
Setelah acara makan malam selesai, Laras membereskan piring-piring kotor lalu membawanya ke dapur. Tak ada protes atau dicegah oleh Raya. Laras pun melakukan hal itu bukan karena cari muka pada mertuanya. Melainkan merasa sudah kewajiban sebagai menantu di rumah itu.
Mila pun pamit pada Raya dan Donal. Rangga melihat Mila tak ada menyapa Laras, Rangga diminta Raya mengantarkan Mila sampai ke depan.
"Aku saja, mas. Biar aku yang antar kak Mila sampai ke depan. Mas temani Bagas dulu."
"Oke, sayang."
Cup!
Rangga mengecup pipi Laras di depan Mila. Laras pun membalas hal serupa pada suaminya. Mila yang menonton hanya bisa menggenggam di ujung bajunya.
"Kak Mila apa kabar? kenapa kakak sudah jarang main sama aku. Sudah lama kita nggak mengobrol seperti ini. Ayo kak aku pengen bicara sama kakak!" Laras terus mengoceh tanpa memperdulikan reaksi Mila.
Mila menggamit lengan Laras dan berjalan keluar teras rumah. Keduanya masih saling perang argumen.
Wanita berpostur sedikit pendek dari tubuh Mila tampak anggun walaupun hanya menggunakan setelan kaos. Di padu rok merah muda yang juga berbahan kaos.
Mila masih mencoba mengabaikan ocehan Laras. Entah kenapa adegan mesra tadi menjadi tusukan pisau di hatinya. Dadanya terasa sesak, jantungnya berdegup kencang. Ada sedikit emosi yang dia rasakan.
"Kak," tangan Laras terus meraba pandangan Mila.
"Iya," jawab Mila datar.
"Saya mau minta sesuatu sama kakak boleh?"
__ADS_1
"Apa yang kamu mau, Ras?" tanya Mila.
"Permintaan aku simpel kok, kak. Lupakan perasaan kakak pada suamiku. Kakak tahu kan kalau mas Rangga cintanya sama aku. Kami punya anak. Dan kakak tidak lupa kalau Bagas sangat mendambakan ayahnya."
Mila menghirup nafas. Detak jantungnya semakin kencang. Dia masih belum mengontrol diri. Netra membalas tatapan wanita yang dulu di tolongnya.
"Maaf, ya, Larasati. Saya tahu Rangga itu suamimu. Saya tahu kalau Bagas sangat merindukan ayahnya. Saya tahu itu dan tidak lupa hal itu.
Kalau kamu bilang kamu sangat mencintai Rangga, lalu kemana kamu selama ini. Kemana saat Rangga down dan tidak bisa melakukan apapun. Nggak ada!" Mila berharap ucapannya membuat Laras down. Namun ternyata salah.
"Saya tahu kalau dulu ada jarak yang memisahkan kami. Saya tahu kalau yang pergi dari rumah ini adalah saya. Tapi saya juga sudah setia sama mas Rangga. Saya juga yakin mas Rangga juga setia sama saya.
Oh, ya usia anda bukannya masuk kepala empat. Seharusnya anda bisa berpikir kalau apa yang anda lakukan bisa merusak citra seorang dokter. Dokter itu tugasnya melayani masyarakat. Tapi bukan berarti dia juga melayani suami orang."
"Oh, ya. Itu urusan saya, bukan urusan kamu, Laras! kamu harusnya ingat, siapa yang menaikan derajat kamu. Kamu harusnya ingat, saat kamu down siapa yang bantu. Saya! bukan teman-teman kamu itu. Yang masukkan Bagas ke TK Al-zaman, sekolah Islami yang biayanya sulit di jangkau wanita miskin seperti kamu."
"Saya sangat berterimakasih apa yang selama ini kak Mila berikan pada saya dan Bagas. Jasa-jasa kak Mila sangat besar bagi kami berdua. Tapi maaf kalau untuk urusan mas Rangga, saya tidak akan diam. Biarpun kak Mila di dukung oleh mama Raya sekalipun. Saya tidak akan mundur untuk mempertahankan rumah tangga saya.
Satu hal yang perlu kak Mila ketahui, sekuat-kuatnya kakak mencoba menggoyahkan mas Rangga, pada akhirnya mas Rangga tetap memilih aku, bukan kak Mila. Dari dulu cinta kak Rangga memang untuk aku.
Kalau kak Mila sudah tahu dari dulu adalah suami saya. Kenapa kakak tidak bilang? apa karena kakak ingin merebutnya dari saya. Saya pikir dengan title yang anda gunakan saat ini, bisa membuat pikiran anda lebih dewasa. Tapi ternyata saya salah, pendidikan boleh tinggi, tapi akhlak anda bobrok."
Mila tak memperdulikan ucapan Laras. Dia memilih memasuki mobilnya. Meninggalkan Laras yang baru saja mengomeli dirinya. Hatinya terasa panas dengan semua ucapan yang di lontarkan Laras.
"Kamu lihat Laras seberapa kuat kamu membanggakan rumah tanggamu. Namanya laki-laki kalau tidak di pancing pasti tidak akan mempan! oh ya aku lupa, bukankah Laras punya lelaki yang masih mengejarnya. Aku temui saja dia."
__ADS_1
Sepulangnya Mila, Laras masuk kedalam rumah. Sebenarnya dia tidak berniat bicara seperti itu pada Mila. Karena selama ini Mila sudah seperti kakaknya sendiri. Namun, ketika dia mengingat jebakan yang hendak di buat Mila untuk suaminya, mengharuskan dirinya tegas pada wanita itu.
Laras percaya kalau Rangga tidak akan mudah tergoda pada Mila. Tapi apa salahnya dia juga harus was-was, apalagi Mila di dukung oleh mama mertuanya. Bibirnya melengkung indah saat melihat suaminya tertidur di samping Bagas.
Ranjang Bagas berukuran 160x200 tersebut bisa menampung tiga orang sekaligus. Laras mendaratkan tubuhnya di sebelah kanan ranjang Bagas. Sementara Rangga sudah berlabuh di dunia mimpi di ranjang sebelah kiri.
Waktu terus berjalan, malam pun berganti pagi. Laras membuka matanya pelan-pelan. Mengumpulkan nyawanya, Laras terbangun saat melihat suaminya sudah tak ada di samping Bagas. Laras berpikir Rangga sudah berangkat ke kantor. Laras bangkit dari ranjang Bagas, tampak Bagas habis selesai mandi.
"Bunda, antar Bagas ke sekolah,ya?" Bagas mengangguk menyetujui permintaan bundanya.
Laras pun membersihkan diri di kamar suaminya. Tampak suasana rumah masih terlihat lengang dan sepi. Matanya menoleh ke jam dinding, sudah jam 6 pagi tapi seperti tidak ada aktivitas di dalamnya. Dia tidak mau ambil pusing.
"Kemana, ya orang-orang?" batin nya dalam hati.
"Mbak, ibu dan bapak kemana?" tanya Laras.
"Loh, non Laras nggak tahu? bapak masuk rumah sakit. Tadi malam ada yang ngabari kalau villanya kebakaran. Makanya bapak drop." cerita salah satu asisten rumah tangga keluarga Pattimura.
"Terus suami saya juga ikut ke rumah sakit?" tanya Laras.
"Enggak, non. Den Rangga sudah berangkat duluan sebelum kejadian bapak."
"Kenapa tidak ada yang memberitahukan saya?"
"Saya nggak tahu, non. ibu bilang kasihan Bagas nggak ada yang jaga. Mungkin itu sebabnya non Laras nggak dibangunkan."
__ADS_1
Laras mengendurkan nafasnya. Dia pamit akan mengantarkan Bagas ke sekolah. Dalam perjalanan dia beberapa kali mencoba menghubungi Rangga. Sayangnya ponsel suaminya tidak aktif.