
"Desi!" Panggil Mila pada teman sejawatnya.
Wanita usia 40 tahun tersebut berlari mendekati temannya itu.
"Mila?" Desi tampak heran melihat temannya dengan wajah kusut.
"Apa benar mamaku di rawat disini? apa yang terjadi, Des?"
"Aku tidak tahu, Mila. Tadi ada beberapa orang menemukan mama kamu pingsan di rumah. Terus mereka tahunya kamu dinas disini. Mereka minta bertemu dengan kamu, Mila. Kamu dari mana saja."
"Aku tadi ada acara pribadi dengan teman." kilahnya.
"Bukan karena video tadi?" Desi bertanya sambil menyunggingkan senyum.
"Vi .. video apa, sih?"
"Jadi kamu nggak tahu apa pura-pura nggak tahu?" selidik Desi.
Memang Mila sebenarnya tidak tahu kalau video keributannya sudah tersebar. Dia juga kurang begitu suka mantengin sosmed. Karena waktunya lebih tersita dengan profesinya.
"Video apa sih?" Mila masih belum paham.
Desi memperlihatkan video keributannya di cafe tadi. Mila hanya bisa mengatupkan kedua tangannya. Dia tidak menyangka ada yang memvideokan keributan itu.
"Harusnya kamu tahu bagaimana bersikap di depan umum, Mila. Kalau seperti ini bukan hanya profesi kamu yang jadi taruhannya. Tapi instansi kita juga akan kena imbasnya." kata Desi.
"Ini bukan waktunya kita permasalahankan soal sikap atau bagaimana, Des. Ini juga terjadi dengan spontan. Bagaimana etika orang yang menyorot privasi orang lain untuk di sebarkan ke khalayak umum. Ke sosial media pula.
Ini namanya pencemaran nama baik, Des." kata Mila.
Mila tahu Desi merasa tersaing sejak dirinya masuk kerja di rumah sakit tersebut. Maka tidak heran kalau Desi tiba-tiba menginterogasi supaya namanya jelek.
"Dan video yang itu sudah di pegang pak Rahmat, selaku pemilik rumah sakit ini. Jadi kamu siap-siap untuk hengkang dari sini."
__ADS_1
"Silahkan! saya tidak takut. Masih banyak rumah sakit lain yang bisa memperkerjakan saya. Saya punya kinerja yang bagus." Mila masih percaya diri.
Mila berjalan mendekati salah satu perawat menanyakan ruang rawat mamanya.
"Ibu anda di ruang Cempaka, dokter Mila. Sejak di bawa hingga saat ini. Beliau belum sadarkan diri. Tapi sudah di periksa sama dokter Fadli." jelas suster.
"Ya Allah mama." Mila berlari menuju ruang rawat mama Resi.
"Dia masih belum sadar, Mila." suara bariton terdengar membelakanginya.
"Fadli," lelaki itu senyum pada mantan kakak iparnya.
Mila meneteskan air matanya. Ia tidak menyangka hari ini teramat sial baginya. Rencananya gagal, dia di sidang oleh karyawan cafe. Bahkan Dini yang teman baiknya pun enggan membantu dirinya. Di tambah Rangga yang marah saat tahu dia akan menggunakan obat perangsang.
"Aku tidak menyangka kamu seperti ini, Mila. Kamu tega menjebak aku dengan obatmu itu. Asal kamu tahu saat melihat video ini Laras sangat mencemaskan kamu, dia takut kamu kenapa-kenapa. Tapi ternyata rasa khawatir Laras tidak tepat. Karena apa? karena dia sangat menghormati kamu!"
Mila awalnya menunduk lalu menjawab. "Maaf. Aku ... aku mencintaimu Rangga. Sudah sejak dulu, meskipun aku tahu dulu kamu terobsesi dengan adik tirimu, Karina. Tapi perasaan itu tak pernah pudar."
"Bukankah Laras yang pergi meninggalkan kamu, Ga. Dia yang pergi dengan lelaki lain. Sekarang saat kamu sudah sehat. Kamu kembali bersamanya. Saat kamu buta dan lumpuh, siapa yang ada disamping kamu? aku, Rangga! aku yang setiap saat meluangkan waktu buat kamu. Bukan istri kamu!"
Rangga meninggalkan Mila yang masih di sidang. Beberapa saat lelaki itu berbalik.
"Mulai sekarang jangan ganggu rumah tanggaku lagi. Aku mencintai Laras. Dan tidak akan ada yang bisa menggeser posisinya dihatiku. Satu lagi, kamu tidak usah dekat-dekat dengan Laras. Kalau aku lihat kamu masih mencoba mengganggu rumah tangga kami, jangan menyesal jika aku berbuat sesuatu yang bisa meng hancurkan kamu, atau pun karirmu. Camkan itu!" kata Rangga setelah keluar dari tempat Mila berada.
"Jadi karena dia seorang Camila Rengganis melakukan semua ini. Ya ampun, Mila. Kamu itu perempuan berkarir. Hanya karena pria beristri kamu rela menurunkan harga diri. Ckckck...Nggak nyangka!"
Dini yang sedari tadi menonton drama sedih milik Mila dan Rangga, angkat bicara. Dia sangat menyayangkan sikap Mila yang terobsesi dengan Rangga. Padahal dia juga tahu kalau Rangga sudah beristri.
Mila tak mempedulikan cibiran Dini. Dia memilih pergi dari cafe. Kakinya melangkah melihat betapa bahagianya Rangga dan Laras komplit bersama Bagas. Perasaannya terasa sesak, tak terasa air matanya. Terbayang saat-saat dia merawat Rangga semasa masih sakit.
"Kalian tidak tahu berterimakasih!" umpatnya dalam hati.
Kembali ke masa sekarang. Dimana sang mama terbaring lemah di rumah sakit. Tempat dimana dia bekerja saat ini. Tampak Fadli masih berada di ruangan ibunya.
__ADS_1
"kamu kembali saja, Dli. Biarkan aku yang menemani mama."
"Nggak, kak Mila. Aku cuma mau menanyakan soal wasiat kakakku. Untuk menjaga kak Mila selamanya untuk menggantikan ..."
"Tidak ada yang bisa di ganti, Fadli. Menikah itu sekali seumur hidup. Jadi selamanya kakakmu tidak tergantikan oleh siapapun."
"Termasuk Rangga?" tanya Fadli.
"Nggak usah bawa bawa Rangga. Tidak ada sangkut pautnya dengan dia. Rangga itu temanku. Anak teman mamaku. Apapun dia dan siapapun dia tidak ada urusannya sama kamu." jawab Mila ketus.
"Iya, emang tidak ada urusannya denganku. Tapi Tante resi sudah cerita soal kedekatan kak Mila dengan yang namanya Rangga itu. Dia masih suami orang, kak."
Fadli meninggalkan Mila yang masih keras kepala. Dia tidak masalah kalau kakak iparnya menolak turun ranjang. Tapi dia takut kakaknya di cap pelakor oleh orang-orang.
"Fadli, kamu disini."
"Iya Dok, ada apa?"
"Kamu ada lihat Mila?"
"Ada di ruangan ibunya. Ada apa?"
"Anu, Dokter Fadli, Dokter Mila bakal disidang soal video viral itu." jawab Dokter Wisnu.
*
*
*
Jatuh cinta pada seseorang akan membuat kita merasa berbunga-bunga hingga terobsesi dengannya.
Namun, ada garis yang sangat tipis antara ketertarikan dan obsesi. Ketika obsesi mulai memaksa kita untuk mengalihkan semua energi terfokus padanya, saat itulah obsesi mulai menjadi tidak sehat.Kita akan memikirkannya sepanjang waktu dan ini akan membatasi kita dari melakukan aktivitas biasa karena itu adalah dunia kita.
__ADS_1