
Setiap kehidupan pasti akan ada masalah. Baik masalah ringan dan masalah berat. Biasanya dalam menanggapi masalah ada dua pikiran yaitu berpikir dengan kepala dingin dan berpikir dalam suasana panas. Tidak semua bisa berpikir dalam keadaan kepala dingin, apalagi kalau sudah menyangkut masalah hati. Sebagian malah suka mengandalkan emosi, pikiran yang panas akan membuat kita terjerumus masalah yang lebih dalam.
Itu yang awalnya Laras rasakan saat tahu dirinya punya masalah dengan kesuburannya. Pikirannya menerawang karena ketakutannya pada mama mertuanya. Salah! Iya dia salah karena tidak berpikir dengan kepala dingin. Maka saat berada di mesjid camii dia langsung berdoa memohon ampun pada Allah. Tangisan membasahi mukena yang dipakainya.
"Ya Allah, maafkan hamba. Hamba telah durhaka pada mas Rangga.
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.
Tapi kenapa mas Rangga menyembunyikan hal ini. Insyaallah aku akan menerima kenyataan kalau aku tidak bisa memberinya keturunan.
Tapi hamba takut mama mertuaku marah akan hal ini. Hamba takut dia akan mengusirku jika aku tidak bisa memberinya cucu.
Hamba hanya bisa mengadu kepada mu ya Rabb. Hanya padamu hamba pasrahkan takdir dan hidupku."
Laras menyelesaikan doa setelah sholat zhuhur. Tak berapa lama mukena sudah terlipat rapi.
Masih dalam melamun, Ustadzah Sato mendatangi Laras. Mungkin karena mereka sama-sama wanita, ustadzah Sato merasa Laras sedang tidak baik-baik saja. Keduanya duduk bersila saling berhadapan di koridor masjid. Tangan ustadzah Sato menggenggam erat seakan menguatkan perasaan dan hati Laras.
"Mrs. Larasati, maaf kalau saya lancang. Apakah ada sesuatu yang memberatkan hatimu?"
Laras hanya diam tidak bergeming. Pikirannya masih seputar ketakutan kalau mertuanya tahu. Termasuk kekecewaan dirinya pada suaminya, yang menyembuhkan keadaan dirinya. Tangannya menggenggam erat ujung bajunya.
Baru enam bulan mereka menikah tapi sudah merasakan masalah yang begitu berat. Laras ingat saat bertemu Ina di kantor Rangga, karena suami Ina juga bekerja di sana, dalam penglihatan Laras, Ina dan Alam semakin bahagia. Meskipun mereka masih pengantin baru.
"Mrs,? Anda tidak apa-apa?" Suara ustadzah Sato mengagetkan lamunannya.
Laras menggeleng seketika. Dia menjelaskan kalau hanya ingin menenangkan diri saja.
"Tidak apa-apa kalau anda tidak mau cerita. saya tidak akan memaksa, hanya saja saya melihat wajah anda sedikit pucat. Dan kaki anda seperti terluka." Ucap ustadzah Sato melihat kaki Laras memerah.
"Tadi saat saya memasak terkena tutup presto yang terjatuh. Makanya kaki saya memerah sebab tutupnya dalam keadaan panas. Tadi saya sudah mengolesnya pakai odol. Saya pikir awalnya tidak apa-apa tapi ternyata sakit juga." Cerita Laras.
"Oh, begitu. Semoga kakinya itu cepat sembuh."
"Terimakasih ustadzah Sato."
__ADS_1
"Sama-sama, saya tinggal dulu nyonya." Ustadzah Sato berjalan meninggalkan Laras. Dengan gaun yang panjang serta wajahnya yang ditutupi cadar ustadzah Sato melenggang hingga menghilang dari pandangan Laras.
Perempuan dalam Islam merupakan makhluk Allah yang memiliki banyak keistimewaan. Sebagai seorang anak yang akan tumbuh dewasa menjadi seorang istri dan seorang ibu, seorang perempuan sangat dimuliakan perannya dalam kehidupan.
Alquran menjelaskan bahwa kedudukan perempuan dalam Islam sama dengan laki-laki.
Pengalaman wanita Muslim sangat beragam di antara dan di dalam masyarakat berbeda. Pada saat yang bersamaan, pengikutan mereka terhadap Islam menjadi pembagian faktor yang berdampak pada kehidupan mereka.
Femiliti is a super power, surga berada dibawah telapak kaki ibu yang berarti perempuan. Kepada siapa kami mengabdi Allah menyebutkan ibumu sebanyak tiga kali baru setelah itu ayahmu.
Maka janganlah kamu melupakan jasa ibumu, melahirkan, membesarkan seorang anak itu bukan hal perkasa gampang.
Lain ceritanya kalau yang hamil laki-laki ya nyonya-nyonya. Kalau begitu cerita semua lelaki akan menghargai wanitanya. Nggak ada lagi laki-laki yang suka mengatakan kalau istrinya membosankan atau bagaimana. Itulah keuntungan kita sebagai wanita.
Coba saya tanya sama tuan-tuan disini, ada tidak yang suka membantu istrinya bekerja di rumah? Kalau ada saya acungkan jempol, kalau tidak ada saya doakan pulang dari sini dia dapat hidayah menjadi suami idaman.
"Amiiin." Sahut para jamaah mesjid.
Laras tersenyum mendengar ceramah ustad Ahmed. Cara penyampaiannya enak, mudah dimengerti. Jujur selama dia mengenal beberapa lelaki dari ayahnya, kakaknya dan sekarang suaminya, mereka adalah lelaki hebat dimata Laras.
Ayahnya, Fauzan tidak pernah marah seumur hidup Laras bersamanya. Apapun kesalahannya Fauzan hanya bilang "Jangan di ulangi lagi. Kamu kan sudah besar, harus tahu mana yang benar mana yang salah. Kamu nanti akan menjaga ibumu kalau ayah tidak ada." Laras pun menuruti nasihat ayahnya.
Laras memejamkan matanya mengingat kenangan bersama ayah, ibu dan kakaknya. Tangannya menggenggam erat mukena yang baru saja dilipatnya. Seakan merasa harum wangi mukena mengingatkannya pada mendiang ibunya.
Laras berdiri di sebuah ruangan berwarna putih. Tak ada sekat apapun dalam ruangan tersebut. Kakinya terus berjalan tanpa tujuan. Mencari celah untuk pemberhentian.
"Laras,"
Suara lembut itu memanggilnya. Laras berputar mencari arah suara namun tetap saja kosong.
"Laras,"
Lagi-lagi suara itu menyapanya.
"Ibu, apakah itu suara ibu? Ibu dimana, Laras rindu pada ibu."
__ADS_1
"Laras," suara itu terasa dekat.
Laras berlari memeluk sang ibu. Rasa rindu yang tak terbendung diluapkannya. Ibu dan anak tersebut saling melepas rindu.
"Nak, kamu apa kabar?"
"Bu, Laras rindu sama ibu. Laras minta maaf saat-saat terakhir tidak ada disamping ibu. Ibu benar memasuki kehidupan mereka tidak seindah seperti yang dibayangkan, ibu benar kalau mereka merasa kita bukan levelnya.
Maafin Laras, Bu, saat itu tidak mengindahkan nasihat ibu agar tidak menerima tawaran mereka."
"Apa mereka jahat padamu, nak?"
Laras menggeleng "Mereka tidak jahat,Bu. hanya saja bentangan itu sangat terasa. dimana jauh sekali kesenjangan antara aku dan mereka. Meskipun mereka sangat baik kepadaku, tapi aku merasa masih ada jarak diantara duniaku dan dunia mereka."
"Laras, sekarang kamu sudah menikah. Hidupmu adalah untuk suamimu. Jika ada yang merasa ganjal dalam hidupmu, mengadulah pada Allah. Karena hanya dia yang mengatur semua garis takdir kita.
Istri adalah cerminan suami. Jika suamimu baik, istrinya juga baik. Apapun masalah diantara kalian dibicarakan dengan kepala dingin.
Ibu pernah bertengkar dengan ayahmu, lalu pulang ke rumah Mbah-mu. Tapi setelah mendapat wejangan dari Mbah-mu, ibu sadar kalau sikap ibu akan memberatkan ayahmu di akhirat nanti."
Laras terbangun melihat di sekelilingnya. Matanya mengedarkan pandangan di setiap sudut ruangan.
"Aku dimana? ini bukan di apartemen!"
"Sudah sadar, kamu!" suara wanita seperti meninggi.
"Ma..mama .." Laras melihat Raya sudah berdiri di hadapannya.
"Iya, ini saya. Kenapa? Kaget? nggak nyangka saya bisa disini?" Raya masih menatap Raya dengan tajam.
"Manja benar kamu, ras. Hanya karena kena panas minta di bawa ke rumah sakit. Lagian kalau sakit kenapa keluyuran!"
"Maaf, ma." Laras hanya menunduk.
"Sayang, kamu sudah sadar." Rangga langsung mendekati istrinya.
__ADS_1
"Maafkan aku, mas. Sudah membuat kamu cemas."
"Heh, cengeng. Sudah! sebaiknya kita pulang. Lagian cuma kaki sakit saja, manja minta ampun."