Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Senandung hati


__ADS_3

Pukul 07.00 di Kompleks Perumahan Ciracas.


Mushola Al- Taqwa.


Khadijah merupakan istri pertama Nabi Muhammad. Di mana riwayat mahsur menyebutkan kalau saat menikah Khadijah berusia 40 tahun, dan Rasulullah berusia 25 tahun. Tapi, perbedaan usia tak menjadi penghalang rumah tangga mereka, Bun.


"Selisih usia tidak menjadikan Rasulullah SAW canggung apalagi kehilangan kendali sebagai seorang suami. Apalagi Khadijah berasal dari keturunan suku yang mulia. Di samping akhlak dan pribadinya yang luar biasa"


Muhammad, aku Nafisah binti Munyah. Aku datang membawa berita tentang seorang perempuan agung, suci, dan mulia. Pokoknya ia sempurna, sangat cocok denganmu. Kalau kau mau, aku bisa menyebut namamu di sisinya,"


Khadijah melihat sosok Nabi Muhammad SAW yang baik, jujur, dan patut ditauladani sehingga membuat Khadijah tertarik padanya. Melansir laman NU Online, Khadijah meminta salah satu sahabatnya, Nafisah binti Munyah untuk meminang Nabi Muhammad SAW.Selama menikah dengan Khadijah, Nabi Muhammad tak pernah menikahi wanita lain. Itu sebabnya, banyak yang mengatakan Khadijah adalah cinta sejati Rasulullah.


Sejak awal menikah, paman Nabi, Abu Thalib mengatakan kalau Nabi Muhammad bukanlah sosok yang berharta. Tapi, tak perlu diragukan lagi jika Muhammad SAW adalah sosok yang sangat mulia.


Ternyata, pihak Khadijah juga tak mempermasalahkan hal itu. Perwakilan keluarga juga menegaskan kalau mereka menerima pinangan Nabi Muhammad karena memang telah terpikat kemuliaannya.


"Yang menarik meskipun Khadijah kaya, cantik, dan orang kaya tapi akhlak serta kepribadiannya luar biasa. Menempatkan Rasulullah yang lebih muda dan tidak membawa apa-apa (harta) di atasnya,"


Laras dan Rangga duduk di barisan menurut gender mereka. Dimana mereka sedang mengikuti acara tausiyah di mesjid dekat rumah Eva. Setelah menjemput Bagas, Rangga dan Laras diminta beristirahat di rumah Eva. Mengingat wajah keduanya sangat letih.


Tadi saat mereka sampai. Eva mengabari kalau ada pengajian pagi di mushola tersebut. Ustad Jaya katanya memperkenalkan anaknya yang baru pulang kuliah di Mesir. Rangga pun mengajak istrinya pergi mengikuti kajian tersebut. Walaupun wajah mereka terlihat sedikit lelah.


Setelah mengikuti tausiyah pagi di mushola dekat rumah. Laras dan Rangga pulang ke rumah Eva. Sebelum mereka meninggalkan mushola Rangga berbincang-bincang pada salah satu pengurus mushola.


"Alhamdulillah, pak Rangga sudah sembuh sediakala." ucap ustad Jaya.


"Terimakasih, pak ustad. Berkat doa orang-orang disini. Doa dari istri saya dan keluarga saya bisa melewati proses ini."


"Waktu pak Rangga di kabarkan koma. Kami disini sempat mengadakan sholat ghaib. Karena ingin mendoakan bapak supaya cepat sadar." jelas ustad Jaya.


"Terimakasih, pak. Saya sangat terharu dengan kebaikan kalian."


"Bagaimana mungkin kami diam saja, pak. Anda adalah satu-satunya donatur terbesar mushola ini. Tapi maaf kami belum bisa memenuhi keinginan anda untuk menjadikannya mesjid. Karena saat itu anda sedang musibah, dan lokasi tanahnya tidak cukup untuk di jadikan mesjid." jawab ustad Jaya.


Laras menyikut suaminya. Pasalnya apa yang di ucapkan pak Jaya sangat berbanding terbalik. Laras ingat saat Rangga kecelakaan dulu, tidak ada sholat ghaib seperti yang di ceritakan ustad tersebut.


"Maaf, pak. Nanti saya akan kesini lagi. Membicarakan tentang pemugaran mushola yang tertunda beberapa tahun yang lalu." Rangga dan Laras pamit meninggalkan mushola.

__ADS_1


Laras ingin bicara soal pendanaan mushola yang dirasa adalah permainan. Selama dia tinggal di sana, tidak ada pihak mushola membicarakan soal pemugaran. Tahu-tahu mereka sudah merenovasi bagian mushola belakang. Memang saat itu Laras tidak berpikir kalau dana yang dipakai merupakan hasil uang suaminya. Tapi belum lama ini, dia baru tahu kalau yang yang dipakai adalah sumbangan dari suaminya.


Itupun dia tahu dari Adit. Kalau Rangga sempat berpesan agar tetap menyumbangkan ke mushola tempat Laras tinggal. Dari Adit juga Laras tahu kalau tindakannya sempat ketahuan Raya.


"Mas, aku minta kamu memantau lagi soal dana mushola."


"Kenapa?" tanya Rangga.


"Apa yang di ucapkan ustad Jaya sangat berbanding terbalik dengan kenyataan. saat kamu celaka tidak ada sholat ghaib seperti yang dia bilang. Boro-boro sholat ghaib datang berbelasungkawa pada kejadian kamu juga tidak."


"Benarkah? kenapa baru bilang sekarang. Kenapa tidak waktu di sana tadi. Biar dia malu sekalian."


Mereka melangkah kaki menuju rumah Eva. Memasuki gang kecil dengan tanjakan tinggi. Rangga membungkuk supaya Laras bisa naik ke punggungnya.


"Buat apa?"


"Ini tanjakannya tinggi nanti kamu jatuh. Sekarang naiklah biar aku yang membawamu naik kesana."


"Mas, aku sudah biasa. Apalagi sekolahku dulu searah dengan rumah Eva."


"Naiklah, ini perintah suami."


Mereka sampai di depan rumah Eva. Di depan pintu Eva menyambut pasangan halal itu bersama Bagas.


"Bunda dari mana?"


"Dari mushola, nak. Bagas sudah makan belum." Bagas menggeleng.


"Dia menunggu kalian. Masuklah, nanti makanannya keburu dingin." Eva mengajak Laras dan Rangga masuk ke dalam rumah.


"Jadi kamu sudah ketemu Ratna?" tanya Eva sambil menyiapkan sarapan buat tamunya.


"Iya, Va. Aku sudah ketemu mereka." Laras menata meja makan sedemikian rupa.


"Terus dia bilang apa?"


"Panjang ceritanya, Va. Yang pasti Ratna tidak merasa bersalah dengan yang dia lakukan. Begitu juga bude Endang. Mereka minta maaf, tapi mereka juga mengolokku." jawab Laras.

__ADS_1


"Huuhh, dasar. Di kasih hati minta jantung. Makanya dari awal mereka datang aku punya feeling nggak baik." cerocos Eva.


"Kamu tahu semalam ada polisi mendatangi rumah ibu Mala. Rame banget jadi tontonan warga." cerita Eva.


"Kenapa?"


"Katanya ini ada kaitannya sama mertua kamu, Ras."


"Mama Raya? kenapa emangnya?" Laras ikut penasaran.


"Sayang," Rangga datang menghampiri istri.


Tampak wajah Rangga sangat kusut. Laras pun mencoba ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Mama di tangkap polisi. Atas keterangan dari ketiga wanita itu."


"Mas, kamu pulang dulu saja. Biar aku yang jaga Bagas."


"Kalian berdua yang kesana. Bagas biar sama aku saja. Lagian ini minggu, biar Bagas bisa main sama Sadam."


*


*


*


Maaf, ya. Kalau part nya masih kurang keren. Mood booster nya lagi naik. Anak sudah sekolah. Masih di tunggu sampai pulang.


Pulang sekolah ngadap kerjaan rumah tangga. Jaga toko terus beresin rumah. Di sekolah masih aku sempatkan curi-curi waktu buat nulis. Takut mengecewakan kalian sebagai pembaca.


Terimakasih sudah mau mampir ke karya remahanku. Ya kalau di bandingkan dengan yang pemes masih kalah jauh. Tapi aku akan berusaha tetap up demi pembaca disini.


Seperti janji saya dulu, bakal ada give away untuk dua kategori.


Berdasarkan rangking pembaca dan siapa yang paling rajin kasih komen.


Masing-masing dapat pulsa data 25 ribu untuk satu pemenang tiap kategori.

__ADS_1


Dan itu di mulai Minggu depan


__ADS_2