
Sebelum pergi ke sekolah Bagas, Alphard sudah bertengger di depan gang kontrakan Laras. Lorong tempat tinggal Laras berdekatan dengan pasar pagi Tanah Abang. Orang-orang mulai menjajakan dagangannya. Rangga pun memandang aktivitas masyarakat sekitar dengan penuh rasa syukur.
Sedari kecil dia hidup dengan gelimang harta, punya orangtua lengkap, ada neneknya (pihak ayahnya) yang sayang padanya. Almarhum bude Alya, kakak mamanya sangat sayang padanya. Mungkin karena bude Alya tidak punya anak. Dulu dia sempat mendengar setelah neneknya meninggal dunia, suaminya bude Alya juga meninggal karena kecelakaan kapal. Maka saat itu kasih sayang budenya tercurah padanya. Apalagi dia punya mama baru yang sayang padanya. Serta papa baru yang menerima kehadirannya.
Rangga pun turun dari mobil, mengikuti langkah Laras yang sudah terlebih dahulu turun. Tampak Mila sudah berdiri di depan pintu kontrakan Laras. Wanita yang seumuran dirinya, menyambut Laras dengan penuh gembira.
"Laras!" peluk Mila saat melihat wanita itu berdiri di depannya.
"Kak Mila," sapa Laras.
"Kamu kemana saja. Kami menunggu kamu disini. Sasti menginap di sini sambil menunggu kamu, ras."
"Maaf, Sasti. Aku semalam pulang ke tempat mas Rangga." Laras merasa tidak enak pada orang-orang yang menunggunya.
"Jadi kalian sudah bersama lagi." tebak Sasti.
"Belum, Sasti. Aku juga tidak tahu kalau semalam pulang. Pas bangun sudah ada di sana." jawab Laras.
"Jadi kalian sudah seranjang lagi," sahut Sasti sambil menekan kata seranjang di depan Mila.
"Iya, kami sudah seranjang lagi. Kan aku masih suaminya." jawab Rangga.
"Ciyeeeee ...Ras, selamat ya akhirnya kamu berkumpul dengan suamimu. Ini kan yang selama ini kamu tunggu." Laras hanya mengangguk pelan.
"Kak Mila kok di luar saja. Ayo masuk!" Sasti mengajak Mila yang terbengong di pintu rumah.
Mila yang tadi sempat terbengong. Ketika mendengar kabar kalau Laras dan Rangga sudah bersama tiba-tiba di kejutkan dengan tepukan bahu dari Sasti. Tanpa basa-basi Sasti menuntun Mila ikut bergabung bersama mereka. Mila pun mau tidak mau ikut kemeriahan mereka, walaupun hatinya terasa sesak.
Ting!
"Apapun yang terjadi, Mila. Tante tetap akan mendukung kamu bersama Rangga. Tante ibunya lebih tahu siapa yang paling pantas buat anakku. Kamu tenang saja Mila, Tante akan usahakan supaya mereka berpisah."
Mila tersenyum membaca pesan singkat dari Raya. Setidaknya dia sudah mendapatkan angin segar untuk mendapatkan Rangga. Mila percaya usaha tidak akan mengkhianati hasil. Mila pun memasukkan handphonenya ke dalam tas. Lalu kembali berbaur bersama Laras, Rangga dan Sasti.
"Bagas mana?" tanya Mila.
"Bagas sekolah kak." jawab Laras.
__ADS_1
"Oh, kalau boleh aku jemput Bagas. Kalian tunggu dirumah saja." usul Mila.
"Tidak usah." Rangga langsung menyela ucapan Mila.
"Biar aku yang jemput Bagas. Tadi aku sudah janji sama Bagas." tambah Rangga.
"Kalau begitu aku bareng sama kamu saja, Ga. Aku sekalian mau ke rumah sakit. Boleh kan aku, nebeng." sahut Mila.
"Bukannya Bu dokter bawa mobil tadi. Ngapain pakai nebeng ke suami orang." sahut Sasti.
"Oh, maaf Mila. Aku sudah janji bersama Bagas dan Laras untuk keluar jalan-jalan. Aku juga mau pamit sama ibu kontrakan. Sebab aku akan boyong Laras dan Bagas ke tempatku." jawab Rangga.
"Laras masih dalam tahap penyembuhan, Ga. biarkan dia tenang dulu." bantah Mila.
"Aku suaminya, Mila. Sudah tugasku menjaga istriku." Rangga tidak mau kalah.
Sekarang Sasti yang berganti terbengong melihat sikap Mila. Sejatinya Sasti mendengar saat Mila berbicara pada Laras di rumah sakit. Semenjak itulah Sasti selalu berusaha mengingatkan Laras soal Mila yang di rasa bermuka dua.
"Dokter saya mau bareng boleh?"
Mila tak merespon ucapan Sasti. Hatinya masih di landa panas saat Rangga mengikuti Laras masuk ke kamar.
"Iya," Mila sedikit tergagap dengan tepukan bahu dari Sasti.
"Bu dokter kenapa?"
"Memangnya mereka boleh seranjang. Bukannya mereka sudah lama pisah. Berarti sudah jatuh talak,dong."
"Kan suaminya nggak pernah menalak dia. Jadi masih sah,dong. Sudah dok, jangan kepo dengan rumah tangga orang."
Mila hanya mengangguk pelan. Seolah paham apa yang di jelaskan Sasti. Tapi jauh di lubuk hati kecilnya tetap saja belum bisa menerima semua ini. Kata-kata Raya seakan menjadi acuan semangatnya mendapatkan Rangga.
"Mereka sudah berpisah selama lima tahun. Bayangkan lima tahun, kak." ucapan Sasti seakan semangat menceritakan perjuangan Laras. "Sekarang setelah melewati semuanya akhirnya mereka bersatu lagi. So sweeet." ucapan Sasti terus membuat hatinya semakin panas.
Mila pun akhirnya memilih pulang terlebih dahulu. Tangannya memegang gawai hendak menelepon seseorang.
"Apa ini kelakuan orang berpendidikan seperti anda?"suara di belakangnya membuat Mila terkejut.
__ADS_1
"Maksud kamu!"
"Jangan pura-pura tidak tahu, dok. Saya tahu anda punya maksud tertentu pada Laras! atau mungkin pada suaminya, ya kan?" Mila terdiam pucat. Sasti melihat reaksi Mila merasa menang.
"Jangan sok tahu kamu!" bantah Mila.
"Maaf saya terkesan sok tahu. Tapi dari yang sudah-sudah rasa sok tahu saya biasanya nggak pernah melesat. Tapi semoga saja kali ini meleset. Yaudah, dok nggak usah tegang, kan nggak merasa seperti itu. Jadi bersikap biasa saja." Sasti tanpa permisi duduk di dalam mobilnya Mila. Mila hanya menatap nanar ke arah temannya Laras.
Laras membuka lemari pakaiannya. Dia tidak menyadari kalau Rangga mengikutinya sampai ke kamar. Laras tersentak saat tangan besar melingkar di pinggangnya. Kemudian dia berbalik melihat jarak mereka sudah satu centi. Degupan jantung terasa begitu cepat. Laras berusaha menjaga jarak dari Rangga. Sayang nya dia kalah cepat, Rangga sudah membungkam bibirnya. Tubuhnya tertahan oleh dekapan Rangga, sekali lagi dia merasa kembali terbawa masa awal pernikahannya dahulu.
Sejenak Laras melerai tubuhnya dari dekapan Rangga. Dia masih belum yakin dengan suaminya. Dia masih trauma dengan sikap Raya pada Bagas.
"Sayang," Rangga masih mencoba meyakinkan Laras.
"Tolong keluar aku akan ganti baju." Laras mengusir dengan halus.
"Aku tidak akan pergi!" jawab Rangga dengan lantang.
"Mas, please!" mohon Laras.
Rangga tetap bersikukuh tidak mau meninggalkan kamar Laras. Laras memilih dirinya yang keluar dari kamar.
Laras terpaksa mengganti bajunya di kamar mandi. Itu pun juga karena dia masih enggan berdekatan dengan Rangga. Setelah selesai Laras pun mengambil hijabnya di kamar. Tak ada Rangga lagi menunggunya di kamar.
"Mas," sapa Laras saat melihat Rangga termenung di teras rumahnya.
"Sudah selesai" Laras mengangguk lalu mengunci pintu rumahnya.
"Yuk," Rangga menarik tangan Laras. Menuntun ke mobil untuk menjemput Bagas.
"Mas, bukankah ada mbak Ajeng tadi menjaga Bagas di sekolah."
"Ajeng sudah aku suruh pulang. Kalau ada dia mana bisa kita quality time, sayang."
"emang kita mau kemana?"
"Suprise."
__ADS_1
Ini awal buat kita, Ras.
Awal untuk memulai dari awal lagi.