Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Kunjungan ke rumah Ina


__ADS_3

"Pa," Raya mendekati suaminya yang akan berangkat ke kantor.


"Iya, ma." Donal duduk di sudut ranjang ingin tahu apa yang akan dibicarakan istrinya.


"Katanya Rangga sudah bertemu dengan Laras. Mama mau kita merayakan kepulangan Laras dan anaknya." kata Raya.


Donal kaget mendengar ucapan Raya. Apa dia tidak salah mendengar kalau istrinya menanyakan Laras. Donal mendekatkan diri pada istrinya. Memegang dahi Raya, memastikan kalau istrinya sedang baik-baik saja.


"Papa tidak salah dengar, kan? mama mau menerima Laras? Alhamdulillah, akhirnya Allah bukakan pintu hidayah buat istriku." Seru Donal sambil memeluk istrinya.


"Papa kok Semangat amat, mentang-mentang Laras itu anak mantan papa, ya."


"Kok kamu ngomong gitu lagi, sayang. Papa pikir tadi mama sudah membuka hati buat Laras. Papa kecewa sama mama." Donal berdiri menjauhi istrinya.


Raya cepat-cepat mengklarifikasi ucapannya. Wanita itu berusaha membujuk suaminya agar tidak berpikiran buruk.


"Bukan gitu, pa. Aku bukan mempermasalahkan latar belakang Laras. Tapi aku tadi cukup kaget dengan respon papa. Mama minta maaf,pa. Kalau ucapan mama tadi menyinggung perasaan papa.


Mama sudah bisa menerima Laras dan anaknya, pa. Walau bagaimanapun dia istri anakku dan Bagas adalah cucuku. Jadi aku tidak mungkin membuat Rangga sedih lagi." kilah Raya.


"Benar, ma. Mama sudah menerima Laras sebagai menantumu. Alhamdulillah, akhirnya kau buka pintu hidayah untuk istriku."


"Papa ini ngomong apa, sih? aku kan emang baik, pa. Papa lupa kalau mama yang bawa Laras ke rumah ini. Papa lupa mama juga yang mencarikan Rangga calon istri. Ya, masa mama larang laras balik ke sini lagi.


Mama sayang sama Laras seperti anak sendiri. Tapi laras-nya salah paham makanya kita sering bentrok. Mama sudah minta staf kita membuat acara penyambutan Laras dan Bagas. Itu sebagai rasa bersalah mama pada mereka."


Donal terharu mendengar penuturan Raya. Dia senang istrinya sudah membuka hatinya untuk Laras. lelaki berusia 51 tahun bergegas mengambil handphonenya untuk menghubungi beberapa relasi. Dia berniat mengadakan pesta penyambutan Laras dengan mengundang beberapa kolega. Raya pun melakukan hal yang sama dengan mengundang teman-teman sosialitanya.


"Jeng, jangan lupa datang ke acara di rumah ya?" telepon Raya pada teman arisannya.


"Acara apa, jeng?" sahut Bu Rini.


"Acara buat kesembuhan Rangga, jeng. Datang ya? tunggu, Lo."


"Siapa saja yang diundang?" tanya Bu Rini.


"Semua anggota kita di undang, jeng. Mau ajak anak dan cucunya juga boleh. Biar tambah ramai."


"Oh, ya. Dengan senang hati, jeng Raya."

__ADS_1


"Aku memang menerima Laras. Tapi bukan sebagai menantuku. Aku akan buat Laras tidak betah di keluarga kami. Aku akan buat seakan Laras salah dimata Rangga.


Oh ya aku akan mengundang Mila dan kak Resi. Biar mereka tahu seperti apa Istri kesayangan Rangga itu. Apalagi Mila sepertinya suka sama Rangga. Jadi bisa buat peluang kerjasama." Batin Raya dengan penuh kemenangan.


Raya keluar dari kamar rumahnya. Melihat beberapa petugas menghiasi kamar Rangga. Beberapa dari mereka memasang kembali photo pernikahan Rangga dan Laras. Photo yang sempat disimpan Raya di dalam gudang.


"Ini acara apa,ma." tanya Lani.


"Acara kesembuhan Rangga, sekaligus pulangnya Laras ke rumah ini."


"Whaaaat! nggak tahu malu, dia yang pergi dari rumah. Eh, sekarang tidak punya malu pulang kesini lagi"


Lani masuk ke kamarnya dengan perasaan kesal. Dia merasa terancam dengan kedatangan Laras. Wanita itu duduk bersandar di headboard ranjang. Tangannya meraih gawai.


"Oma!" terdengar suara rengekan dari nada suara Lani.


"aduh cucu Oma, kenapa merengek seperti itu."


"Gawat, Oma. Laras mau kembali kesini. Dia pasti mau mengambil harta yang di wariskan Oma Gladys padanya."


"Kamu tenang dulu. Belum tentu dia bisa ambil. Kan sudah dibalik atas nama mama tirimu."


"Aku kenal mama tirimu. Dia bukan orang yang gampang luluh. Dia pasti punya rencana. Percaya sama Oma." Oma Fina mencoba meyakinkan cucunya.


"Semoga, Oma."


klik


Mobil Alphard sudah memasuki sebuah perumahan elit. Tampak jalanan masih sepi dan lenggang. Paling hanya ada satu atau dua motor yang lewat. Rangga berusaha memposisikan mobilnya agar bisa masuk ke halaman rumah kediaman Gunawan. Lama Laras memandang gedung rumah di hadapannya. Begitu banyak kenangan yang di lalui bersama Ina. Sesekali menyeka air matanya. Sesaat lagi akan bertemu sahabat baiknya. Perempuan baik hati meskipun dulu dia sempat cemburu pada Ina karena di sukai Rangga.


Salah satu petugas di depan pintu membukakan pagar rumah. Yusuf menyembulkan kepalanya untuk bicara sama pak satpam "Pak, apakah papa sudah pulang?"


"Belum,den."


Yusuf kembali masuk ke dalam mobil. Rangga pun memajukan mobilnya sampai di depan pintu rumah. Tak berapa lama Yusuf turun diikuti Bagas serta Laras dan Rangga. Mereka berdiri di depan pintu. Menunggu ada yang membukakan pintu rumah.


"Assalamualaikum." sapa Rangga saat pintu terbuka.


"Ya Allah, Rangga. Kamu sudag sehat, nak." Yulia menyambut Rangga.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Tante. Ina-nya ada? ada yang mau ketemu sama dia."


Yulia memandang Laras dengan datar. Dia sudah mendengar cerita tentang Laras versi Raya. Dari situ dia menyimpulkan bahwa Laras istri durhaka. Dan sekarang Laras malah kembali pada Rangga setelah lelaki itu sehat.


"Ada!" jawab Yulia datar.


Laras berjalan di belakang Rangga. Tangan Rangga tidak melepas sedetik pun dari jemari Laras. Yulia yang melihat hal itu menatap sinis.


"Segitu butanya Rangga pada Laras. Sampai dia lupa Laras sudah mencampakkannya. Seorang istri yang meninggalkan suaminya saat kritis."


Laras berdiri di sebuah kamar. Dimana yang dia tahu kalau kamar itu milik keponakan Ina, yaitu mendiang istri pertama Alam. Lelaki yang sekarang menjadi suami Ina.


"Biar aku yang ketok pintunya." ucap Laras yang berharap kedatangannya memberi kejutan pada Ina.


Tok tok tok ...


"Ina!" tampak seorang wanita berdiri di depan pintu.


"La...ras..."


Tanpa basa-basi Laras langsung melabuhkan tubuhnya kearah sahabatnya. Rasa rindu yang membelenggu sudah tak tertahan lagi. Dua wanita yang dulu selalu bersama-sama saat masa sekolah. Kini bisa melepaskan rindunya. Tapi tidak bagi Ina, wanita itu hanya terdiam tanpa ekspresi saat Laras memeluknya. Entah kenapa rasa kecewanya masih bercakar di hatinya.


"Ras,"


Laras melerai pelukannya. Dia baru melihat ekpresi Ina tak bahagia bertemu dengan dirinya. Laras menoleh ke belakang, namun ternyata Rangga sudah tidaj terlihat.


Ting!.


Kalian mengobrol saja dulu. Bukankah ini kesempatan melepas kangen.


Tanpa basa-basi Laras duduk di kamar Ina. Ada kursi yang bertengger di dekat jendela. Dulu kebiasaan Ina suka duduk di dekat jendela.


"Ras,"


"Iya, na."


"Kenapa kamu kembali setelah apa yang kamu lakukan pada kak Rangga dan keluarganya." kata Ina.


"Na, aku ..."

__ADS_1


"Tega kamu, Ras. Meninggalkan kak Rangga dengan kondisi seperti itu. Kenapa kamu lakukan itu pada kakakku. Kenapa!"


__ADS_2