
"Jadi bagaimana, mamanya Stevan? apa saya perlu menelepon papa saya untuk membicarakan jabatan suami anda." kata Rangga sambil memegang handphone.
Ucapan Rangga tidak main-main. Dia tidak akan tinggal diam saat anak dan istrinya di hina. Sebagai suamiku Rangga sudah pasang badan untuk Laras dan Bagas.
"Mas, ..." Laras memegang siku pergelangan tangan suaminya.
"Tidak apa-apa, sayang. Sesekali mereka harus di kasih pelajaran. jangan terus bertindak semena-mena. Memangnya saya tidak tahu kalau anak anda sering mengganggu anak saya. Memang saya harus diam saja saat saya anda hina." kata Rangga pada istrinya.
Laras merasa ini sudah diluar pembahasan sebenarnya. Tujuan mereka kesini kan karena ditelepon sekolah. Pihak sekolah mengabari kalau Bagas meninju temannya sambal memar di salah satu tubuh. Setelah sampai di sekolah justru laporan itu tidak seperti yang di sampaikan. Laras tidak melihat memar atau luka di tubuh Stevan.
"Maaf, tadi ada yang menelepon katanya Stevan luka karena Bagas. Tapi saya lihat dia baik-baik saja." Mendengar hal itu mamanya Stevan memeriksa tubuh anaknya.
"Ini," mama Stevan memperlihatkan memar di tengkuk leher anaknya.
"Bohong, bunda. Bagas cuma pukul depan saja."
"Maling mana mau ngaku? penuh penjara." kata mamanya Stevan masih nyolot.
"Siapa saksi kejadian Bagas tadi?" tanya Rangga.
Shaka yang tadinya diam saja, menaikkan kepalanya. Stevan menatapnya penuh ancaman. Lagi-lagi anak itu memilih diam karena takut pada anak majikannya. Padahal sebelum kedua orangtua temannya datang dia sudah mengaku menjadi saksi.
"Jadi dia lihat juga?" bisik mamanya Stevan pada anaknya. Stevan mengangguk.
"Tenang, nak. Kalau dia macam-macam atau tidak nurut sama kita. Kita tinggal pecat mbok nya. Toh dia bisa sekolah disini karena papa kamu." kata mamanya Stevan membanggakan diri.
"Tidak ada, ya?" Rangga mendekati Shaka.
"Anu ... ...itu ...saya lagi di luar. kilah Shaka.
"Bohong, Bu guru. Tadi Shaka ada di sebelah Stevan." adu Bagas.
"Ayo Shaka tadi kan kamu sudah ngaku sama ustadzah. Kenapa sekarang kamu nggak mau ngaku. Kamu lupa apa akibatnya kalau suka bohong." kata Ustadzah Astari.
"Saya takut, ustadzah." ucap Shaka menunduk.
"Kenapa?"
"Nanti si mbok di pecat sama mereka. Kasihan si mbok, sama adikku Sifa."
__ADS_1
"Kamu tenang saja, kalau Shaka jujur di depan orang tua Bagas. Insyaallah, si mbok nggak jadi di pecat."kata Ustadzah Astari menenangkan muridnya.
"Bunda, tadi Shaka mau ngaku jadi saksi. Tapi sekarang dia malah bohong. Tadi Stevan ngancam Shaka, mbok nya Shaka kan kerja sama orangtuanya Stevan." Bagas mengadu pada bundanya.
Rangga mendengar hal itu langsung mendekati Shaka. Anak laki-laki kecil itu bersembunyi di balik tubuh gurunya. Seakan takut lelaki di depannya akan memarahinya.
"Shaka, sini, nak. Om mau ngomong." ajak Rangga.
"Shaka, itu papanya Bagas mau bicara sama Shaka." ustadzah Astari mengikuti ucapan Rangga.
"Om, jangan marahi saya. Saya tidak ikut mengganggu Bagas. Saya hanya nonton saja." jelas Shaka takut-takut.
"Om, tidak akan marah. Om suka orang anak yang jujur. Itu nanti bisa masuk surga,Lo. Shaka mau kan masuk surga." ucap Rangga membujuk Shaka.
"Om, memang tadi Bagas mukul Stevan. Tapi yang ganggu Bagas Stevan duluan. Dari dulu Stevan tidak suka sama Bagas, om."
"Kenapa?"
"Nggak tahu, om. Dari dulu Stevan ngejek Bagas tidak punya ayah." cerita Shaka.
"Jadi bagaimana, pak Rangga dan Bu Laras? sebaiknya kita cari jalan keluar untuk kedua anak ini." ustadzah Astari menengahi dua orangtua yang masih saling ngotot.
"Tapi anak anda tidak luka parah." Laras tidak mau kalah.
"Sudah, sayang. Kita harus tanggung jawab. Ini kan ulah Bagas juga."
"Tapi, mas..." Laras memilih malas melanjutkan ucapannya. Hingga sampai detik ini pun Stevan tidak minta maaf karena mengganggu Bagas.
"Stevan aku minta maaf,ya. Tadi sudah mukul kamu, tapi kamu harus janji nggak ganggu saya lagi."
Stevan tak bergeming sesaat, pandangannya di alihkan pada mamanya. "Kamu terima maafnya biar tidak panjang ceritanya." bisik mamanya.
"Iya, Bagas. Saya maafin kamu." Stevan menerima uluran tangan Bagas.
"Alhamdulillah." seru semua yang ada di ruang kepala sekolah.
Setelah menyelesaikan permasalahan anak-anak mereka. Mamanya Stevan pun pamit, itupun tanpa minta maaf pada Laras. Rangga melihat hal itu hanya menggelengkan kepalanya. Sesekali meraup nafas dalam-dalam.
"Mas,.." Laras menyelipkan lengannya di lengan suaminya.
__ADS_1
"Iya, sayang."
"Terimakasih sudah membela aku dan Bagas."
"Sudah kewajibanku sebagai seorang suami dan ayah. Aku pamitkan Bagas, ya. Aku mau ajak kalian jalan-jalan." Rangga meninggalkan Laras di depan area tempat bermain. Tak berapa lama Bagas keluar dengan tas sekolahnya.
"Kita mau kemana?" tanya Laras.
"Kita jenguk mama dulu. Terus baru kita jalan-jalan." Laras mengangguk menyetujui rencana suaminya.
*
*
*
*
"Adit," suara atasannya saat menyambangi ruang kerjanya.
Saat ini Adit masih menjadi staf perusahaan Pattimura corps.
"Bapak," Adit menyalami Donal.
"Iya, saya." Donal tersenyum pada pemuda itu.
Donal melabuhkan tubuhnya di kursi di depan meja kerja Adit. Adit berdiri mempersilahkan atasannya duduk di kursinya. Donal menolak tawaran Adit. Dia masuk ke ruangan bukan sebagai atasan. Tapi sebagai seorang yang menganggap Adit seperti anaknya sendiri.
"Dit, saya kesini ada yang di sampaikan."
"Ada yang bisa saya bantu,pak?" Adit merapikan cara duduknya.
"Saya ada kerabat yang tadinya sudah saya tawari untuk beasiswa kuliah di Malaysia. Sepupu saya adalah dosen disana, dia mencari lima mahasiswa Indonesia untuk kuliah khusus karyawan. Dari beberapa perusahaan ada tiga perusahaan yang memasukkan staf mereka.
Tadinya ada satu dari komunitas notaris memasukkan staf mereka. Tapi setelah sudah 50% ternyata stafnya mau dilamar calonnya dan memilih mundur.
Intinya saya mau kamu mewakili perusahaan mengikuti beasiswa di Malaysia. Saya melihat kamu saat kasus istri saya. Dari situ saya yakin sama kamu."
"Pak tawarkan sama yang lain saja. Saya belum pantas dapat beasiswa."
__ADS_1
"Kamu pikirkan lagi, nak. Saya tunggu jawaban kamu." Donal menepuk bahu Adit. Meninggalkan ruang kerja Adit.