Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Bertemu mereka


__ADS_3

"Kita mau kemana, mas" tanya Laras saat siang itu suaminya membawa keluar rumah.


"Ada, deh." Rangga mengulum senyum. Laras melihat ekspresi suaminya semakin penasaran.


"Jangan bilang aku mau di tinggalkan jauh terus kamu mau cari istri lagi." tuduh Laras.


"Ya kalau diizinkan," ucap Rangga sambil tergelak.


"Mas, nggak lucu,ah." ambek Laras.


"Nggak perlu cari yang lucu. Kamu aja sudah lucu, sayang." Tangan Rangga mencubit pipi istrinya.


"Jadi kita kemana?" lagi-lagi Laras menanyakan hal yang sama.


"Jalan-jalan." jawab Rangga singkat padat dan jelas.


"kemana?"


"Banyak nanya ah! Nanti juga tahu." Rangga kembali mencubit pipi istrinya.


Rangga hanya tertawa dalam hati. Rasa dia ingin melahap bibir istrinya. Namun, hal itu di kontrolnya. Mengingat saat ini sedang menyetir. Jangan sampai momen romantis ini malah jadi momen duka.


Dering nyaring ponsel berhasil membuat konsentrasi menyupirnya lumayan terganggu. Rangga menyematkan headset di telinganya. Membuyarkan momen romantis diantara dua insan halal tersebut.


Sembari mematikan mesin mobilnya, Laras meminta suaminya mengangkat telepon tersebut.


Matanya yang indah masih belum beralih dari sosok di sampingnya. Memandang betapa tampannya suaminya. Meskipun sambil menelepon tangan Rangga masih jahil menggoda istrinya. Posisi tubuh Laras di tarik duduk diatas paha Rangga. Tentu saja dia menolak hal itu. Mengingat sekarang berada di jalanan umum. Pipinya merah ketika lelaki itu melabuhkan kecupan di kening istrinya.


"Mas.." Laras merasa geli pada serangan suaminya. Tangannya mendorong tubuh yang lebih besar darinya.


"Iya, saya sedang dalam perjalanan." jawab Rangga menutup teleponnya.


"Siapa, mas?"


"Adit. Dia sudah menunggu di tempat kita." jawab Rangga.


"Jadi kita sebenarnya mau kemana?kenapa Adit sampai menunggu. Kenapa Bagas harus di titipkan di tempat Eva."


"Nanti aku kasih jawabannya pas sampai." Rangga masih saja bungkam.


Laras memuramkan wajahnya. Dia kesal suaminya main rahasia. Tapi Laras membayangkan pasti akan diajak ke tempat romantis. Biasalah suaminya dari dulu penuh kejutan. Dari yang mendadak menerima dirinya sebagai calon istri, mendadak memboyong ke Jepang, menghilang setelah kecelakaan, lalu muncul kembali setelah semua yang terjadi.


Sekarang rahasia apa lagi yang di sembunyikan suaminya. Laras mengedarkan pandangan ke arah jalanan. Sesaat dia menyadari kalau perjalanan sudah di luar kota. Area memasuki hutan-hutan kecil. Laras mengingat kalau dulu dia pernah di bawa keluar kota. Mungkin kah dia akan dibawa ke rumah pohon.

__ADS_1


Aroma khas pepohonan masih terasa olehnya. Langit mulai menampak cahaya berwarna jingga. Senja yang tampak indah seolah menyambut kedatangannya. Mobil pun memasuki sebuah jalan besar. Benar, Laras sangat hapal tempat ini.


"Kenapa aku masih di bawa ke tempat kenangan mas sama Ina." Protesnya sambil membuang muka kearah lain.


"Sayang, ini tempat bukan hanya kenangan sama ina. Tapi ini milik keluargaku. Milik almarhum papaku. Jadi kalau ada Ina disini sebagai keluarga." .


"Tapi mas melamar ina disini, kan? pasti sangat membekas buat mas sampai harus pergi kesini."


"Pokoknya kamu ikut aku. Nanti kamu akan tahu kenapa aku membawamu kesini." Laras mau tidak mau mengikuti suaminya memasuki hutan belukar.


Mendaki gunung lewati lembah


sungai mengalir indah ke samudra


bersama kamu bertualang.


Laras tertawa mendengar nyanyian Rangga. Lagu yang pernah dia dengar semasa kecil. Ya walaupun dia hidup dan besar di dunia milenial. Namun dia tak ketinggalan dengan tontonan anak-anak jadul.


"Kenapa kamu ketawa?"


"Ya, lagunya lucu." jawab Laras.


"Ya kan itu lagu kartun zaman kecilku dulu. Kalau zaman kalian kan sudah ada Digimon, pokemon apalagi." Rangga mencoba mengingat tv yang sering di tonton Ina.


Spongebob Squarepants


Spongebob Squarepants


Spongebob .... Squarepants...


Rangga bernyanyi menirukan gaya Spongebob. Laras tak hentinya tertawa dengan aksi suami. Sesekali dia menepuk pundak Rangga, mengingat dia berada di hutan. Kata orang kalau hutan ini banyak mistik. Jangan sampai karena kehebohan mereka pemilik alam merasa terganggu.


"Kita sampai." Rangga menyerukan saat tiba di rumah pohon.


Mereka tiba di rumah pohon. Rumah yang sering dia dengar dari Ina tentang kisah mereka (Ina dan Rangga). Rumah yang kata Ina di bangun Rangga saat itu untuk kado ulangtahunnya ke sepuluh. Aroma khas wangi jati masih terasa semerbak di sekitar hutan.


Rangga menarik tangan Laras untuk naik keatas rumah pohon. Tangganya yang kecil membuat dia bergidik takut. Rangga membungkuk badannya. Meminta Laras naik ke bahunya. Laras takut-takut menaiki punggung Rangga. Suara hentakan kaki menaiki tangga terdengar jelas.


"Kamu duduk, ya?" Rangga meletakkan Laras di ranjang kecil terbuat dari rotan.


Rangga memberi instruksi pada anak buahnya. Beberapa pengawal pun bergerak sesuai arahan. Salah satu dari mereka pun membawa makanan yang sudah di masaki di tenda seberang.


Ikan bakar pun sudah tersaji di meja. Di temani nasi dan beberapa lalapan.

__ADS_1


"Mas, ini siapa yang masak?"


"Nanti kita bertemu dengan kokinya." elak Rangga.


Laras menuruti permintaan suaminya. Walaupun rasa penasarannya lebih besar daripada rasa laparnya.


Selesai makan mereka pun beristirahat sejenak. Rangga meminta Laras menunggu, karena waktu sudah gelap, dia menurut saja. Meskipun dia sebenarnya takut sendirian di rumah pohon. Tapi ada pengawal yang berjaga di bawah rumah pohon.


Tok tok ...


Laras mendengar suara ketukan di pintu masuk rumah pohon. Ada rasa takut karena cuma sendirian, namun dia memberanikan diri membuka pintu.


"Assalamualaikum,"


Laras terpaku pada sosok yang ada di depannya. Sosok yang sudah seperti ibunya sendiri. Sosok yang pernah ada disampingnya saat dia jauh dari Rangga.


Suara manis dan merdu itu kembali menyapa Laras di depan pintu. Laras tetap tak bergeming saat wanita itu menyelonong masuk ke dalam ruang utama rumah pohon.


Rangga berdiri di bawah rumah pohon masih memantau. Meskipun dia takut Endang akan melakukan sesuatu pada Istrinya. Namun terselip keyakinan kalau wanita itu tak mungkin nekat.


"Bu ... de..." Laras berjalan mundur saat Endang mendekatinya.


"Maafkan saya, Laras. Maafkan saya atas kesalahan yang di masa lalu. Saya tahu kamu pasti sangat benci melihat saya. Saya tahu kamu pasti tidak ingin saya disini. Tapi satu hal yang sama kamu tahu!"


"kenapa, Bude. Kenapa Bude tega melakukan ini sama saya. Saya ini ponakan bude, bukankah kita keluarga. Tapi apa seperti ini yang namanya keluarga. Menikung keponakannya sendiri. Kenapa Bude lakukan ini? kalau bude butuh uang Laras bisa bantu. Tapi kenapa bude malah menusukku dari belakang." Tangis Laras pecah.


"Karena aku bukan budemu, Laras. Aku hanya perempuan bayaran dari seseorang yang berada di dekatmu. Aku dibayar seseorang untuk menghancurkan kamu. Seseorang yang merasa orang yang dia sayangi sudah berpihak padamu."


"Si...apa ....siapa!"


Rangga melihat istrinya sangat syok langsung berlari kearah rumah pohon. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Laras.


"Suamimu tahu siapa orangnya. Dia adalah ibu dari suamimu. Mertuamu, Laras." Endang seakan puas membuat Laras lebih down.


"Diam! aku menyuruh anda jujur pada Laras. Bukan untuk membuatnya drop." amuk Rangga.


"Mas, aku kecewa sama kamu." Laras menjauhkan tubuhnya dari Rangga.


"Maafkan aku, sayang."


Rangga menarik Endang dengan penuh emosi.


"Cepat kamu minta maaf pada Istri saya. Saya membawamu kesini menyekap kalian berhari-hari untuk meminta maaf pada Laras. Bukan untuk membuatnya semakin down. Sudah cukup saya sabar dengan sikap kalian."

__ADS_1


__ADS_2