Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Kita akan selalu bahagia


__ADS_3

Kadang mencintai tak selalu tentang kelebihannya saja, mencintai juga harus siap menerima segala kekurangannya, karena cinta sejati adalah cinta yang bertahan dan tetap berjuang meski harapan dan cerita tentang kebahgiaan hampir punah.


Cerita cinta dalam perjalanan hidup kadang menjadi warna. Ada hitam dimana rasa sakit dan rasa sedih bercampur jadi satu. Dimana seorang wanita harus berjuang sendiri dalam menjalani kehidupan. Laras paham kalau hidup tak selalu mulus. Sejak kecil dia sudah ditanamkan oleh ibunya supaya tidak lemah dengan segala cobaan. Namun Laras menyadari sekuat-kuatnya wanita pasti ada sisi lemahnya. Dia pun awalnya tidak mau berharap pada Rangga yang tanpa kabar sama sekali. Namun keteguhannya pun runtuh setelah kembali dipertemukan dengan Rangga. Meskipun rasa sakit dalam hatinya atas perlakuan mertuanya.


"Aku dan kamu adalah dua makhluk berbeda yang memiliki rasa yang sama, meski dunia kita berbeda, cara pandang kita berbeda tapi hal itu bukanlah masalah besar yang membuat hubungan kita menjadi rumit, sebaliknya kita malah menikmati perbedaan itu." ucap Rangga saat pertama kali dirinya diboyong kembali di apartemen suaminya.


Kalau membahas soal cinta tidak akan ada habisnya. Tentu saja akan membahas bahagia, dan juga luka. Aroma cinta terasa manis di telinga. Namun ada juga menyisakan luka. Seperti yang Laras rasakan saat Rangga tidak mempercayai dirinya terkait semua yang dilakukan sang mama mertua.


Saat itu bagi Laras, untuk apa dia kembali pada Rangga kalau tidak ada rasa percaya dalam pernikahan mereka. Benar kata orang cinta semanis coklat pun terkesan builshit! tak ada cinta tanpa airmata. Mungkin ada tanpa seribu banding satu.


"Mas, aku mau ke kantor, boleh?" telepon Laras pada suaminya.


"Boleh dong, sayang. Masa nggak boleh, kenapa kamu kangen ya sama aku? perasaan baru semalam kita bertempur." goda Rangga.


"Dasar,omes." celetuk Laras.


"Aku omes sama istriku sendiri, Lo. Bukan sama cewek lain."


"Sudah, ya, mas. Aku mau siap-siap dulu." Laras menutup teleponnya. Kalau di lanjutkan bisa-bisa pekerjaannya tidak akan selesai.


Laras menatap jendela teras apartemennya. Tampak air dari langit sudah membasahi kota Jakarta. Laras mengambil jaket wol-nya. Udaranya semakin dingin terasa menusuk pori-pori. Membuat dirinya ingin kembali ke balik selimut. Tapi Laras mencoba melawan rasa malasnya.


"Bunda, Bagas nggak usah sekolah." ucap Bagas saat keluar dari kamarnya.


"Loh, kenapa ngga mau sekolah?"


"Hujan, bunda. Teman Bagas kemarin banyak yang nggak masuk katanya rumahnya banyak yang kena banjir."


"Tapi rumah kita kan nggak banjir, nak. Bagas lupa ini sudah masuk bulan terakhir sekolah. Kan nggak lama lagi Bagas masuk SD. Jadi Bagas harus rajin nggak boleh bolos."


Seketika Bagas duduk memajukan bibirnya. Lagian dirinya masuk juga percuma. Soalnya Yusuf juga nggak masuk sekolah karena mamanya masuk rumah sakit. Bagas merasa tidak ada teman. Karena yang mau berteman dengan dirinya itu hanya Yusuf.


"Aku nggak ada teman, bunda. Yusuf nggak masuk dari semalam karena mamanya masuk rumah sakit." jelas Bagas.


"Mama Yusuf masuk rumah sakit?" tanya Laras. Bagas mengiyakan pertanyaan bundanya.


"Kapan?"


"Semalam Yusuf nggak masuk. Di pamitkan sama Tante Rere. Katanya mama Yusuf masuk rumah sakit, bunda."


"Bagas tetap harus sekolah. Nanti pulang sekolah bunda dan ayah jemput sekalian jenguk mamanya Yusuf." Bagas melemaskan badannya.


Tak berapa lama Bagas pun sudah siap. Laras mengambil tas sekaligus bekal untuk suaminya. Walaupun masih kepagian dia berangkat ke kantor.


Laras sudah duduk di mobil grab untuk mengantarkan Bagas ke sekolah taman kanak-kanak Al-zaman. Bagas duduk sebelah bundanya. Hujan terasa semakin dasar. Banyak orang-orang masih berdiri di halte.


"Bunda, katanya adek Sadam mau disunat, ya?" tanya Bagas.


"Kata siapa?" Laras juga baru mengetahui dari Bagas.


"Kata kak Cici. Katanya pake pesta."


"kapan?"

__ADS_1


"Acaranya hari Minggu bunda."


"Yasudah, hari minggu kita kesana."


"Sunat itu apa sih,bunda?"


"Sunat itu ******** lelaki di bersihkan agar tidak jadi penyakit. Kalau sudah sunat nanti artinya Bagas sudah bisa melakukan semua sendiri, harus pintar ngaji, sholat lebih khusyuk, dan nanti kalau sudah di sunat Bagas bisa sholat di depan sama ayah."


"Iyakah, Bunda. Apa Bagas bisa jadi imam sholat kalau sudah disunat."


"Bisa."


"Bagas, mau bunda."


"Nanti bilang sama ayah dulu, ya."


Akhirnya Laras dan Bagas sampai di sekolah Bagas. Bagas tampak menyapa semua temannya. Sejumlah orang tua mengantarkan anaknya masuk sekolah di Taman Kanak-kanak. Disana anak-anak ini terlihat sangat menggemaskan.


"Pagi Bu Laras," seorang wanita berhijab menyapa dirinya.


"Pagi, ustadzah Astari." jawab Laras.


"Bisa kita bicara sebentar?"


"Bisa, ada apa, ya? apa Bagas nakal selama di sekolah."


"Tidak, Bu. Tapi ini menyangkut kelangsungan sekolah ini."


"Bentar, ustadzah saya bicara sama Bagas dulu." Laras mendekati Bagas yang masih menunggu dirinya.


"Iya, bunda. Bagas masuk dulu,ya." Bagas menyalami Laras dan ustadzah Astari.


Laras dan ustadzah Astari pun sudah berada di ruang wakil kepala sekolah. Karena saat ini kepala sekolah sedang izin keluar kota. Maka ustadzah Astari lah. yang turun tangan soal kegiatan sekolah.


"Iya, ustadzah. Ada yang bisa saya bantu." tanya Laras.


"Begini, Bu. Dulu pak Rangga pernah menjadi donatur sekolah ini. Semua kegiatan sekolah termasuk laporan kegiatan sekolah pak Rangga selalu turun tangan. Tapi sudah hampir satu bulan ini pak Rangga tidak pernah menanyakan soal kegiatan sekolah ini. Saya pikir kalau pak tidak mau jadi donatur kami lagi, saya akan minta donatur lain. Bukan apa-apa, Bu. Kami cuma butuh kepastian."


"Sebentar ustadzah, bukannya bagus ya kalau banyak donatur yang membantu sekolah? Jangan mengandalkan satu donatur saja."


"Sejauh ini cuma pak Rangga yang menjadi donatur tetap sekolah ini."


"Maaf, Ustadzah, saya akan bicarakan ini sama suami saya."


"Terimakasih, Bu Laras. Maaf kalau sudah mengganggu waktu anda."


"Oh, tidak apa-apa. Saya pamit ustadzah Astari." Laras dan ustadzah Astari pun bersalaman lalu meninggalkan ruang wakil kepala sekolah.


Laras mencoba menghubungi suaminya minta dijemput ke sekolah Bagas. Rangga pun menginstruksikan pada Adit untuk menjemput istrinya.


"Kenapa nggak kamu saja yang jemput, mas?"


"Aku ada rapat, sayang. Papa Donal nggak masuk jadi aku sama Lani yang menyiapkan pertemuan dengan klien."

__ADS_1


"Yasudah, mas. Aku nunggu di ruangan kamu, ya." Laras menutup teleponnya.


*


*


*


*


Laras tiba di kantor Rangga. Setelah mengecek melalui resepsionis, Laras pun melenggang sendiri menuju ruang kerja suaminya. Beberapa saat netra nya berpusat pada salah satu OB yang di marahi Maya.


"Kamu bisa kerja nggak sih!" omel Maya melengking tinggi.


"Maaf, Bu. Tapi memang saya tadi sudah bersihkan." jawab OB itu takut-takut.


"Kerja kamu nggak becus. Itu masih kotor. Tadi ada yang mengeluh lantainya licin."


"Siapa yang mengeluh Bu Maya." Laras buka suara.


"Bu..Bu...Laras?" Maya kaget melihat menantu atasan datang pada dirinya.


"Iya, saya. Tadi saya mendengar ucapan katanya ada yang mengadu lantainya licin. Apa benar begitu? Bu Maya tidak lupa kan, apa yang Bu Maya lakukan saat saya jadi OB disini dulu." Laras pun mengalihkan pandangannya ke arah OB tadi.


"Nama kamu siapa?" tanya Laras.


"Kedasih, Bu." jawab Kedasih sambil menunduk.


"Oh,ya Kedasih, nama saya Larasati. Saya dulu juga OB disini. Sekarang saya mau tanya dimana tempat yang katanya licin tadi."


"Di WC, Bu. Katanya ada karyawan yang hampir terpeleset tadi."


"Di mana ruang cctv." tanya Laras.


Laras dan Kedasih pun masuk ke ruang cctv. Ini untuk membuktikan apa benar aduan karyawan tersebut. Kalau benar Laras bisa menegur Kedasih agar kerja lebih baik lagi. Bukan membentaknya seperti yang dilakukan Maya tadi. Sebagai senior harusnya mengarahkan anak buahnya agar bekerja lebih baik lagi.


Ternyata dari cctv tidak ada terjadi apapun. Maya pun menanyakan apa ada karyawan yang melabraknya. Kedasih bilang dia juga tahu dari Maya. Laras pun meminta Kedasih kembali bekerja. Dia pun berjalan melenggang ke ruang kerja suaminya.


Kini Laras sudah berada di ruang kerja Rangga. Setelah yang terjadi barusan membuatnya berpikir kalau Maya ternyata belum berubah. Mengingat dulu dia pernah di perlakukan lebih parah oleh Maya. Seketika Laras merasa kupu-kupu berputar di atas kepalanya. Laras merebahkan tubuhnya di sofa ruang kerja suaminya.


Beberapa saat Rangga sudah menyelesaikan rapatnya. Salah satu staf kantor menyampaikan kalau tadi melihat Laras masuk ruangan Rangga. Setelah berterimakasih pada staf tersebut Rangga langsung menuju ruang kerjanya.


Rangga menemukan Laras yang masih tertidur di sofa. Senyumnya mengembang setelah mendaratkan tubuhnya disamping istrinya. Tangan Rangga membelai pucuk hijab Laras. Rangga mengira Laras akan datang ke kantor pas menjelang makan siang. Tapi ternyata lebih cepat.


"Sudah selesai rapatnya?" suara Laras mengagetkan lamunannya.


"Sudah sayang. Kamu kalau mau istirahat nggak apa-apa."


"Aku mau istirahat tapi nyender disini, boleh?" Laras menunjuk dada suaminya.


"Jangan nyender di sini. Di sini juga nggak masalah." Rangga menunjuk pahanya.


Tak berapa lama kepala Laras sudah berlabuh diatas paha suaminya.

__ADS_1


"Bangunkan aku jam jemput sekolah Bagas ya, mas. Kepalaku sedikit pusing. Entah kenapa aku dari tadi ingin sekali tidur seperti ini."


__ADS_2