
"Mas, Ina beruntung bisa dapat keturunan sedangkan aku. Sampai sekarang belum ada tanda-tanda hamil. Aku capek, mas di rongrong terus sama mama Raya. Aku capek, mas setiap bulan berharap telat haid, tapi nyatanya." Rangga langsung memeluk istrinya mencoba menenangkan.
"Sayang, tolong dengarkan aku. Kamu jangan berpikiran seperti itu. Aku tidak pernah menuntut kamu untuk cepat hamil. Rezeki, maut, semuanya sudah ada ketentuannya dari yang diatas. Kita sebagai umat manusia harus bisa mensyukuri apa yang didapat saat ini. Kamu nggak usah iri sama Ina karena dia cepat hamil. dia juga satu tahun menunggu supaya bisa cepat hamil. Buang rasa irimu itu."
"Perasaan iri hati itu muncul karena sikap kamu yang tidak menyukai ketika melihat orang lain lebih baik dan sukses dari kamu. Rasa iri itu bisa membuat hati dan pikiran menjadi tidak tenang. Terus menyimpan rasa iri itu tidak baik dan akan membuat kamu merasa tidak nyaman.Energi dan pikiran kamu akan terbuang hanya untuk memikirkan sifat iri yang kamu miliki karena melihat orang lain yang lebih baik dan sukses dari kamu. Tapi, sebenarnya ada banyak cara untuk bisa menghilangkan rasa iri hati kamu pada orang lain.
Jadi please buang irimu pada Ina. Toh Ina selalu mensupport kamu, Ras. Walaupun kamu sempat nikung dia waktu kuliah dulu."
Laras menegakkan kepalanya ketika mendengar pernyataan Rangga. Ternyata suaminya sudah tahu penyebab dirinya di keluarkan dari kampus.
"Mas, sudah tahu soal itu?"
Rangga mengangguk "Alam juga sudah tahu kok. Soalnya pas kasus itu aku dan Alam mendatangi kampus. Makanya aku sempat marah saat mama meminta menikah denganmu. Tapi Ina meyakinkan aku agar membuka hatiku padamu. Dan benar, aku memang jatuh cinta sama kamu, Ras."
"Maafkan aku, mas." Laras kembali menunduk malu.
Saat itu aku merasa mendapatkan suntikan energi ketika mas Rangga selalu menguatkan dan memotivasiku. Dia selalu meyakinkan aku supaya tidak minder karena belum bisa hamil. Dia tidak pernah mengecilkan aku, beda dengan mama Raya.
Sejak aku pulang dari rumah ibu, sikap mama Raya berubah. Aku tidak tahu apa yang membuatnya seperti ini. Tapi mungkin karena aku belum memberinya cucu. Aku bukan tidak mau hamil, mau sangat. Perempuan mana yang menolak datangnya buah cinta pernikahan mereka. Perempuan mana yang tidak ingin di anugerahkan sosok malaikat kecil dalam rumah tangganya. Semua perempuan menginginkan itu, termasuk aku. Tapi aku ingin semuanya berjalan secara alami, tanpa harus program ke dokter.
Hingga sampai saat ini kebahagiaan itu belum juga datang. Mungkinkah aku kualat sama mama Raya? itu biar kalian yang menilainya.
Aku berjalan menyusuri koridor rumah sakit dimana suamiku dirawat. Mendapat kabar kalau mas Rangga kecelakaan mobil beruntun di jalan raya. Apalagi mas Rangga membawa Oma Gladys. Ya Allah semoga Oma tidak apa-apa. Hanya itu doa yang bisa kuberikan.
Aku mendapati tubuh mas Rangga berbalut perban. Hanya saja wajahnya yang tidak di tutup. Masih terlihat wajahnya yang luka-luka karena terkena kaca mobil. Ya Allah begitu berat cobaan yang kau berikan kepada kami. Belum kering rasanya bagaimana mama Raya memusuhiku. Sekarang kau berikan cobaan yang lebih berat dengan kecelakaan suamiku.
Belum selesai dengan kondisi suamiku, baru saja Lani mengabarkan Oma sudah meninggal dunia. Rasanya bagai petir menyambar tubuhku, aku bahkan belum sempat melihat keadaan Oma. Sekarang dia pergi meninggalkan kami, meninggalkan orang-orang yang menyayanginya.
__ADS_1
Oma meninggal setelah mengalami koma hanya dalam satu jam. Tentu saja ini kabar mengejutkan buat kami semua. Tubuhku rasanya lemas setelah mendengar kabar ini. Sosok wanita yang baik dan welcome ketika aku memasuki keluarga Pattimura.
"Oma, sudah tidak ada, kak." Ujar Lani yang menangis setelah mengabariku.
"innalilahi wa innailaihi rojiun" Aku berujar saat mendengar kabar ini.
"Lani belum sempat minta maaf sama Oma, kak. Selama ini Lani sering sekali melawan sama Oma. Sekarang dia sudah pergi, Oma orangnya baik, kak sama siapapun. Bahkan sama mantan mertua Lani dia masih sering mengirimkan makanan." Aku mencoba menenangkan Lani. Memang selama aku tinggal dengan mereka, aku melihat Lani dan Oma sering terlihat cekcok. Tentu saja karena Oma menegur Lani yang suka kelayapan padahal masih ada anaknya yang butuh kasih sayang dan perhatian.
"Lani itu menikah dengan Toni karena di jodohkan. Bapaknya Toni dulu kerja sebagai sopir keluarga Pattimura. Lama, Lo bapaknya mengabdikan diri di keluarga tersebut. Yang biayai pendidikan Toni dari SD sampai kuliah kedokteran itu ya Oma Gladys.
Papa Donal dan Oma Gladys meminta Toni menikah dengan Lani, karena mereka pusing dengan kelakuan Lani yang suka keluyuran. Ya, meskipun Toni itu banyak mengalah dengan Lani.
Mungkin batas kesabaran habis, makanya dia setuju saat Lani minta cerai. Lucu, ya, yang selingkuh Lani yang minta cerai dia juga.
Kamu tahu sayang, jadi anak korban perceraian itu tidak enak. Kita tumbuh diantara ego kedua orangtua yang merasa benar. Saat mama mengajukan tuntutan cerai pada papa, aku merasa mama egois saat itu. Sampai sekarang aku belum tahu apa yang membuat mama menceraikan papa. Kurang baik apa papa selama ini."
Benar kata orang, kalau ada yang pergi pasti akan ada yang merasa kehilangan lebih dalam. Itu yang aku lihat saat Lani mengabarkan meninggalnya Oma. Tampak gurat penyesalan yang tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata.
Sama dengan perasaanku saat ini, aku kehilangan sosok Oma yang sangat baik. seorang wanita yang menerimaku walaupun aku berasal dari kasta yang berbeda. Walaupun aku bukanlah cucu kandungnya dia tetap memperlakukanku dengan baik, bahkan sangat istimewa. Buatku Oma adalah sosok yang humble, penyayang dan berhati malaikat.
Aku dan Lani berjalan menuju ruangan Oma. Aku melihat tubuh seperti tertidur nyenyak. Dia bahkan seperti sedang tersenyum disana. Namun saat aku mendekati Oma untuk mengucapkan perpisahan.
"Keluar kamu!" Tanganku ditarik lalu sudah berada diluar ruangan.
"Ma,"
PLAAAAAK
__ADS_1
"Gara-gara kamu, Oma meninggal dunia! Kalau saja kamu tidak menyuruh Oma datang ke tempat kumuh kamu! Dia masih hidup sampai sekarang!"
"Ma,"
Rasanya sakit dituduh seperti itu.
"Raya!"
"Mas,"
"apa-apaan ini! kita sedang berduka kamu malah cari ribut!"
"Jadi Oma kecelakaan karena Laras memintanya datang ke rumah. Benar itu,ma."
Tiba-tiba datang dua orang lelaki berseragam coklat. Mereka mengunci kedua tanganku dengan borgol.
"Bawa dia pak! Dia yang membuat anak dan mertua saya celaka."
"Ma, ini maksudnya apa? mama tolong aku, ini bukan salahku!"
Mereka menyeretku keluar dari ruangan Oma. Kami pun berjalan melintasi kamar mas Rangga.
"Mas Rangga! Mas Rangga!" Aku berusaha teriak siapa tahu dia sadar. Tapi percuma, teriakanku tidak akan membangun mas Rangga. Tapi malah membuat aku jadi bahan tontonan.
"Pak, aku nggak salah! mereka kecelakaan di jalan raya, bukan karena aku! Tolong lepaskan saya, suami saya membutuhkan saya disampingnya."
"Nanti di jelaskan di kantor."
__ADS_1
Ya Allah, kenapa aku yang harus disalahkan.