
Sofia dan Camila berdiri di depan pintu rumah Eva. Keduanya berencana mengajak Laras pindah ke tempat yang di sediakan. Sudah satu minggu Laras tinggal di tempat Eva. Sudah satu minggu pula suami Eva tak pulang ke rumah.
"Kamu jadi pindah, Ras?" Eva membantu Laras membereskan barang-barangnya. Ketimbang bajunya, lebih banyak barang milik Bagas.
"Iya,Va. Terimakasih, ya sudah kasih aku tempat tinggal. Maaf, ya gara-gara aku suami kamu tidak mau pulang."
"Maafin suamiku, Ras. Aku sebenarnya nggak enak sama kamu. Dulu kamu yang menampung kebutuhan kami. Aku seperti orang yang tidak tahu berterimakasih."
"Va, kamu itu bukan sekedar sahabat. Satu-satunya keluarga yang aku punya hanya kamu dan Adul. Dan orang-orang di kompleks ini. kalian semua keluargaku."
Eva memeluk Laras penuh drama isak tangis. Sofia dan Camila melihat pemandangan itu sambil tersenyum. Sofia menggoda Laras kalau nanti akan ada banyak cowok ganteng di tempat baru.
"Aku masih istri orang, Kak Fia." Sahut Laras.
"Iya, kamu selalu jawab begitu kalau di hubungkan dengan cowok lain." kekeh Sofia.
"Yaudah, kita harus berangkat nih, nanti keburu malam. Kan kasihan Bagas kalau kelamaan di jalan." ajak dokter Camila.
Laras berjalan mendekati dokter Camila. Rasa terimakasihnya sangat besar pada wanita di hadapannya. Setelah lama adegan perpisahan dan ucapan terimakasih, Laras pun pamit dari rumah Eva. Bu Farida memeluk Laras yang sudah seperti anak sendiri.
"Kenapa pada mewek. Aku pasti akan sering main kesini. masih dalam Jakarta bukan di luar kota." seloroh Laras.
"Kami akan merindukan kamu Bagas." ucap Bu Farida mencubit pipi bayu usia enam hari tersebut.
"Bu, Bagas kulitnya masih tipis. Jangan di cubit." protes Sofia.
"Ibunya aja nggak protes." jawab Bu Farida.
Sejak kelahirannya Bagas sudah menjadi idola. Ibu-ibu kompleks mampir ke rumah Eva hanya untuk lihat si Bagas. Bermacam hadiah yang Laras terima untuk Bagas. Laras senang kalau Bagas di terima dengan baik oleh warga.
__ADS_1
Detik-detik mengharukan di kediaman Eva. Beberapa warga mengiringi keberangkatan Laras dan Bagas. Mobil Ayla bertengger di depan gerbang kompleks karena tidak bisa masuk dalam gang.
Beberapa warga memberi Laras uang yang katanya untuk bekal Bagas. Ya, selalu Bagas menjadi alasan utama mereka. Laras pun merasa terharu pada perhatian mereka untuk Bagas. Untaian kata terimakasih terus mengalir dalam bibir kecilnya.
Tas kecil pun telah masuk ke dalam mobil. Eva memilih ikut mendampingi Laras sambil membawa Cici.
"Ras, kalau kamu punya suami baru. Undang-undang kita, ya." celetuk Nindy.
"Hush, kamu ini, ndy." timpal Eva yang kesal dengan Nindy ceplas-ceplos.
"Daripada nunggu yang entah ngumpet. atau mungkin dia punya istri baru. Lagian ngumpetnya kelamaan, cowok kayak gitu buang saja, Ras."
"Kalau pun ada yang mau, aku yang nggak mau, Nindy. Bagiku menikah itu sekali seumur hidup. Kalau suamiku tetap nggak ada kabar, ya aku fokus mengurus Bagas."
Nindy tidak menyahut lagi ucapan Laras. Lagian dimata Nindy, Laras itu cuma buang waktu saja. Nindy membalikkan kalau dirinya di posisi Laras sudah pasti cari suami baru.
"Semuanya terimakasih, ya. Atas kebaikan kalian selama ini, aku doakan kalian sehat selalu, rezekinya lancar. Dan kamu Nindy, saya doakan kamu cepat punya suami."
Mobil pun akhirnya meninggalkan gerbang kompleks perumahan Laras. Bersama Eva dan Cici, Laras berangkat menuju kehidupan barunya. Netranya menatap lekat bayi yang terlelap indah. Sesekali menatap jalanan yang penuh dengan aktivitas manusia beragam. Helaan nafas lega terdengar pelan, Laras menyandarkan kepalanya di bangku mobil. Sesaat memejamkan mata pelepas kepenatan. Kepenatan hidup yang menghimpitnya.
"Ras, apa rencanamu selanjutnya?" tanya Eva.
"Entahlah, Va. Aku masih berusaha mencari kabar suamiku. Rencananya aku mau kuliah sambil bekerja. Kata Adul dia pernah dengar kuliah Sabtu Minggu. aku akan coba masuk kesana."
"Ras, kalau saran aku dalam enam bulan ini kamu fokus ke Bagas dulu. Jangan tinggalkan anakmu. Kalau Bagas sudah diatas enam bulan kamu baru fokus menata masa depan." saran Sofia.
"Tapi aku nggak mungkin mendep di rumah saja. Aku juga mau cari penghasilan untuk Bagas."
"Bukannya tabungan kamu ada, Ras? pakai itu saja." ucap Eva.
__ADS_1
"Tabungan yang aku pakai sudah menipis, Va. Itu tabungan yang aku gunakan sejak kuliah dulu. Sedangkan tabungan yang dibuat suamiku sudah di blokir sama mereka." jelas Laras.
"Gitulah, Ras. Kalau masuk ke kehidupan keluarga kaya. Mereka seenaknya saja pada kamu, sudah untung kamu mau sama bujang lapuk seperti suamimu itu. Mana mereka maksa kamu dulu untuk cepat menikahi anaknya. Terus dipaksa hamil dalam dua bulan. Huuhhh, kamu tuh terlalu lemah sama mereka."
Laras hanya menyunggingkan senyum kecil. Eva lah yang selama ini tempat berbagi cerita. Bukan bermaksud membuka aib rumah tangganya, tapi dia butuh teman berbagi cerita. Untuk melepas beban di hatinya.
"Sudah, Va. Jangan diungkit lagi. Biarkan Laras tenang dulu. Kamu tahu, Va. perempuan yang sedang menyusui tidak boleh banyak pikiran, nanti ASI nya terhambat. Jadi nggak usah ingatkan Laras soal suaminya." ucap Sofia.
"Aku belum pamit sama Adul." Laras teringat sahabatnya yang satu lagi.
"Nggak perlu, Ras. Nanti dia juga bakal tahu keberadaanmu. Tahu sendiri Adul itu maps berjalan, kemana kita pergi dia selalu tahu."
Sofia hanya menghela nafas kasar. Selalu Adul yang mereka andalkan, selalu mereka yang jadi fokus utama Adul terlebih lagi kalau urusan Laras. Meskipun lelaki itu bekerja sebagai satpam resort, tapi attitude Adul lebih baik dari yang sudah sarjana.
Mobil akhirnya berhenti di sebuah kompleks padat penduduk. Lokasi yang berdekatan dengan blok F Tanah Abang. Laras dan lainnya turun dari mobil. Camila dan Sofia pun mengajak Laras untuk masuk ke kontrakan kecil yang berjejer empat pintu.
"Ras, ini tempat tinggal kamu untuk sementara. Kamu jangan khawatir soal pembayaran, karena saya sudah membayar untuk satu tahun. Setelah kamu lepas ASI, kamu bisa bekerja di rumah saya. Saya tinggal sendiri karena suami dan anakku sudah meninggal." jelas dokter Camila.
Laras merasa terharu dengan kebaikan dokter Camila. Padahal dia baru hari ini mengenal wanita itu. Rasa syukur dipanjatkan karena di kelilingi orang-orang baik. Mereka masuk ke kontrakan baru, ternyata sudah lengkap fasilitasnya. Meskipun tidak berisi barang mewah itu sudah membuatnya terus memanjatkan rasa syukur.
*
*
*
*
Assalamualaikum semuanya
__ADS_1
bagaimana kabarnya? semoga yang baca disini di berikan kesehatan dan rezeki yang melimpah.
Di part mendatang sudah lompat lima tahun. Dimana nanti Laras bertemu dengan Rangga, namun terselip kesalahpahaman diantara mereka.