Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Menelan ludah sendiri


__ADS_3

"Nisa..." sebuah suara bariton memanggil dirinya.


Nisa memutarkan tubuhnya kearah si pemilik suara. Sebisanya dia menyambut ramah lelaki yang pernah dihatinya.


"Mas Hazar," ucap Nisa lirih.


Lelaki itu langsung bersujud dibawah kaki Nisa. Nisa kaget melihat lelaki itu tiba-tiba bersimpuh di kakinya. Ada apa gerangan? apa yang membuat lelaki itu menurunkan harga dirinya untuk bersimpuh. Berbagai pertanyaan berputar di otaknya.


"Mas..." Anisa mengangkat tubuh lelaki itu.


"Maafkan aku, Nisa. Maafkan aku! aku memang lelaki bodoh yang termakan hasutan Wanda." isaknya.


"Mas, jangan kayak gini," Anisa merasa tidak enak pada orang-orang di sekitarnya.


"Aku akan tetap begini sampai kamu memaafkan saya." Hazar masih teguh pada pendiriannya.

__ADS_1


"Aku sudah maafin kamu, mas. Aku juga sadar diri, kalau aku juga bukan sosok yang sempurna. Aku juga salah tidak jujur sama kamu atas masalah itu."


"Jadi kamu maafin aku, Nisa." Anisa mengangguk.


"Jadi kita bisa memulai lagi hubungan yang sempat retak. Aku janji akan setia sama kamu, aku janji akan menunggu sampai hukuman kamu selesai."


Anisa yang mendengar ucapan Hazar sejenak terdiam. Walaupun Hazar sudah menyakiti perasaannya, tapi masih ada sisa cinta di hatinya. Tapi untuk menerima Hazar kembali Anisa masih ragu. Apalagi kata ibunya keluarga Hazar datang membatalkan rencana pernikahan sambil memaki-maki ibunya. Sebagai seorang anak hatinya merasa tercabik atas yang dilakukan mantan calon mertuanya. Dari sana Nisa bisa menilai kalau hubungan itu di teruskan yang ada malah makan hati.


"Maaf, mas." Anisa berjalan menjauhi Hazar.


"Maaf, mas. Aku tidak bisa. Aku rasa ucapan kamu yang kemarin sudah cukup menyadarkan aku kalau kamu bukan yang terbaik. Iya aku sudah memaafkan kamu yang selingkuh di belakang aku bersama Wanda. Aku sudah maafin kamu yang meninggalkan aku karena malu atas statusku sebagai tahanan. Tapi bagaimana dengan keluargamu,mas? mereka pasti malu punya menantu seperti saya. Saya juga sadar diri, saya bukan orang berada. Maaf, mas saya tidak bisa memulai hubungan lagi sama kamu." ucap Anisa.


"Apa karena pria ini kamu menolakku?" suara Hazar berang.


"Kenapa harus bawa orang lain, mas? nggak ada urusannya!" Anisa tidak mau kalah.

__ADS_1


"Nak, maaf kalau ibu ikut campur. Ibu juga setuju dengan pemikiran Anisa. Kami tidak akan bisa diterima oleh keluargamu. Derajat kami beda. Tolong mengerti posisi kami." Bu Suriah ikut bicara.


"Setidaknya saya bisa memperjuangkan Anisa, Bu. Saya akan meyakinkan mereka kalau Anisa itu pilihan saya."


Adit yang melihat perseteruan antara Anisa dan Hazar memilih menjauh. Dia sadar kalau rencananya tidak tepat. Tadinya dia mau membicarakan soal melamar Anisa. Tapi melihat keadaannya, Adit harus berpikir ulang. Belum tentu Anisa mau menerimanya dirinya.


Adit berjalan menuju mobilnya. Tiba-tiba ada suara yang memanggilnya. Suara yang terdengar seperti amarah besar.


Sesaat Adit menoleh. Tak berapa sebuah tangan menghantam wajah tampannya. .


BUUUGH!


Sesaat tubuh Adit terhempas ke tanah. Tangannya memegang pelipis wajahnya yang memar. Lelaki itu masih mengayunkan tangannya ke salah satu tubuh Adit. Adit pun menahan tangan itu agar tidak menyasar ke tubuhnya. Dengan cepat lelaki muda itu mendorong Hazar hingga terjembab ke tanah.


"Jika kamu mencintai Anisa. Bersikaplah gentleman, bukan main fisik. Kamu tahu kalau Anisa tidak suka kekerasan." ucap Adit.

__ADS_1


"Karena kamu sudah racuni otak Anisa. Anisa yang aku kenal sangat nurut sama aku. Tapi tadi dia menolakku bahkan Bu Suriah pun juga menolakku. Aku yakin kamu yang cuci otak Anisa.


__ADS_2