Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Menjemput Bagas


__ADS_3

Rangga berjalan keluar dari toko mainan. Salah seorang lelaki berseragam hitam mengikuti Rangga dari belakang. Sambil menenteng kotak kotak besar yang menutupi tubuhnya.


"Den, mainan sebanyak ini untuk siapa?" tanya Jaka.


"Kamu jangan banyak tanya. Masukin saja ke dalam mainannya." omel Rangga.


"Iya, den." sungut Jaka.


Setelah Jaka memasukkan mainan ke dalam mobil. Rangga memberikan uang pada sopirnya itu.


"Buat apa, den?" Jaka bingung bos memberi uang dua lembar warna merah.


"Ongkos grab atau taksi." jawab Rangga.


"Lah, kan saya..." belum selesai dia bicara, mobil didepannya sudah tancap gas meninggalkan dirinya di keramaian.


"Den, Rangga kenapa sih! saya di tinggal saja. Ya weslah, saya pulang saja. Nanti kalau ada yang nanya bilang saja mas Rangga lagi kecantol janda punya anak. Sampai bela-belain beli mainan mahal. Tapi mungkin karena dia belum di kasih anak kali, ya."


When your legs don't work like they used to before


And I can't sweep you off of your feet


Will your mouth still remember the taste of my love


Will your eyes still smile from your cheeks


And darling I will be loving you 'til we're 70


And baby my heart could still fall as hard at 23


And I'm thinking 'bout how people fall in love in mysterious ways


Maybe just the touch of a hand


Oh me I fall in love with you every single day


And I just wanna tell you I am


So honey now


Take me into your loving arms


Kiss me under the light of a thousand stars

__ADS_1


Place your head on my beating heart


I'm thinking out loud


Maybe we found love right where we are


Lagu Thinking out loud by Ed Sheeran mengiringi perjalanan Rangga menuju sekolahnya Bagas. Bagaikan orang puber entah yang keberapa, Rangga terus bernyanyi tanpa henti. Mungkin jika dia jatuh cinta pada seorang wanita akan terlihat wajar. Tapi yang membuatnya semangat saat ini adalah seorang anak kecil yang baru di kenalnya.


Bayangkan seorang anak kecil yang menghipnotis Rangga. Lelaki berusia 41 tahun tersebut merasakan rindu yang teramat dalam pada seorang anak usia lima tahun. Entah apa yang membuat dirinya begitu sayang pada Bagas. Seperti ada magnet yang menarik dirinya ingin mengenal Bagas lebih dalam.


Beberapa lagu jadul terus berputar, dari thinking out loud, bohemian rapshody, dan lagu mancanegara lainnya.


Author said: Mungkin itu yang namanya ikatan batin.


Betul nggak sih!


Mobil Alphard memasuki pelataran taman kanak-kanak. Rangga berkaca mempersiapkan diri untuk bertemu dengan bagas. Lelaki itu turun mendekati pagar sekolah beraksen klasik tersebut.


"Pak Rangga," sapa seorang wanita muda memakai hijab.


"Iya, saya kesini mau jemput Bagas."


"Oh, Bagas tidak masuk, pak. Ibunya masuk rumah sakit. Tadi ada perwakilan keluarga yang datang buat izin."


"Om, mau jemput Yusuf, ya. Yusuf mau ikut. Tadi kata mama, Om di suruh main ke rumah." Rangga hanya melihat keponakannya sambil tersenyum kecil.


"Maaf, suf. Om belum bisa mampir ke rumah. Soalnya om ada urusan." tolak Rangga.


Entah kenapa dia malah pengen tahu soal ibunya Bagas.


"Yusuf, Bagas bilang nggak siapa nama ibunya."


"Nggak tahu, om. Bagas manggilnya Bunda saja."


Rangga kembali ke mobil. Sesekali menarik nafas dalam-dalam. Di liriknya beberapa mainan jumbo yang akan di hadiahkan pada Bagas.


"Coba aku tanya sama Mila. Mungkin dia tahu?"


Rangga mencoba menghubungi Mila, sekedar untuk menanyakan perihal ibunya Bagas. Sayang, Mila tak bisa di hubungi. Lelaki itu menganggap kalau Mila sedang sibuk. Kembali di letakkan gawainya, sesekali melepaskan udara dari rongga mulut. Lelaki itu mulai menghidupkan mesin mobilnya. Meninggalkan pelataran sekolah tersebut. Langit terlihat mulai mendung, awan hitam menggumpal di satu titik.


Beberapa saat kemudian, mobil sudah berhenti di depan kontrakan Bagas. Rangga masih terduduk dalam mobilnya. Tak berapa lama dia keluar mendekati areal kontrakan.


Ada seorang wanita yang sedang menyapu di depan teras depan rumah Laras.

__ADS_1


"Assalamualaikum." sapanya.


"Waalaikumsalam," wanita itu membalas sapaan Rangga.


"Ada yang bisa saya bantu, mas?" tanya wanita itu.


"Saya Rangga, saya temannya Bagas."


"Temannya Bagas?" wanita itu memandang Rangga dari atas sampai ke bawah.


"Iya, saya temannya Bagas. Bagasnya ada? anda ibunya, ya. Katanya anda masuk rumah sakit."


"Saya Sasti, temannya Bagas juga. Iya ibunya sakit, ada asma bawaan sama tensi darahnya turun." jelas Sasti.


"Bisa tolong antarkan saya menjenguk ibunya Bagas. Sekalian saya punya oleh-oleh buat Bagas." Rangga berjalan mengambil beberapa mainan untuk Bagas.


Sasti melotot melihat begitu banyaknya mainan mahal. Dia melihat Rangga kesulitan membawa akhirnya tergerak untuk membantu. Sasti meletakkan mainan tersebut di depan televisi.


Rangga pun di persilahkan masuk ke dalam rumah. Sasti pun menawarkan minuman pada lelaki itu. Rangga hanya meminta air putih.


"Sebenarnya saya tidak tinggal disini. Tapi saya kasihan bagas tidak ada yang menemani. Ya walaupun Bagas kayaknya lebih memilih menginap di rumah sakit." Sasti meletakkan segelas air putih dan biskuit di dalam toples kaleng.


"Owh, ya, mas Rangga kenal Bagas dimana? saya cukup kaget saat tahu Bagas punya teman dewasa juga."


"Dari dokter Mila." Jawab Rangga sambil menyeruput air putih.


klik


"Bagaimana perkembangannya? apakah kalian menemukannya?" kata Raya saat sedang menghubungi seseorang.


"Saya dapat informasi dia punya anak, Bu. Tapi saya tidak tahu apa dia sudah menikah lagi atau belum? salah seorang anak buah saya sedang mencari dimana alamatnya."


"Cari dia sampai dapat! saya sangat membutuhkan kehadirannya saat ini. Terutama demi masa depan anak saya."


"Baik, Bu." Komunikasi seluler pun berakhir.


Raya menutup teleponnya, senyumnya mengembang. Seakan ada yang membuatnya senang saat ini.


Jika memang Laras punya seorang anak, aku yakin itu anak dari lelaki lain. Dia kan mandul, mana mungkin bisa hamil. Tapi kalau memang anak itu keturunan Rangga. Aku akan ambil hak asuh untuk menjadi penerus keluarga.


Aku mencari Laras karena ingin dia meminta talak pada Rangga. Agar anakku bisa menikah dengan Camila. Seandainya dulu aku tidak gegabah meminta Laras untuk menikah dengan Rangga. Pasti akan beda ceritanya. Memang kalau penyesalan itu selalu datang terakhir.


Raya terus bermonolog mengingat status anaknya. Keinginannya untuk mendekatkan Mila dan Rangga sangat besar. Wanita berusia 58 tahun itu, membayangkan jika keduanya menikah dan hidup bahagia. Karena itu harapan terbesarnya.

__ADS_1


__ADS_2