mau tahu soal Laras." jawab Rangga yang tanpa permisi duduk di sofa ruang tamu Eva. Lelaki itu tampak mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah. Banyak yang berubah pada rumah kecil terbaru. Seingatnya, rumah Eva ada tanjakan turunan. dan posisi rumah itu dibawah tanjakan. Namun sekarang rumah Eva sejajar dengan jalan besar.
"Kenapa kamu tanya ke saya? kan bisa minta penjelasan dari Laras?"
"Tolonglah, Va. Aku ingin tahu bagaimana kehidupan Laras saat kami berjauhan. Kenapa Laras begitu takut saat aku menawarkan pulang ke rumah papaku. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Eva mendengus kesal tapi dia juga kasihan pada Laras dan Bagas. Eva ke dapur membuatkan minum untuk Rangga. Dia tidak mungkin membiarkan tamunya mati kehausan.
"Eh, ini bukannya..." Eva mendengar suara suaminya di ruang tamu.
"Iya, saya suaminya Laras." jawab Rangga.
"Alhamdulillah," jawab Rangga.
"Bang, aku tadi sudah masak sambal cabe hijau ikan asin kesukaanmu." sapa Eva.
"Kamu mau tahu kan bagaimana perjalanan Laras selama ini." Eva memulai pembicaraan intinya.
Rangga mengangguk. Sejatinya hal itulah yang sejak tadi dia tunggu.
"Bismillah, kamu tahu saat kecelakaan itu. Semua keluarga menyalahkan Laras. Dalam anggapan mereka karena tujuan kedatangan kalian mau kesini. Laras di penjara dalam semalam oleh mama kamu. Laras memang pergi dari rumah karena cuma ingin menenangkan diri. Dia bukan kabur bersama lelaki lain. Tapi memang Adul diminta Laras untuk menjemputnya. Laras malah dianggap pergi dari rumah.
Kedatangan tiga wanita yang mengaku keluarga Laras adalah awal petaka. Di samping baru beberapa hari pulang ke rumah dia sudah berbadan dua. Artinya dia sedang mengandung anak kamu, kak Rangga.
Laras mendapat info kalau kamu sudah di Jepang. Dengan modal nekat dia berencana menyusul kamu ke Jepang. Saat itu usia kandungannya baru satu bulan. Tapi apa? dia mendapati rekeningnya diblokir keluarga kamu. Dia bisa apa, Rangga? dia tidak punya kekuatan untuk menuntut.
__ADS_1
Hingga saat Laras baru pulang dari puskesmas setelah melahirkan. Rumahnya disita debt kolektor, famili Laras menggunakan sertifikat untuk judinya. Sofia dan dokter Camila membawa Laras tinggal di kontrakan yang sekarang.
Tahun pertama, Laras mengalami baby blues. Kerjanya hanya melamun saja. Untuk asupan dirinya sendiri saja dia tidak memikirkan. Apalagi asupan untuk Bagas. ASI Laras aku memasangkan ke payudara Laras. Aku dan Sofia mengontrol ASI nya Laras. Atas ide dokter Camila, Laras dibawa ke psikiater. Diterapi selama hampir satu tahun. Alhamdulillah akhirnya sembuh."
Rangga terus mengusap wajahnya. Semua yang di ceritakan Eva sudah membuatnya mengelus dada.
"Ya Allah, begitu menderitanya Laras."
"Mas, Rangga harus menemui orang ini." Eva menyodorkan sebuah alamat.
"Ini siapa?"
"Nanti Mas Rangga akan tahu semuanya." jawab Eva.
"Va, terimakasih. Kamu sudah meluangkan waktu untuk Laras. Kalau bukan kalian aku tidak tahu Bagaimana nasib Laras? karena yang aku cuma kamu yang dia percaya."
"Bagiku, kebahagiaan Laras adalah kebahagiaanku juga. Aku, Laras dan Adul kami tumbuh sejak kecil. Suka duka kami alami, termasuk saat Laras mengeluh di bully saat menjadi OB di kantor kak Rangga." cerita Eva.
Rangga pamit dari kediaman Eva. Ada rasa lega saat mendengar apa yang di jelaskan Eva tadi. Lelaki itu melajukan mobil menembus jalanan yang sepi.
Ia harus cepat pulang supaya bisa bertemu dengan Laras. Di tatapnya gawai yang terus berdering, panggilan dari kantor, itu tanda masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Ia harus menyelesaikan pekerjaan yang sudah tenggat. Larut malam pekerjaannya baru selesai. Ia tidak sendirian. Di kantornya yang berlantai dua puluh, beberapa lantai masih menyala.
Rangga memilih membawa pekerjaannya pulang ke rumah. Dalam benaknya dia ingin segera bersama istrinya. Membalut luka yang selama ini di tutupi Laras. Yang menjadi pertanyaannya kenapa Laras menutupinya? andai wanita itu cerita mungkn akan beda lagi.
Saat sekarang
Setelah pertengkaran tadi Rangga memilih tidak mengejar Laras. Dia memilih menuntun sang mama yang terlihat down atas sikap Laras.
Rangga tahu ini sandiwara mama. batin Rangga.
Maafkan aku, Ras. Bukan aku tidak mau mengejarmu. Tapi saat ini aku punya rencana buat mama. batin Rangga.
Visual Rangga
__ADS_1