
Sebelum sampai ke kantor PARMALEX Corps.
Jakarta memang dikenal sebagai kota yang keras bagi semua orang. Tak peduli apapun latar belakangmu, Jakarta akan tetap saja menghadiahimu dengan berbagai macam kejutan dari waktu ke waktu. Kadang berakhir menyenangkan, tapi tak jarang pula berujung menyakitkan. Meski begitu, bukan berarti kota-kota lain selain Jakarta jauh dari kata keras. Banyak juga kok, kota lain yang mungkin sebenarnya jauh lebih keras jika dibandingkan dengan kehidupan di Jakarta. Tapi, urusan mengatur waktu ala orang jakarta sepertinya kita semua tak perlu berdebat panjang lebar.
Waktu 1 jam di kota lain mungkin bisa dihabiskan untuk menempuh jarak puluhan kilometer jauhnya. Beda cerita dengan jalanan Ibu Kota, jangankan bisa sampai puluhan kilo, bisa tembus lebih dari 10 kilo saja terkadang udah untung-untungan banget. Berangkat saat matahari terbit sambil membelah ribuan kendaraan, pulang menjelang enam sambil menunggu giliran lampu hijau yang sudah lebih dari 5 kali berganti kembali ke warna merah rasanya sudah bukan hal yang mengagetkan.
Rangga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia tahu kalau yang akan di datangi adalah perusahaan rival. Perusahaan yang dulunya adalah teman karib papa Donal. Ingatannya berputar saat keluarganya dulu menjodohkan dirinya dan Jihan. Padahal saat itu Rangga masih punya pacar yaitu Karina, adik tiri pihak ayah kandungnya.
Beberapa saat Rangga menepikan mobilnya di areal sepi. Laras kaget kenapa suaminya tiba-tiba memberhentikan mobil.
"Ada apa,Mas?" tanya Laras.
"Aku mau cerita sesuatu yang mungkin belum kamu ketahui." Rangga menarik nafas panjang. Dia lalu merebahkan punggungnya.
"Soal?"
"Soal tempat kerja kamu sekarang." jawab Rangga singkat.
"Oh soal itu. Kamu tidak usah jelasin aku sudah tahu, Mas. Itu kantor Jihan, mantan tunangan kamu kan. Aku sudah tahu soal Bu Jihan. Lagian aku nggak akan cemburu sama Bu Jihan. Dia punya suami dan anaknya yang remaja. Sedangkan kamu punya aku."
"Dia tahu kamu siapa?" tanya Rangga.
"Enggak. Dia nggak tahu kalau aku istri Rangga Baratayudha. Mantan tunangannya. Memangnya kenapa sih, Mas."
"Bukan soal itu masalahnya, Ras."
"Jadi?"
"Perusahaan mereka dan perusahaan kita punya persaingan yang buruk. Itu pun terjadi setelah aku kabur dari pernikahan. Papa Donal dan om Alex sekarang bermusuhan. Makanya aku waktu ke kantor kamu mau ketemu Jihan. Meskipun perusahaan kami tidak seakur dulu, tapi aku dan Jihan masih berteman baik." jelas Rangga.
"Pelik, ya, mas. Seandainya Bu Jihan tahu kalau aku istri kamu, apakah dia akan menerimaku atau tidak. Apalagi dia banyak kasih aku job gede. Dan Alhamdulillah berkat kerja disana aku bisa masukin Bagas ke TK Al-zaman."
"Jadi kamu siap, seandainya kemungkinan terburuk akan terjadi?"
__ADS_1
"Kamu jangan bikin aku takut,Mas. Dan jika kemungkinan terburuk datang apakah kamu tetap di sampingku, Mas."
Rangga menggenggam tangan Laras. Berusaha meyakinkan bahwa dirinya tidak akan beranjak dari sisi istrinya.
"Apapun yang terjadi. Aku akan tetap disini, di sampingmu, sayang."
"kenapa aku selalu mendatangkan masalah, Mas?"
Rangga mengecup kening dan bibir istrinya.
"Setiap makhluk yang bernyawa pasti memiliki masalah. Tapi kalau kita optimis aku yakin ada penyelesaiannya.
Aku kenal Jihan, sayang. Dia bukan tipe yang sombong dan angkuh. Aku rasa kalau kamu menjelaskan yang sebenarnya dia pasti ngerti."
"Terimakasih, Mas. Setidaknya dengan resign akan menyelesaikan semua permasalahan ini. Semoga saja Bu Jihan mau mengerti."
"Kita lanjut perjalanan ya sayang." Laras hanya mengangguk kecil.
Mobil kembali menembus jalanan. Rangga mencari jalan pintas agar tidak terjebak kemacetan. Laras mengingatkan suaminya agar tidak mengebut. Dia takut kalau kecelakaan yang dulu bisa terulang lagi.
"Mas, jangan takabur. Aku nggak mau nanti ada apa-apa lagi sama kamu. Di pisahkan lagi, aku nggak mau jauh dari kamu lagi."Wajah Laras mendadak sendu.
Cup!
"Nggak akan, sayang. Nggak akan ada lagi yang memisahkan kita, kecuali maut."
Pada akhirnya mereka sampai di gedung PARMALEX Corps. Gedung dimana Laras mendapatkan pengalaman kerja disana. Gedung dimana dia dapat keluarga kedua setelah suami dan anaknya. Dengan membaca bismillah dia menaiki gedung tersebut di temani Rangga.
"Mas, kamu kok ikut." Laras kaget suaminya berjalan di samping dirinya.
"Aku mau mendampingi kamu, sayang." Rangga tidak melepaskan gandengannya.
"Tapi aku malu, mas. Kamu gandengan kayak gini. Apa kata orang"
__ADS_1
"Ya bilang saja kalau ini adalah suami kamu. Selesai" Rangga tetap berjalan penuh percaya diri.
"Terserah kamu saja, mas." cicit Laras.
Keduanya melenggang di koridor perusahaan milik Alex Prasetyo. Rangga menangkap beberapa mata memandang kearah dirinya. Mungkin mereka terpana ketampanannya atau bisa jadi mereka tahu siapa dirinya.
"Bismillah" Laras berdiri di depan pintu ruangan Jihan.
"Semangat sayang. Caiyo! ganbate! saranghaeyo!" wajah Laras berubah menjadi merah muda.
"Assalamualaikum, Bu Jihan." Laras mengucapkan salam di depan pintu ruangan atasannya.
Laras mendatangi Jihan. Tentu saja tidak sendiri, dia datang bersama suaminya.
"Bu, Jihan," sapa Laras.
Jihan yang sedang duduk di ruangan menelan salivanya. Sosok yang ada di hadapannya berdiri memberi senyuman manis. Jihan mematung saat Laras masuk ke ruangannya bersama Rangga.
"Ra .. Rangga..."
"Iya, Han ini aku Rangga Baratayudha, sahabat kamu. Kamu apa kabar? Makin sukses saja temanku ini." Laras melihat wajah Jihan yang masam segera mencubit suaminya. Guna memberi kode pada lelaki itu.
Prok prok prok
"Keren .. kalian keren sekali. Saya salut sama kalian berdua. Jadi dia suami kamu, Ras. Jadi ini yang kamu bilang single parent. Selama ini saya suka dengan cara kerja kamu. Tapi saya ternyata salah menilai kamu."
"Bu, saya mau .."
"Ras, saya kecewa sama kamu. Selama ini saya pikir kamu perempuan yang baik. Tapi ternyata hijab-mu tidak selaras dengan kelakuanmu. Kamu masuk kesini pasti di suruh dia, kan? kamu di bayar oleh Rangga, suami kamu ini menjadi mata-mata dari perusahaan mereka. Iya, kan?" tuduh Jihan.
"Itu tidak benar, Bu. Saya masuk kesini murni karena ingin bekerja. Bukan seperti yang Bu Jihan tuduhkan. Saya juga tidak tahu soal urusan perusahaan ini dengan perusahaan papa Donal. Jadi saya tekankan, saya bukan mata-mata.
Saya kesini mau menyerahkan surat pengunduran diri. Maaf kalau sudah dua hari saya tidak masuk kerja. Karena anak saya sakit." Laras mengeluarkan surat pengunduran dirinya di meja kerja Jihan.
__ADS_1
"Kamu mengundurkan diri karena sudah ketahuan, kan? langsung cuci tangan, pinter." Jihan masih memandang dirinya dengan sinis.
"Terserah Bu Jihan menilai saya seperti apa! saya cuma bisa bilang terimakasih sudah memberi saya pekerjaan. Terimakasih sudah menampung saya di kantor ini memberikan saya banyak pengalaman berharga. Maaf jika pengunduran diri saya terkesan mendadak. Itu ini sudah menjadi renungan bagi saya. Saya pamit, Bu." Jihan masih mematung tanpa menyadari Laras sudah tak ada di depannya.