Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Bangun dari Koma


__ADS_3

Sembilan bulan kemudian...


Sampai saat ini aku masih berusaha menghormati bude Endang sebagai saudara ayahku. Meskipun dia tahu statusnya cuma menumpang di rumah ayah. Tapi sikap kedua anaknya sering tidak dapat ku tolerir. seperti Ratna dan Najwa, sering bangun siang, saat aku pontang-panting bangun sebelum subuh mempersiapkan jualan. Mereka sudah berbulan tinggal di rumahku. Banyak tetangga yang mengeluhkan kelakuan Ratna yang hobi ngutang sana-sini. Najwa yang suka bawa pria kalau aku sedang tidak dirumah. Bude Endang pun sepertinya tidak berusaha menegur anaknya. Dia masih bersikap cuek ketika para tetangga mengeluh soal dua sepupuku itu.


Haruskah aku usir, sementara kata bude Endang, rumah itu memang dibangun atas uang ibu, tapi tanahnya milik kakekku, dimana dia merasa masih punya hak dengan tanah itu. Katanya milik keluarga besar pihak mereka. Entahlah aku tidak begitu paham.


Baik ayah maupun ibu tidak pernah menceritakan silsilah keluarga pihak kakek. Paling ada famili ibu yang dulu berkumpul di suatu desa namanya muara aman, salah satu desa terpencil dari kota Bengkulu. Itu juga terakhir diajak kesana waktu kelas lima SD. Dan katanya yang tua sudah banyak meninggal, sedangkan yang muda sudah pada berpencar mencari kehidupan lebih baik. Tapi kalau dari keluarga ayah, jujur tidak ada yang aku kenal. Kecuali kakekku, yang terakhir kami bertemu saat aku masih taman kanak-kanak. Tak banyak yang aku ingat tentang mereka. Karena dari saat ayah meninggal sampai ibuku meninggal pun tak ada sanak famili ayah yang datang.


Kembali ke ceritaku.


Sampai saat ini aku belum tahu kabar mas Rangga. Jika memang dia sudah tiada pasti aku mendengar beritanya. Tapi sampai saat ini aku pun tak tahu seperti apa keadaannya.


beberapa yang lalu aku mencoba memesan tiket untuk ke Jepang. Namun apa yang terjadi kartu ATM serta rekeningku di blokir oleh pihak mama Raya. beberapa waktu yang lalu aku mendengar kabar kalau Ina masih di Indonesia. Ingin rasanya minta tolong pada mereka.


Tapi aku malu, bukankah setiap masalah rumah tangga termasuk ranah privasi. Tidak bagus terlalu di umbar. Ya Allah apa yang harus aku lakukan sekarang.


"Ras,"


"Iya, bude."


"Sudah berbulan saya disini kok tidak pernah lihat suamimu pulang?"


"Dia kan berobat, bude."


"Mertuamu?"


"Mereka mendampingi suamiku bude. Suamiku koma."


"Masya Allah, Laras. Jadi mereka mengabaikan kamu, nak."


"Ya Allah, tega bener mertua kamu, ya."

__ADS_1


"Mereka orang baik, Bude. Kalau tidak, mana mungkin mereka mau nikahin anaknya sama gadis miskin seperti saya. Hanya saja saat ini kondisi saya sedang tidak memungkinkan ikut."


"Tapi, Ras. kata Eva..."


"Eva bilang apa,Bude?"


"Ah, nggak apa-apa, bude sholat dulu, ya." Bude Endang meninggalkan Laras yang mempersiapkan bahan untuk dagangan besok.


Laras duduk di kursi kamarnya menatap langit yang berwarna kemerahan. Anak-anak bermain di kali kecil belakang rumahnya. Lama dirinya termenung memandang aktivitas anak-anak tersebut.


Apa kabar kamu, mas? bagaimana keadaanmu sekarang? semoga baik-baik saja. Jika kamu sudah sehat pulanglah, mas. Kami sangat merindukanmu, aku dan calon anak kita sangat ingin bertemu denganmu.


Laras mengusap air matanya yang terus menetes. Dadanya terasa sesak. Beberapa kali dia mencoba mendatangi kediaman mertuanya. Tapi mereka seperti tidak pernah ada dirumah.


Sesaat Laras mencoba berdiri, perutnya yang sudah membesar.


Tapi---


klik


Sebuah langkah kaki berjalan ke dalam sebuah kamar. Langkah yang diikuti tatapan pilu dari si pemilik mata tersebut. Tak ada suara yang tersedengar, hanya suara detakan mesin komputer di samping pasien. Tak ada siapapun yang menjaga pasien.


Dalam kamar itu ada seorang lelaki yang masih berjuang melawan maut. Tubuhnya di balut oleh peralatan medis. Sesaat kemudian sepasang suami istri masuk ke dalam ruangan. Mereka senantiasa menanti keajaiban. Sudah beberapa bulan belum ada perubahan, bahkan sudah beberapa kali pindah tempat.


Saat ini pasien tersebut di rawat dengan penanganan pribadi. Tentu saja dengan fasilitas lengkap dari rumah sakit, mereka juga menyewa lima orang perawat.


Ditatapnya pasien yang masih memejamkan mata. Tangan halusnya memegang tangan yang dililit tali infus. Bulir airmatanya kembali mengalir di wajah mulusnya. Bulir yang sempat kering beberapa waktu yang lalu kini kembali turun. Apalagi karena berharap putranya cepat bangun.


"Sudah sembilan bulan lamanya kamu tertidur, nak. sudah sembilan bulan kamu masih seperti ini. Ya Allah seandainya memang kamu mau melepaskan anakku, aku ikhlas. Jangan kau siksa anakku seperti ini." tangis Raya sambil membelai rambut putranya.


"Ma, papa minta kita jemput Laras. Demi kesembuhan Rangga." Bujuk Donal.

__ADS_1


"Tidak! sampai kapanpun aku tidak mau Laras kembali kesini. Dia sudah meninggalkan Rangga, itu artinya dia sudah tidak peduli dengan keadaan Rangga."


"Bagaimana dia bisa tahu keadaan Rangga kalau kamu tutup aksesnya. Kamu blokir rekeningnya.


Bagaimana kalau nanti Rangga bangun menanyakan keberadaan isterinya. Pikirkan itu, Raya!"


"Itu karena dia tidak bisa diharapkan. Dia mandul tidak bisa memberikan kita cucu."


gusar Raya.


Donal menarik istrinya keluar ruangan. Rasanya tidak etis berbicara di depan orang sakit.


"Tapi---"


"Aku memang pernah mengangkat anak itu dari jurang kemiskinan. Tapi saat setelah dia menjadi menantuku, dia tidak nurut lagi sama aku. Sejak awal aku mewanti-wanti agar memeriksakan kesuburannya. Usiaku tak muda lagi, mas. Bisa saja sewaktu-waktu Tuhan memanggilku, aku hanya ingin melihat cucuku lahir itu saja. apa salah dengan keinginanku. Salah, mas?"


"Kamu tidak salah, Raya. Tapi cara kamu menyampaikan keinginanmu yang salah. Tidak ada yang instan, semua butuh proses. Waktu Laras kecelakaan dia sangat membutuhkan dukungan, tapi kamu malah menyudutkan dirinya. Semua wanita pasti ingin hamil, Raya. Aku juga nggak pernah nuntut kamu untuk hamil lagi."


"Mas, kenapa kamu terus membela Laras? apa karena dia anak Mala? perempuan yang pernah kamu cintai. Apa karena itu kamu sangat menyayangi Laras? jawab, mas."


"Kenapa kamu bawa Mala sih? ini nggak ada hubungannya dengan dia."


"Ada. Karena itu alasan utama aku mulai membenci Laras. Karena dia anak Kumalasari, perempuan yang diam-diam masih kamu datangi. Kamu kira aku tidak tahu dengan pertemuan kalian, hah!"


Sementara di ruangan suster penjaga berlari keluar. "Ibu, den Rangga kejang-kejang."


"Ya Allah, Rangga!" pekik Raya


"Tangannya bergerak, ma." seru Donal.


"Ma, pa, Laras ... aku dimana? kenapa gelap sekali."

__ADS_1


__ADS_2