
Camila duduk sejenak di koridor puskesmas. Melepas penat setelah seharian mengurusi pasien yang mengalami gangguan mata. Tatapannya beralih langit yang berganti senja, kaki beranjak pada tiang lorong yang searah dengan jalan luar.
Mila berdiri di depan pintu gerbang puskesmas yang masih terdapat orang lalu lalang. Masih memandang langit senja yang menyemburatkan sinar kuning keemasan. Dan menikmati aktivitas warga komplek dengan sejuta kehidupan. Sambil memasukkan tangan di jas putihnya, para warga berlalu lalang menyapa dirinya.
"Bu dokter," sapa wanita paruh baya.
"Eh, Bu Farida. Mau kemana?" jawab Mila.
"Ke mesjid-lah, Bu. Ini sudah mau Magrib. Bu dokter kalau tidak sibuk ikut sholat ke masjid. Nggak bagus perempuan berdiri di pintu. Jauh jodoh."
Mila tertawa mendengar ucapan Bu Farida.
"Bu, jodoh saya sudah sama Allah, plus sama calon surga saya." jawab Mila.
"Oh, maaf, Bu. saya lupa kalau bu dokter janda. Saya permisi ke mesjid dulu."
"Silahkan, Bu."
Mila kembali masuk ke dalam puskesmas. Rasanya tidak etis kalau masih di luar menjelang magrib. Langkah kaki memasuki ruang kerjanya. Beberapa barang dia bereskan karena sudah waktunya pulang.
Baru selangkah dia menjejakkan kakinya keluar pintu puskesmas. Kantong bajunya merasakan getaran. Mila tersenyum saat tahu siapa yang meneleponnya. Tangannya cepat memencet untuk menerima panggilan tersebut.
"Iya, Ras. Ada..."
"Bude, kesini, ya. Bunda badannya panas, terus mengek mengek. Bagas takut bunda kenapa-kenapa."
"Kapan bundamu seperti itu?"
"Nggak tahu, bude. Pas temennya bunda bawa pulang sudah kayak gini. Bude cepat datang, ya." Terdengar isakan tangis Bagas di seberang sana.
"Iya, Bagas tunggu bude, ya. Jangan kemana-mana, Bagas temani bunda dulu."
Mila langsung meninggalkan pelataran puskesmas. Tentu saja dia akan melesat ke kediaman Laras. Perempuan yang sudah seperti adiknya sendiri. Kalau Laras sakit bagaimana dengan Bagas, itulah yang pertama terbersit di pikirannya
Mobil melaju memecahkan kesunyian malam. Ya, Bagas baru menghubungi setelah melewati waktu magrib. Untungnya, Mila sudah sholat, jadi tidak takut mengerjakan sesuatu tanpa meninggalkan kewajiban. Mila terus melanjutkan perjalanannya menuju Tanah Abang.
Beberapa saat mobil pun berhenti di depan gang kontrakan Laras. Tanpa basa-basi Mila langsung sampai masuk ke kontrakan Laras memeriksa wanita itu.
"Mas .... Mas ..."Igaunya.
__ADS_1
Mila menoleh ke arah Sasti yang masih ada di dekat Laras. Meminta penjelasan dari wanita berusia 24 tahun tersebut.
"Laras tadi dapat telepon dari seorang lelaki yang mirip suaminya." jelas Sasti.
"Sebegitu kah sampai membuat dia drop?" sahut Mila masih kurang yakin dengan penjelasan Sasti.
Sasti mengernyitkan dahinya. Untuk apa juga dirinya mengada-ada alasan. Sudah jelas setelah mendengar suara suaminya Laras langsung drop.
"Bunda kenapa bude?" tanya Bagas masih sesenggukan.
"Bunda Bagas sepertinya kena asma. Terus darahnya rendah. Jadi harus dirawat rumah sakit." jelas Mila.
"Kasih darah Bagas aja, Bude. Biar bunda cepat sembuh." Bagas menyodorkan tangannya.
"Bagas masih kecil. Biar bude yang sembuhkan bunda."
Anak itu langsung memeluk pinggang Mila. Ketakutan akan menimpa pada Bundanya lebih besar. Mila menghubungi ambulan dari puskesmas tempat dia bekerja.
Tak lama ambulans yang dimaksud sudah datang. Suara sirine terdengar nyaring, lalu para petugas medis menurun brankar dari dalam ambulan.
Tubuh Laras di beri beberapa alat pernapasan. Mila pun membawa Bagas ke mobilnya.
Sesaat Sasti merasa tak ada respon dari Bagas. Ternyata anak itu sudah tidur. Sasti memindahkan posisi kepala Bagas keatas pahanya. Ada guratan iba saat melihat anak sekecil itu harus menjalani kehidupan pelik. Tangan Sasti membelai rambut Bagas dengan pelan. Membuat sosok kecil itu semakin nyaman dalam tidurnya. Mila mendatangi Sasti untuk meminta wanita itu pulang. Namun Sasti menolak karena khawatir pada Bagas dan Laras.
Suasana malam itu terasa hening. Untuk sementara Bagas akan dia bawa ke rumahnya. Namun sebelum itu Mila menengok keadaan Laras terlebih dahulu.
Mila menarik kursi untuk duduk di dekat Laras. Helaan nafas berat terdengar di rongga mulut.
"Ras, sebegitukah kamu mencintainya, sampai kamu drop seperti ini. Kalau memang kamu mencintainya kenapa kamu meninggalkan dia. Kenapa kamu meninggalkannya saat dia membutuhkanmu. Apa kamu takut saat dia bangun sudah tidak sempurna lagi? atau jangan-jangan benar kata Tante Raya kamu memilih lelaki lain daripada suamimu.
Kalau begitu tolong bantu aku, Ras.
Lepaskan Rangga, dia berhak bahagia dengan perempuan yang lebih mencintainya.
Aku sudah lama tahu kalau kamu adalah istri Rangga. Sudah lama aku tahu itu.
Aku mohon, Ras. Lepaskan Rangga.
Ikhlaskan dia untukku, aku mencintainya, sangat mencintainya."
__ADS_1
Mila berbicara pada Laras yang masih belum sadar. Dia tahu perasaannya salah, mencintai lelaki yang belum talak dengan istrinya. Tapi melihat apa yang dia lihat versi Rangga dan versi Laras, dia lebih setuju dengan versi Rangga. Dimatanya Laras menggunakan masalah pribadinya untuk menarik simpati orang lain.
Sudah lama dia mencari tahu soal istri Rangga. Hanya untuk memastikan jika suatu saat wanita itu tidak akan mengambil Rangga darinya. Saat dia tahu wanita itu adalah Laras, ada dilema melandanya. Dimana wanita yang dia tolong selama ini adalah istri sah Rangga.
Namun Mila yakin kalau suatu saat Laras akan mengalah karena bundanya Bagas itu punya hutang budi pada Mila. Mila merasa dirinya sudah mengangkat derajat Laras, dan sekarang saatnya Laras membalas jasanya dengan melepaskan Rangga.
Mila meninggalkan Laras sendiri di ruang rawat. Dia teringat Bagas yang harus di titipkan pada kerabat Laras. Lagi-lagi dia memikirkan bagaimana meletakkan Bagas di rumahnya saja. Supaya Laras semakin merasa berhutang padanya. Senyumnya mengembang mengingat hal itu. Sosok mata memandang keduanya dari jauh.
Mila membawa Bagas ke rumahnya. Di bantu asisten rumah tangganya, untuk membopong Bagas di letakkan di kamar mendiang anaknya. Namun dia kaget ternyata mamanya ada disana.
"Mama kok nggak bilang kalau mau kesini?" Mila menyapa sang mama yang baru keluar dari kamar Chelsea.
"Itu anak siapa?" tanya Resi melihat sosok anak kecil di kamar cucunya.
"Anak teman, ma. Ibunya di rawat jadi aku yang menjaga Bagas."
"Dia mirip seseorang, Mila. Mama lihat wajahnya familiar banget." Resi merasa tidak asing dengan wajah Bagas.
Dia mirip Rangga, ma. batinnya.
" Mila," Resi menutup pintu kamar cucu dan mengajak putrinya bicara empat mata.
"Ada apa,ma?"
"Mama mau bertanya, apakah kamu punya perasaan khusus pada Rangga?"
"Iya, ma. Aku mencintainya." jawab Mila malu-malu.
"Apakah Rangga mencintaimu?"
Mila menaikkan kepalanya, dia berharap ada sambutan dari Rangga. Mungkin saat ini belum, tapi dia yakin suatu saat Rangga bisa membuka hati padanya.
"Kenapa diam, kamu tahu kenapa mama bicara seperti ini. Karena kamu perempuan berpendidikan. Hidupnya sesuai dengan style-mu tapi jangan merusaknya dengan keegoisan.
Selama Rangga dan kamu belum terlalu jauh. Pikirkan dampak positif dan negatif jika kamu mempertahankan Rangga. Positifnya kamu bisa menjadi orang yang mendukung Rangga, negatifnya kamu akan di cap pelakor."
"Pelakor?" Mila sedikit tertawa mendengar ucapan mamanya.
"Iya, status Rangga masih suami orang, Mila. Kamu harus sadari itu, kamu itu perempuan. Perempuan itu harus menjaga harkat dan martabatnya. Rangga itu laki-laki, dia mau saja sama kamu karena tidak merasa punya tanggungjawab. Buktinya setelah lima tahun kamu belum juga dikasih kejelasan sama dia. Sadar, Mila." ucap Resi pada putrinya.
__ADS_1
"Mama, aku mencintainya." lirihnya.