
Bagas turun dari mobil yang disediakan Rangga. Sepanjang perjalanan Bagas hanya diam saja. Mungkin suasana ini masih asing baginya. Di antar ke sekolah bersama seorang perempuan yang mengaku pengasuhnya. Mbak Ajeng, pengasuh utusan Rangga mengikutinya sampai masuk ke dalam sekolah. Bagas merasa diikuti pun meminta mbak Ajeng untuk pulang saja.
"Maaf, den Bagas. Saya di tugaskan menjaga aden. Nanti saya di marah sama pak Rangga." ucap Ajeng.
"Tapi saya mau sekolah, mbak. Apa kata orang kalau saya di ikuti terus." kata Bagas.
"Saya tunggu di luar saja, den. Ini bekal den Bagas." Ajeng menyerahkan tas kecil berisi bekal milik Bagas.
"Terimakasih, mbak." Bagas mengambil bekalnya lalu masuk ke kelas.
Bagas berjalan memasuki sekolahnya. Karena sudah dua hari tidak masuk. Tangannya menenteng bekal yang disiapkan dari rumah. beberapa tatapan sinis mengarah ke dirinya.
"Lihat tuh Bagas. Gayanya kayak orang kaya." sahut Stevan teman sekelasnya.
"iya, tuh." timpal Andre.
"Hey, kalian kalau ngomongin Bagas lagi, berhadapan dengan aku."Yusuf mendekati kedua temannya sambil menepuk dadanya.
"Hey, Ucup. Ngapain kamu bela Bagas, kan memang benar dia bukan anak orang kaya." jawab Stevan.
"Sudah, Gas. tidak usah di dengarkan si Stevan. Kita letakkan tas di meja." sahut Yusuf menarik Bagas menjauh dari teman-teman yang sinis pada mereka.
"Terimakasih, suf." Mata Bagas berbinar ketika ada yang membelanya dari gangguan teman yang lain.
"Sama-sama, suf. Kata papa kita sebagai lelaki harus menjadi pelindung bagi yang lemah."
"Aku juga akan melindungi bunda dari orang jahat. Apalagi orang yang suka bikin bundaku menangis." jawab Bagas mantap.
"Tos." keduanya saling menempelkan telapak tangan.
Bagas dan Yusuf keluar kelas untuk bermain. Sambil menunggu waktunya jam belajar. Beberapa murid masih berdatangan diantar oleh kedua orangtuanya. Bagas menatap lama saat ada anak yang digendong ayahnya sampai masuk ke kelas.
"Suf, papa kamu sayang nggak sama kamu?" tanya Bagas.
"Sayang,dong. Saking sayangnya kalau ada yang ganggu aku dia jadi orang terdepan membela aku. Cuma yaitu, kalau urusan kakakku papa sering lupa sama aku." cerita Yusuf.
"Adil dong, masa kamu aja yang pengen di sayang. Kakak kamu pasti juga mau dong." pucap Bagas.
__ADS_1
"Kakakku penyakitan. Dikit dikit sakit, dikit-dikit sakit. Kalau sudah kumat satu rumah bakal sibukin sama dia. Sebel aku lihatnya."
Bagas melihat wajah Yusuf seperti kesal ketika menceritakan kakaknya. Bagas bingung harus berkomentar apa. Dia hanya bisa menyimak curhatan temannya.
Tak terasa suara lonceng sekolah berbunyi. Semua anak-anak pun berbaris memasuki kelas. Ibu guru mengandung handphonenya untuk memeriksa name tag murid yang memakai barcodenya.
Setelah selesai absen di barisan para murid pun duduk di kursi masing-masing. Bu guru kembali berkeliling memeriksa muridnya jangan ada yang terlewatkan. Setelah itu kembali duduk di meja mengajarnya.
"Hari ini kita akan bercerita. Siapa disini suka berceritakan?"
"Saya!" jawab para murid.
"Oke. Ibu mau kalian menceritakan tentang keluarga. Temanya adalah ...." Bu guru menuliskan sebuah kata di papan tulis.
"Ayah!" jawab anak-anak saat membaca tulisan di papan tulis.
"Pinter!"
"Bagas pasti nggak bisa cerita." sahut Stevan.
"Kenapa?" tanya Bu guru.
"Aku punya ayah!" pekik Bagas.
"Mana, gas. Kami nggak pernah lihat kamu sama ayahmu." ledek Stevan.
"Anak-anak kalian tidak boleh begitu. Jangan suka mengganggu temannya. Walaupun Bagas tidak punya ayah, tapi dia pasti ada kenangan tentang ayahnya." kata Bu guru meredakan kericuhan di kelasnya.
Bagas berlari keluar kelas. Dia memilih duduk di ayunan. Bu guru pun menyusul Bagas untuk menenangkan muridnya.
"Bagas punya ayah, Bu guru." isaknya.
"Iya, Bu guru percaya kamu punya ayah. Bu guru juga punya ayah, gas. Kalau nggak ada ayah nggak ada Bagas ataupun ibu guru." Bu guru masih mencoba menenangkan muridnya.
"Tapi kenapa mereka selalu menertawakan aku, Bu?" tanya Bagas.
"Itu karena mereka tidak tahu. Kalau tahu mereka pasti akan baik sama Bagas." jawab Bu guru.
__ADS_1
Bagas dituntun Bu guru kembali ke kelas. Masih terdengar riuh teman-teman menertawakannnya. Tapi Bagas sudah biasa mendengar hal itu sejak tahun pertama dia menginjakkan kaki ke sekolah tersebut. Ini adalah tahun kedua dia menjadi murid kelas O besar. Kata bundanya, kalau Bagas sudah tujuh tahun nanti baru masuk sekolah dasar. Sekarang usianya baru menginjak lima tahun. Sudah pastinya dia akan mengenyam bangku taman kanak-kanak sampai tahun depan.
Bagas sudah duduk di samping Yusuf. Hanya Yusuf yang mau berteman dengannya. Apalagi Yusuf baru beberapa bulan pindah ke sekolahnya.
"Nah, anak-anak. Apa ada yang sudah mau bercerita.'' Bu guru kembali mengingatkan muridnya.
Beberapa murid maju menceritakan kehebatan ayahnya. ada yang sedih karena ayahnya jarang di rumah. Ada juga yang menceritakan kelucuan ayahnya. Semua sudah berbagi cerita tentang lelaki panutan anak-anak. Bu guru sengaja tidak meminta Bagas untuk maju. Karena dia paham muridnya itu akan minder. Tapi ternyata dugaannya salah, Bagas berdiri di depan semua teman sekelasnya.
"Nama saya Bagas Barata Yudha. Kata bunda nama itu artinya aku adalah kebanggaan ayah dan bunda. Kata bunda, ayahku itu orangnya penyayang. Sayang sama bunda, sayang sama Bagas.
Dua hari yang lalu aku bertemu lelaki yang katanya ayahku. Dia orangnya baik sekali, aku dibuatkan kamar yang isinya tata Surya. Terus tadi katanya dia mau jemput Bagas pulang sekolah nanti." cerita Bagas penuh bangga.
"Hahahaha.... " tawa para murid yang mendengar cerita Bagas.
"Paling juga ayahnya yang bawa motor butut." ledek Stevan.
"Hahahahahhaa... benar tuh." sambung Tere.
Bu guru hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan muridnya. Wanita muda itu meminta Bagas kembali ke tempat duduknya. Meraka pun melanjutkan proses belajar dengan tema yang lain. Tampak beberapa murid masih terdengar menertawakan Bagas.
"Aku penasaran seperti apa ayahnya bagas." sahut Stevan.
*
*
*
*
Selamat pagi semuanya. Semoga semua yang baca cerita ini diberikan kesehatan yang berlimpah.
Alhamdulillah saya masih sempatkan update cerita Rangga, Laras dan Bagas. Maaf ya kalau part nya belum greget di mata kalian. Apalagi sejak tidak ada konflik mulai sepi yang mampir baik like mau pun komen.
Saya cuma takut kalian bosan kalau pakai konflik. Tapi ternyata malah sepi nggak pakai konflik. Tapi saya sangat berterimakasih buat yang sempatkan baca baik yang sudah like maupun yang silent reader.
Tetap terus pantengin cerita ini. tetap dukung author dengan cara like komen dan vote.
__ADS_1
happy reading.