
"Ras," terdengar suara Sasti memanggil dirinya.
Laras hanya tersenyum kecil melihat gadis muda itu berlari mendekati dirinya. Sasti memeluk dirinya seakan tahu apa yang terjadi.
"Kamu sudah ketemu Bu Jihan?" Laras mengangguk.
"Terus apa kata Bu Jihan?"
"Aku datang kesini untuk resign, Sasti." jawab Laras.
"Hah! resign! serius kamu, Ras. Jangan dong. Aku nggak ada temen kalau kamu keluar."
"Aku berterimakasih sama kamu, Sasti. Kata-kata kamu waktu membuat aku merenung. Aku ini sudah menikah. Baktiku pada suami dan anakku. Aku ingin meluangkan waktu untuk Bagas. Selama ini banyak yang ku lalaikan karena aku seorang single parents." jelas Laras.
"Ras, aku minta maaf kalau aku waktu itu lancang menghubungi suamimu. Karena rasa kasihan pada Bagas. Aku sadar sudah melewati ranah privasimu."
Laras membereskan barang-barangnya di meja kerjanya. Sasti dan Rangga membantu Laras membawa barang. Barang Laras tidak banyak, dan itu tidak membuat lelaki itu keberatan membantunya.
Laras menyalami satu persatu teman kerjanya. Sebagian dari mereka tahu rumor tentang Laras yang berasal dari perusahaan lawan.
Laras juga mendengar suara-suara sumbang tentang dirinya. Namun dia tidak perduli tentang hal itu. Selama dia tidak seperti yang dituduhkan. Matanya melirik kearah suaminya.
"Mau aku tegur?" ucap Rangga seakan apa yang dipikirkan istrinya.
"Nggak usah, Mas. Aku mau cepat pulang. Kepikiran Bagas sendirian di rumah." jawab Laras.
"Bagas ada Ajeng, sayang."
"Seorang anak yang dia butuhkan bukan asisten rumah tangga, Mas. Tapi perhatian dari kita kedua orangtuanya. Paling tidak kalau kamu sibuk, ada aku yang punya waktu banyak untuk Bagas." jawab Laras.
"Ini baru istri kesayangan aku. Laras yang dulu sudah kembali." Rangga memeluk istrinya dengan erat.
"Ehmmm .. ini kantor." Sasti muncul di tengah kemesraan mereka.
"Iya, aku juga tahu ini kantor, Sasti. Aku pamit ya Sasti. Jaga dirimu baik-baik. Kita masih bisa berkomunikasi, kamu boleh main ke rumah."
"Aku juga mau resign, Ras. Tapi belum buat suratnya. Tadi aku sempat diancam sama Bu Jihan karena membela kamu. Dia mau mecat aku. Tapi aku langsung ancam balik kalau aku yang akan duluan resign."
"Maafkan aku, Sasti. Gara-gara aku, kamu malah ikut kena getahnya."
"Nggak kok, Ras. Soalnya aku mau menekuni bisnis baru. Aku sebulan ini ikut pelatihan prakarya biar bisa buka usaha. Aku mengambil jurusan membuat souvernir." jelas Sasti.
__ADS_1
"Dimana kamu mau pelatihan?"
"Di Bandung." jawab Sasti mengulum senyum.
"Aku doakan semoga kamu sukses ya, Ti." Laras menepuk bahu Sasti.
"Sama-sama, Ras. Aku juga doakan kamu dan Rangga bahagia."
"Aku pamit, ya, Ti. Bagas masih kurang sehat. Aku tidak bisa lama-lama. Kamu main ke rumah, ya."
"Iya, nanti pas weekend aku main kesana. Kangen sama Bagas."
Laras dan Sasti saling berpelukan erat. Dua wanita yang memulai pertemanan di kampus swasta saling bertatapan dengan lekat. Laras melihat wajah Sasti sudah mulai lembab, dengan pelan menghapusnya dengan tisu. "Jangan nangis, dong. Kita kan masih bisa bertemu."
"Yuk, sayang." Rangga mengingatkan istrinya untuk segera meninggalkan kantor tersebut.
Rangga dan Laras akhirnya meninggalkan kantor PARMALEX Corps. Di dalam mobil Laras menyandarkan kepalanya di kursi. Matanya menatap jalanan yang masih dengan kemacetannya.
Langit masih bertahan dengan kecerahannya. Kilauan pantulan sinar matahari membuat sebagian orang memilih berteduh. Panasnya udara seakan memanggang kulit.
......................
"Den Bagas makan, ya? biar bisa minum obat." bujuk Ajeng.
Ajeng tidak bisa memaksa kalau Bagas belum terlalu lapar. Dia tahu anak kecil tidak suka dipaksa. Kalau dia kurang sabaran nanti mempengaruhi pekerjaannya dan tentu gajinya.
"Mbak mau ngerjain yang lain dulu. Kalau Bagas mau apa-apa panggil aja."
"Iya, mbak. Terimakasih sudah buatin Bagas makanan."
"Bukan mbak yang masak, Gas. Tapi bunda kamu." Ajeng keluar dari kamar Bagas.
Ajeng pun mengerjakan pekerjaan lain. Sebagai asisten rumah tangga, Ajeng cukup terampil mengerjakan pekerjaan rumah. Wanita muda berusia 19 tahun tersebut adalah keponakan dari Bu Asti, mantan asisten rumah tangga kediaman Pattimura.
Dia tahu budenya sudah puluhan tahun bekerja di sana. Bahkan dia sudah mendapatkan gambaran bagaimana karakter majikan barunya. Yang terpikirkan saat itu, dia bisa bekerja dengan baik. Agar bisa membantu biaya sekolah adiknya yang masih SD.
Ajeng sedang membersihkan ruang utama terusik saat mendengar suara bel. Menandakan ada tamu yang datang. Ruangan yang ukurannya sangat luas membuat Ajeng lama mencari putaran menuju pintu depan.
"Nyonya besar," sapa Ajeng saat membuka pintu.
Raya masuk ke dalam dengan langkah anggunnya. Matanya mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Suasana rumah sangat sepi.
__ADS_1
"Kok sepi? Laras dan Rangga mana?" tanya Raya.
"Bu Laras dan Pak Rangga sedang keluar, Bu. Kalau di sini ada nya den Bagas." kata Ajeng.
Raya tidak sendiri. Dia datang bersama Mila. Karena Mila masih dalam hukuman skors. Jadi dia bisa bebas pergi kemana saja. Raya mendatangi kediaman Mila sekaligus menjenguk Resi, mamanya Mila.
"Bagas? kok tidak sekolah, mbak?" tanya Mila.
"Den Bagas masih demam, Mbak." jawab Ajeng.
"Kamu lihat kan kelakuan Laras? anak sakit dia malah keluyuran. Dia ngajak anaknya kabur dari rumah sampai Bagas drop dan masuk rumah sakit. Nggak becus jadi ibu!" kata Raya geram.
"Aku tahu, kok Tante. Waktu Laras masih kost, dia juga sering opor Bagas ke orang-orang yang baik sama dia. Kasihan Bagas dia sering kesepian karena Laras sibuk kerja. Bahkan dia sering meminta orang lain menjemput Bagas ke sekolah." kata Mila.
"Apaaaa! jadi seperti itu dia memperlakukan cucuku selama ini. Kurang ajar! Ajeeeeeng!" pekik Raya.
Ajeng lagi-lagi harus menunda pekerjaannya setelah mendengar teriakan Raya.
"I... iya, Nyonya besar."
"Tolong bereskan barang-barang Bagas. Biar dia tinggal sama aku saja." titah Raya.
"Tapi nyonya, apa tidak menunggu Bu Laras dan pak Rangga dulu."
"Ini cucuku, masa bawa cucuku saja harus pamit sama mereka. Mereka kan sok sibuk sampai lupa anaknya sendirian di rumah."
Beberapa saat Mila sudah menggendong Bagas yang masih pucat.
"Kita mau kemana, Oma?" tanya Bagas.
"Ke rumah Oma, nak."
"Nggak mau, Oma. Bagas tunggu bunda sama ayah dulu."
"Nanti mbak Ajeng yang bilang sama ayah dan bunda Bagas."
"Kan ada bude dokter, Gas. Bude yang menemani Bagas di rumah Oma."
"Nggak mau, bude. Bagas mau sama ayah bunda." tolak Bagas.
"Bagas nggak sayang lagi sama bude." Mila berakting seolah sedang menangis.
__ADS_1
Bagas merasa bersalah ketika melihat bude dokternya menangis. Bagas memang sensitif kalau melihat orang bersedih.
"Maaf, bude. Iya Bagas mau ikut kerumah Oma."