Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Suara itu... suamiku


__ADS_3

"Pak saya mau pamit. Saya mau jemput anak saya." Laras dengan takut-takut meminta izin dengan atasannya.


Seperti biasanya dia meminta izin atasannya yaitu pak Anwar untuk menjemput Bagas. Dia sebenarnya sulit diterima saat itu. Namun Laras menceritakan kalau dirinya single parent. Bekerja untuk anaknya karena memang tinggal berdua.


"Izin lagi, kamu sudah beberapa kali mengambil jatah izin selama jam kerja. Selama ini saya menerima kamu kerja disini karena saya tahu bagaimana perjuangan single parent seperti kamu. Tapi kamu kesannya memanfaatkan hal untuk hal pribadi."


"Pak tolong, kasihan anak saya pasti dia menunggu lama disana. Saya janji akan memajemen waktu setelah."


"Nanti perusahaan lain yang akan berkunjung kesini. Kamu Laras, orang yang dipercaya kami untuk persentasi nanti." jelas pak Anwar.


"Bisakah minta orang lain mewakili saja. Saya benar-benar tidak bisa, pak. Sudah terlanjur janji sama Bagas. Tolong, pak benar saya minta tolong. Izinkan saya keluar sebentar untuk menjemput anak saya." mohon Laras.


Pak Anwar menghela nafas berat. Pegawainya yang satu ini benar-benar menguras waktunya. Pak Anwar melirik jam di pergelangan tangannya.


"Oke, saya izinkan jemput anak kamu. Tapi pakai mobil saya saja. Nanti saya suruh Randa yang mengantar kamu. Kamu langsung ke kantor setelah itu."


"apa boleh saya bawa anak saya ke kantor?"


"Untuk saat ini boleh. Karena darurat, jangan lupa nanti setelah makan siang ada pertemuan dengan klien baru. Kamu tahu klien kita ini banyak membantu perusahaan kita."


Laras keluar dari ruangan pak Anwar. Dia berjalan santai menuju ruang kerjanya. Saat ini Laras menjabat sebagai asisten Manajer di perusahaan Parmalex. Perusahaan yang bekerja di bidang textile. Tubuhnya terhenti di kubik kerja ke lima.


"Kamu mau kemana, Ras?" tanya Sasti, teman sekantornya.


"Jemput anakku. Aku sudah terlanjur janji sama Bagas." jawab Laras yang sudah menenteng tas kerjanya.


"Kasihan kamu, Ras. Kerja plus bagi waktu untuk anakmu. Carilah pendamping hidup yang baru, sekarang banyak kok yang nyari janda."


"Aku bukan janda, Sasti! selama aku belum menemukan dimana suamiku dimakamkan itu tanda aku masih istri orang." Sasti hafal kalau Laras tidak suka disebut janda.


Sasti merangkul bahu Laras. Dia tahu bagaimana di posisi temannya saat ini. Punya suami tapi seperti hidup seorang janda. Sasti yakin mertua Laras pasti punya rencana aneh. Ya, dimana-mana namanya mertua pasti jarang ada yang baik. Pasti akan mericuh rumah tangga anaknya. Dan Sasti pun sudah beberapa kali melihat hal di rumah tangga orang-orang terdekatnya. Tangannya menggenggam erat seakan menenangkan hati temannya.

__ADS_1


"Kamu wanita kuat, Ras. Aku yakin akan ada jalan keluar masalah rumah tanggamu. Semoga ada titik terang tentang keberadaan suamimu."


"Terimakasih, Sasti. Kamu memang temanku yang baik."


"Dan dari masalah yang kamu hadapi menjadi pelajaran buat jomblo seperti aku. Ya, dari situ aku paham the power of mertua lebih kuat."


"Entahlah, Sasti. Aku tidak bisa bersuudzon saat ini, walaupun aku tahu kalau memang seperti kata kamu tadi. The power of mertua memang lebih kuat, apalagi mantunya orang biasa kayak aku."


Sasti dan Laras sebenarnya sudah saling mengenal saat kuliah. Dari Sastilah, dia dapat info lowongan pekerjaan dan di terima. Awalnya Laras ragu akan di terima dalam perusahaan Parmalex, yang dia tahu milik Jihan, mantan calon istri Rangga. Bukan karena perusahaan itu milik Jihan, melainkan karena statusnya adalah wanita yang sudah menikah. Saat hendak di tolak, Laras pun mengutarakan motivasinya bekerja karena dia punya anak. Jihan pun menyimpulkan kalau Laras itu single parent, dan terima kerja.


Hanya saja, Jihan saat mengaudisi dirinya, wanita itu tidak mengenal sosok Laras. Itu sudah menjadi poin buat Laras untuk bisa bekerja tanpa di ketahui identitas sebenarnya.


Kembali ke masa sekarang, Laras akhirnya pamit untuk menjemput Bagas. Dia berjalan meninggalkan lorong demi lorong. Dan dia pun mendengar cibiran dari beberapa orang yang tidak menyukainya. Laras tidak peduli hal itu, selama yang dia lakukan tidak mengganggu orang lain.


Saat tangannya menggenggam gagang pintu keluar, telepon genggam di tas nya berdering. Cepat-cepat Laras mengambil handphonenya. Sesaat bibirnya tersungging senyuman, dia tahu sang pemilik nomor sudah menunggu dirinya.


"Bunda," suara kecil itu berseru.


"Bunda tidak usah jemput Bagas. Sekarang Bagas sudah di rumah bareng om ganteng." jawab Bagas.


"Om siapa, gas?"


"Ini om ganteng mau ngomong sama bunda."


"Halo ini bundanya Bagas, ya? saya om nya Yusuf, ini Bagas sudah saya antarkan dengan selamat."


Laras terpaku mendengar suara om yang dimaksud Bagas. Suara yang di yakininya sosok yang di tunggu selama ini. Suara yang dia sangat rindukan. Luruh sudah air matanya, tangannya gemetar. Jantungnya berdetak kencang. Lidahnya kelu seakan terkunci. Tak ada suara yang bisa di ucapkannya.


Mas!


"Bagas, bunda minta jangan suruh om tadi pulang dulu. Bunda mau bertemu, sekarang kalian tunggu bunda di rumah." titah Laras.

__ADS_1


Aku yakin itu mas Rangga.


Yakin sekali, aku tidak akan lupa bagaimana dengan tutur kata dan suaranya.


"Tapi, om tadi baru saja pulang. Soalnya Yusuf juga harus diantar pulang. Kasihan mamanya menunggu." kata Bagas.


"Yusuf itu anaknya om itu, ya?" tanya Laras


"Kata Yusuf om ganteng itu kakak mamanya."


Anak Ina kah? atau anak Lani? karena yang aku tahu adik tiri mas Rangga Ina dan Lani.


Laras memandang ponselnya. Jantungnya masih tidak karuan. Setelah merasa lebih baik, Laras menyimpan ponselnya. Lalu mencari Randa sesuai instruksi pak Anwar tadi. Namun sebelumnya dia minta izin pada Bu Jihan untuk pulang lebih awal.


"Kamu pucat sekali, Laras. Apa kamu sakit?"


Laras hanya mengangguk pelan. Dia tidak tahu apakah dia sedang sakit atau bukan. Yang pasti kejadian tadi membuatnya tidak tenang.


Laras memandang jam dinding, jam kerja masih panjang. Namun dengan kebaikan hati atasannya dia di perbolehkan pulang.


"Ras, aku temenin, ya. Kamu pucat sekali." Sasti muncul sudah menenteng tas. Gadis berusia 24 tahun tersebut menuntun Laras keluar dari kantor.


Akhirnya mereka sudah duduk di dalam mobil. Laras meminta Randa mengantarkannya ke sebuah alamat. Dimana lokasinya di perumahan elit.


"Ini alamatnya kemana, Ras?"tanya Sasti.


"Ke rumah mertuaku."


"Ngapain, kamu mau ngantar nyawa kesana? kita pulang saja, Ras. Kamu pucat banget, mana tangan kamu gemetar terus."


"Mas Rangga sudah kembali, Sas. Aku harus menemuinya. Aku harus kenalkan dia sama Bagas."

__ADS_1


"Nggak usah sekarang, Ras! keadaan kamu tidak memungkinkan. Kalau iya suamimu masih hidup pasti dia akan mencarimu, pokoknya kamu harus pulang. Kasihan Bagas sendirian di rumah. Nanti kalau kamu sudah sedikit tenang aku temenin kamu ke tempat mertuamu."


__ADS_2