
Setiap keluarga memiliki kebiasaan yang berbeda-beda, dan inilah yang menjadi kultur bagi keluarga tersebut. Apa yang terjadi di rumah sebelah, akan berbeda dengan yang terjadi di rumah kamu.
Seperti itulah kenyataannya, tidak ada yang sama. Namun, ada beberapa hal sederhana yang nilainya sangat penting karena dengan melakukan beberapa hal ini bisa mencipatakan keluarga bahagia.
Keluarga bahagia adalah kondisi keluarga yang menikmati kebersamaan dalam suka dan duka. Saling bertoleransi, saling melindungi, saling membantu dan menyayangi satu sama lain. Selalu ingin membahagiakan anggota keluarga lainnya, itulah yang disebut keluarga bahagia.
​Memiliki keluarga bahagia adalah impian semua orang. Tapi, tidak semua orang tahu bagaimana cara mewujudkannya dengan indah. Sebagian sibuk membuat standar-standar tersendiri tentang keluarga bahagia yang harus diraih hingga akhirnya mereka justru lupa menikmati perjalanannya dan semakin jauh dari tujuan bahagia. Kunci sederhana dari keluarga bahagia sejatinya adalah kebersamaan. Bagaimanapun kondisinya, jika setiap anggota keluarga mengusahakan dan menikmati kebersamaan, pasti masing-masing dari mereka akan merasa bahagia secara pribadi dan dapat membahagiakan anggota yang lain. Itulah yang disebut sebagai keluarga bahagia.
Kebersamaan bisa diwujudkan dengan sarapan dan makan malam bersama yang riang, bersenda gurau sambil menikmati teh hangat, bermain boneka jari dengan anak-anak sebelum tidur, berbagi tugas membersihkan rumah saat akhir pekan, dan tentu saja saling membantu jika salah satu anggota keluarga membutuhkan pertolongan. Hal-hal seperti itulah yang dapat menciptakan keharmonisan dan keakraban, memperkuat ikatan keluarga, membuat saling memahami dan menerima satu sama lain, serta membuat waktu yang ada menjadi berharga dan dapat dinikmati.
"Kita mau kemana sih, mas?" Laras merasa pandangannya gelap ditutup sebuah kain oleh suaminya.
"Jalan-jalan, sayang." kata Rangga sambil menuntun istrinya.
"Kok pakai tutup mata segala, mas?" Rangga tetap diam tak bergeming. Sekilas Rangga menahan tawanya melihat istrinya terus bertanya.
"Bagaimana, kamu suka?"
Laras memandang pemandangan di depannya dengan kagum. Rooftop kantor milik Donal kini menjadi tempat yang romantis. Terdapat meja dan dua kursi kecil dengan dekorasi yang sangat indah. Dinding dan pagar rooftop pun di hiasi lampu warna-warni.
"Mas,"
"Hmmm, apa sayang?"
"Ini keren, mas. Kamu yang buat?" Laras memandang semua yang sudah disiapkan Rangga. Dia senang mendapat kejutan dari suaminya. Laras merasa diperlakukan dengan istimewa.
"Iya, sayang malam ini adalah malam spesial kita."
"Terimakasih, Mas." Laras masih tidak percaya dengan kejutan dari suaminya. Rasanya seperti mimpi.
"Duduk, sayang." Rangga menuntun Laras menuju kursi yang disediakan.
Kemudian Rangga pun duduk di kursi tepat di hadapan Laras. Suasana semakin romantis ketika hidangan lezat dan lilin sebagai penerangnya.
"Rasanya aku masih tidak percaya dengan semua ini. Seumur pernikahan kita, aku belum pernah di kasih kejutan seperti ini. Terimakasih, suamiku." Laras mencubit pipi Rangga.
Untuk momen-momen istimewa di kehidupan, tentu ingin memberikan sesuatu yang spesial dan menjadi kenangan manis sepanjang hidup. Apalagi terhadap orang terkasih yang kelak menjadi teman hidup. Berikut ini tips melakukan candle light dinner romantis yang benar dengan pasangan terkasih supaya tali jalinan kasih menjadi lebih erat dan langgeng selamanya.
Candle light dinner merupakan acara makan malam yang dicirikan dengan kehadiran nyala lilin dengan suasana temaram plus romantis di sekitarnya sehingga bernuansa kelembutan, kasih sayang dan romantis.
Bila nanti saatnya t'lah tiba
Ku ingin kau menjadi istriku
Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan
Berlarian ke sana, kemari, dan tertawa
Namun, bila saat berpisah telah. tiba
__ADS_1
Izinkan ku menjaga dirimu
Berdua menikmati pelukan di ujung waktu
Sudilah kau temani diriku
Namun, bila kau ingin sendiri
Cepat, cepatlah sampaikan kepadaku
Agar ku tak berharap
Dan buat kau bersedih
Bila nanti saatnya t'lah tiba
Ku ingin kau menjadi istriku
Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan
Berlarian ke sana, kemari, dan tertawa
Namun, bila saat berpisah t'lah tiba
Izinkan ku menjaga dirimu
Berdua menikmati pelukan di ujung waktu
Sudilah kau temani diriku
Sudilah kau menjadi istriku.
Laras bertepuk tangan saat Rangga menyelesaikan nyanyiannya. Rangga berjalan kearah Laras, mengulurkan tangan untuk berdansa bersama. Laras menunduk malu.
"Aku nggak bisa, mas." jawabnya malu-malu.
Rangga menatap seakan memohon. Laras pun menghela nafas panjang, mau tidak mau menerima keinginan suaminya.
"Thanks you." bisiknya.
Rangga memantik jemarinya. Memberi kode pada orang disekitarnya. Terdengar alunan nada indah nan merdu. Alunan penuh cinta yang dipersembahkan oleh suaminya. Laras memegang bahu suaminya, mengikuti gerak kaki panjang tersebut.
"Kamu suka, sayang?" bisiknya.
"Suka sekali, mas. Terimakasih." bisik Laras.
"I love you Larasati."
"Love you to so much, Rangga Baratayudha"
__ADS_1
Selesai dinner, Rangga dan Laras duduk di pinggir rooftop.
"Happy anniversary pernikahan kita yang ke delapan, sayang. Satu tahun pertama pernikahan kita berjalan dengan bahagia. Dua tahun kita tetap bahagia hingga kita terpisah. Lima tahun aku tak bisa berada disampingmu karena keadaanku. Maafkan aku, Laras aku belum bisa menjadi suami yang siaga untukmu."
"Dulu ada yang bilang sama aku begini. Jika terjadi sesuatu padaku, apakah kamu akan tetap di sisiku. Dan aku jawab akan selalu ada di sisimu. Tapi, kenyataannya berbalik, Mas. Kita terpisah karena keadaan bukan kemauan kita, kan. Dan aku tetap menjalankan janji itu, setia menanti kamu."
"Ras, aku merasa bukan suami yang ..." ucapan Rangga terhenti. Jari telunjuk Laras sudah berdiri tegak di bibirnya. Rangga kehilangan kata-katanya mengingat semua yang mereka alami.
Tangan Rangga langsung menarik Laras lebih dekat di dadanya.
"Kita buka lembaran baru, mas. Tak usah ingat yang sudah berlalu. Kamu punya aku dan punya Bagas. Itu sudah cukup buat kita."
"Sayang, maaf aku mau nanya? apakah mau mengadopsi anggun, sesuai permintaan mama?"
Laras melepaskan pelukannya. Entah kenapa dia tidak minat untuk mengadopsi Anggun. Apalagi setelah tahu siapa ibu kandung Anggun.
"Enggak, mas. Maaf aku menolak permintaan ini!"
"Kenapa? apa karena dia anak napi? atau ..."
"Dia anak Angel, mas! mas tahu kan angel perempuan jahat itu. Dia itu .."
"Emang angel pernah punya salah sama kamu?"
"Dari bibitnya saja sudah kelihatan?" Laras tidak mau kalah.
"Sayang, tidak ada anak yang mau di lahirkan dengan kondisi seperti itu. Lahir dipenjara, menggantikan masa tahanan ibunya. Coba kamu pikirkan, Ras.
Aku tahu, dulu angel seperti apa? tapi anaknya kan nggak salah. Dia tidak bisa memilih minta dilahirkan dengan ibu seperti Angel. Dimana empati seorang Larasati?"
"Tapi, mas. ..."
"Sekarang kita pulang. Kasihan Bagas menunggu di rumah." ucap Rangga berjalan meninggalkan Laras.
"Mas..." Laras menahan suaminya.
"Hmmm..."
"Maaf.. bukan maksud aku seperti itu? tapi ..."
"Kalau kamu takut karena reputasi kita, itu tidak membedakan kamu sama mama. Kamu benci sama ibunya lalu melampiaskan ke anaknya. Sama seperti mama yang benci ibu Mala lalu melampiaskan ke kamu, ras. Nggak ada bedanya kalian."
"Mas, ..."
"Kita pulang!" titah Rangga.
"Aku lapar, mas. Rasanya sayang makanan seenak itu dianggurin." Rangga membulatkan matanya. Dia mengira ucapan maaf dari Laras tadi soal anggun. Ternyata soal makanan.
"Huft, oke kita suruh orang bungkus makanan itu. Jujur, selera makanku hilang." Rangga meninggalkan Laras sendiri di rooftop.
__ADS_1