Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Kapan terakhir kamu bahagia


__ADS_3

Mungkin ungkapan perasaan 'rindu itu berat' memang benar demikian dan dirasakan banyak orang. Terasa begitu menyakitkan ketika seseorang merasakan rindu terhadap seseorang namun hanya bisa memandangi potretnya lewat ponsel secara berulang-ulang. Memutar musik dengan playlist lagu rindu dan berharap perasaan itu segera sirna. Namun yang terjadi perasaan itu malah kian bergejolak dan menyiksa diri.


Ya, perasaan rindu adalah perasaan yang wajar dimiliki oleh manusia. Perasaan rindu yang kamu miliki pun bisa ditujukan kepada siapa saja terutama untuk orang tersayang. Entah itu rindu kepada keluarga, kedua orangtua, saudara, sahabat, teman, maupun kekasih. Saat perasaan rindu dipendam terlalu lama, maka rasa sakitlah yang didapatkan. Apalagi perasaan rindu akan terus menghantuimu seiring waktu.


Laras memilih pulang daripada bertahan di persidangan. Baginya jika tetap bertahan disana, akan membuat perasaannya semakin sesak. Sosok yang akan jadi penguat hatinya sudah tidak ada di sampingnya.


"Ras," suara lembut mengagetkan dirinya.


"Eva, kamu kok disini?" Laras kaget melihat sudah berdiri dibelakangnya.


"Iya aku memang sedari tadi ikut sama kamu, Ras. Kamunya yang bengong saja."


"Ras, kamu masih memikirkan soal Rangga?"


Laras mengangguk "Aku nggak tahu lagi, Va. Bagas nanyain kenapa ayahnya lama pulang? dia bahkan terus meminta video call sama ayahnya. Aku bingung mau menjelaskan bagaimana sama Bagas."


"Ya, sih kalau aku di posisi kamu juga stress mikirin anak yang nantinya ayahnya. Cici aja kalau bapaknya sehari nggak pulang nanyain terus."


Laras menyandarkan kepalanya di dashboard sofa. Menatap setiap sudut ruangan yang terasa sepi. Sementara Bagas sedang di sekolah bersama Ajeng.


"Aku pikir setelah kamu berkumpul dengan Rangga. Hidupmu akan bahagia. Tidak ada lagi airmata. Tapi ternyata Tuhan masih mau menguji kalian. Dari rasa ketidakpercayaan Rangga pada kamu. Dari soal mama mertuamu. Allah sayang sama kamu makannya kalian di uji dengan masalah. Itu untuk meyakinkan kalau kalian bisa melewatinya."


Laras mengulang ingatannya pada rentetan kehidupan yang dijalaninya. Kapan dia terakhir tersenyum? Laras tidak ingat, yang pasti selama ada di sisi Rangga senyum itu selalu ada. Bagaimana suaminya memperlakukannya layaknya seorang ratu. Bagaimana Rangga selalu ada saat dia terpuruk. Hanya saja kejadian itu lima tahun yang lalu. Sebelum mereka terpisah karena kecelakaan maut itu. Sejak bertemu lagi dengan Rangga, banyak masalah yang muncul. Dari sikap Raya yang playing victim. Sampai dia terus bertengkar dengan suaminya karena Raya. Sampai Bagas masuk rumah sakit karena keegoisan kedua orangtuanya.


Keluarga harmonis adalah keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Atau bisa diartikan dengan keluarga yang damai tentram, penuh cinta kasih atau harapan, dan kasih sayang. Hal ini bisa menjadi landasan dalam berkeluarga, agar senantiasa mendapat keridhoan Allah SWT.kondisi keluarga yang menikmati kebersamaan dalam suka dan duka. Saling bertoleransi, saling melindungi, saling membantu dan menyayangi satu sama lain. Selalu ingin membahagiakan anggota keluarga lainnya, itulah yang disebut keluarga yang bahagia.


"Kita mau kemana?" tanya Laras saat Eva mengatakan akan mengajak dirinya jalan-jalan.


"Ya, jalan dong. Refreshing. Daripada kamu sedih mikirin suamimu."


"Ya, tapi kemana?"


"Ada deh, kamu ikut aja deh. Diajak jalan gratis juga."


"Bentar, kita jemput Bagas, ya?"

__ADS_1


"Bagas sudah sama Adul dan Sasti."


"Adul dan Sasti? sejak kapan mereka seperti itu?"


"Nggak ada sejak kapan? mereka cuma temenan biasa sama kayak kita dengan Adul. Yuk, ah. Daripada ngobrol melulu." Eva menarik tangan Laras meninggalkan apartemen.


Mobil pun meninggalkan pelataran parkir apartemen. Laras duduk di belakang bersama Eva. Sementara sopir kiriman dari keluarga Donal duduk sendiri di depan. Lelaki berjangkuk tinggi dengan rambut gondrong, berjambang penuh di sekitar bibir. Laras menebak itu sopir baru. Karena dia belum pernah melihat si sopir itu.


Laras memandang kearah jalanan. Mengingat langit semakin terik, padahal semalam hujan lebat. Tak ada wajah ceria seperti biasanya. Masih tetap Laras yang memikirkan masalah yang terjadi.


"Tunggu ...!" Laras meminta sang sopir menghentikan mobilnya.


"Ada apa, bu?" tanya sang sopir.


"Aku pengen beli sop iga. Bisakah kita mampir sebentar. Bagas dan mas Rangga suka sekali sama sop iga."


"Baiklah, bu."


"Bentar, kamu pilek ya. Dari tadi cara ngomong kamu seperti suara hidung." tanya Laras yang merasa aneh dengan suara pak sopir baru.


"Enggak,Bu. suara saya memang begini." jawab si sopir.


Setelah membeli dua bungkus sop iga, Laras kembali masuk ke mobil. Pak sopir dari tadi hanya mengawasi gerak-gerik Laras sembari tersenyum kecil. Eva yang sedari tadi merasa tidak asing dengan sosok sopir baru. Tapi perasaan itu di kesampingkan.


"Laras kayaknya suka sekali dengan sop iga, ya?" tanya sopir.


"Kan tadi dia bilang, itu kesukaan anak dan suaminya. Eh, kok dia beliin yang punya Rangga, ya? aduh, Laras. pasti saking down-nya lupa kalau suaminya ditahan. Dulu waktu suaminya sakit, Laras suka nangis kalau masak sop iga."


"Sop rasa airmata dong." suara hidung pak sopir membuat Eva terkikik.


"Kamu saudara si Luna, ya?"


"Luna siapa, mbak?"


"Lucinta Luna,"

__ADS_1


"Siapa itu?" si sopir makin bingung.


"Ah, sudahlah. Itu Laras sudah mau masuk mobil."


"Yuk, berangkat." Laras sudah duduk di kursi belakang.


"Bu, Laras sini saja di depan." ucap pak sopir.


"Nggak, pak. Aku mau disini saja." sela Laras.


"Aku ingin kamu disini, Ras." batin si sopir.


Mobil melaju menuju tujuan seharusnya. Laras tetap diam tanpa seribu kata. Sesaat dia hanya terdiam sambil memejamkan matanya. Hembusan angin yang menyentuh kulitnya. Angin yang sejuk dari jendela mobil.


Matahari tidak terlalu terik, membuat Laras masih betah mencondongkan wajahnya di kaca mobil. Udara yang cocok untuk perasaan hatinya saat ini. Sesaat Laras pun tak bisa berkompromi dengan matanya. Tak berapa lama rasa kantuknya sudah menyerang. Laras pun tertidur.


Sesaat matanya terbuka. Laras sudah berada di sebuah kamar luas. setiap sudut kamar di penuhi bunga mawar merah. Bahkan aroma mawar yang memenuhi Indera penciumannya. Laras sesaat takjub melihat dekor kamarnya.


"Siapakah yang mendekor tempat ini? pasti sosok yang romantis."


Laras Mengambil salah satu kelopak bunga yang berserakan di lantai. Mencium wangi bunga tersebut. Matanya masih mengedarkan pandangan setiap sudut ruangan. Masih dalam keadaan takjub, Laras berjalan keluar dari kamar. Anehnya di luar pun di hiasi aneka mawar merah. Laras menemukan secarik kertas.


...Jika cinta itu manis, tak perlu gula sebagai pemanis. Kamu sudah menjadi gula dalam hatiku....


Laras tersenyum kecil saat membaca kata itu. Sebuah kata puitis namun penuh makna.


"Sebentar... ini siapa yang mengirim kata ini? siapa yang membawaku kesini?"


"Eva.. Bagas... Bagas kamu dimana, nak." Laras terus memanggil orang-orang yang dia kenal. Tak mungkin dia mencari suaminya, karena dia tahu kalau suaminya masih di penjara.


Sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Laras sedikit tersentak saat tahu atau orang lain yang menyentuhnya.


*


*

__ADS_1


*


Siapakah itu?


__ADS_2