Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Maafkan aku


__ADS_3

Laras dan Rangga duduk di depan ruang ICU. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Rangga menyandarkan kepalanya di dashboard meja panjang. Matanya terpejam sejenak menghempas rasa sesak di dada. Netranya beralih ke wanita di sampingnya. Kepalanya menunduk seperti ada sesal teramat berat. Terdengar isakan kecil dari bibir kecilnya. Rangga kembali menyandarkan kepalanya ke dashboard kursi. Menghirup udara sejenak.


"Kamu ingat, Ras. Dulu saat kita belum menikah, aku melihat ada sisi keibuan dalam dirimu. Bagaimana kamu beradaptasi dengan si kembar dan adiknya yang baru lahir. Bagaimana oma selalu meyakinkan aku, kalau dia tidak akan salah pilih." Rangga menjeda ucapannya sambil memandang ke arah Laras.


"Laras yang aku kenal bukan sosok yang keras kepala. Bukankah dulu saat ada apa-apa dengan Ina kamu selalu sigap. Bukankah dulu saat Angel menyerang Ina, kamu selalu terdepan. Tapi kenapa pada anakmu sendiri kamu menjadi yang terbelakang. Kenapa kamu melibatkan Bagas dalam keegoisanmu."


"Seharusnya kamu juga memikirkan hal ini, Mas. Kenapa aku yang harus disalahkan? pernahkah kamu pernah mendengar perasaanku, Mas., enggak kan? dimatamu aku selalu salah. Dimatamu aku selalu yang buruk. Dimatamu mamamu yang selalu benar."


"Ras, aku bukan tidak memihakmu. Kapan aku tidak pernah mendengarkan perasaanmu? waktu mama maksa kamu hamil cepat, adakah aku menentang keinginanmu? waktu kamu kabur dari rumah saat di Jepang dulu adakah aku menyalahkanmu? Tidak, Ras.


Aku bahkan selalu mendukung apapun keinginan kamu,Ras. Itu semua aku lakukan karena aku mencintaimu. Dan sekarang kamu bilang aku tidak mengerti perasaanmu. Mau kamu apa?"


Rangga merasa selama ini sudah menjadi suami yang baik buat Laras. Tak pernah sekalipun dia bersikap kasar pada istrinya. Rangga merasa hatinya sakit melihat kesedihan Laras. Tapi kenapa Laras masih menuduhnya tidak pengertian. Apa karena soal mamanya. Ah, andai Rangga bisa berterus terang kepada Laras soal rencananya. Tapi hal itu dia tahan. Dia ingin memberi pelajaran untuk mamanya. Kedengarannya jahat, tapi setelah dia tahu banyak kejahatan mamanya. Rangga kembali dilanda kalut.


"Jika aku belum memenuhi syarat suami idaman kamu. Aku minta maaf, aku sudah berusaha menjadi suami yang baik buat kamu. Walaupun tetap saja belum baik dimatamu."


Terdengar suara pintu ICU terbuka. Laras dan Rangga berdiri. Tentu saja mereka ingin tahu keadaan Bagas. Tampak dokter keluar dengan wajah tenang.


"Dok, bagaimana dengan anak kami?" tanya Rangga.


"Alhamdulillah, kondisinya sudah stabil. Putra anda hanya demam biasa. Tadi kami sudah mengerahkan pengobatan yang terbaik. Hari ini dia sudah bisa dibawa pulang." jelas dokter.


"Alhamdulillah," sahut mereka secara bersamaan.


"Mas, Alhamdulillah Bagas nggak apa-apa." sahut Laras tampak riang. Rangga hanya tersenyum kecil. Dia pun berjalan menjauhi Laras.


Laras mengeluarkan satu botol minuman mineral. Dia menyodorkan satu botol pada suaminya.


"Mas, minum dulu. Aku lihat kamu kelihatan capek. Minum dulu, mas biar segar sedikit."


Rangga mengambil botol minuman mineral lalu membukanya. Mereka saling berhadapan di dinding dekat ICU. Sambil menantu Bagas di keluarga dari ICU. Rangga memandang Laras sambil menenggak minuman tersebut.


"Aku tahu kamu masih marah sama aku, Mas. Aku sadar selama ini terlalu kekanak-kanakan. Terlalu terbawa emosi, apalagi menyangkut masa lalu aku dan Bagas. Maafkan aku, Mas." suara Laras tersebut terisak.


Laras hanya terus menunduk. Dia paham kekecewaan Rangga pastilah sangat dalam. Tangannya terus melipat-lipat, tanpa disadari Rangga sudah ada di hadapannya.


"Ras, aku mohon untuk yang terakhir kalinya. Jangan seperti ini, kalau ada masalah dibicarakan dengan kepala dingin. Bukan dengan kabur-kaburan. Sekarang kamu lihat kan, akibatnya.


Aku ini suami kamu, Ras. Jika istriku berbuat dan aku tidak bisa mendidiknya. Maka aku akan terkena azab yang perih."


Laras menaikan dagunya Tatapannya lurus kedepan, menatap sosok yang ada di hadapannya. Jarak mereka begitu dekat, Laras merasakan deru nafas milik Rangga. Sekali lagi dia merasakan degupan jantung kencang saat berada di dekatnya.


Flashback on


Delapan tahun yang lalu


"Laras!"

__ADS_1


Gadis itu menoleh dan tersenyum mendekati si pemilik suara.


"Kak Rangga? kapan pulang dari jepang?"


"Tadi pagi. Kamu lihat Ina nggak?" Tanya Rangga mulai mengorek informasi.


Laras menggeleng "Kenapa kakak nggak kerumah saja langsung?"


"Ina kabur dari rumah, Ras. Dia memergoki tante Kania pacaran dengan Dodo."


"Apa, kak! Ina kabur dari rumah?" Laras kaget mendengar berita dari Rangga.


"Kakak tunggu sini, ya. Aku titip absen dulu. Kita cari Ina sama sama." Laras pamit terburu masuk ke kampus.


Mereka memasuki mobil bersama. Laras begitu kesulitan saat memasangkan belt mobil. Rangga dengan sigap memasangkan sabuk pengaman mobil. Rangga melewati tubuh Laras membuat wanita itu berdegup kencang.


Sejak saat SMP, sejak aku mengenal Ina, aku sudah mencintainya. Tapi aku tahu hatinya hanya untuk Ina seorang.


Ya Tuhan jika kak Rangga bukan untukku. Berikanlah satu yang menyerupai dirinya.


Flashback off


Beberapa saat Rangga dan Laras membawa Bagas pulang ke apartemen. Laras kaget barang-barangnya sudah ada di apartemen Rangga. Dia teringat kata ibu kontrakannya kalau Rangga sudah pamit. Padahal dirinya saja belum pamit pada tetangganya.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau sudah memindahkan barangku disini?" tanya Laras membereskan beberapa barang yang masih bertumpuk.


"Idih, kamu kayak gitu, kayak cewek, Mas. Nggak lucu." Laras pun ikut ngambek.


"Kok, kamu begitu?" Rangga kaget Laras ikut ngambek.


"Aku kan istrimu. Istri adalah cerminan suami."


"Pinter ya ngelesnya." Rangga mencubit pipi istrinya.


"Mas, mau ngapain?" Laras gugup saat Rangga mengunci kamarnya.


"Mau memperbaiki semuanya. Mau menjadi suami idaman buat kamu. Tapi aku bukan Yusuf yang tampannya membuat zulaika jatuh cinta. Tapi aku adalah Rangga Baratayudha, yang jatuh cinta pada Larasati."


"Mas, ini masih sore, Lo. jangan aneh-aneh."


"Hmmm .. berarti aku harus kasih hukuman ke kamu, Ras."


"Hukuman? salahku apa?" Laras makin bingung.


"Hukuman karena membuat suaminya kesepian." jawab Rangga dengan mantap.


"Mas kesepian? padahal di rumah dan kantor rame lo."

__ADS_1


Guyuran hujan jatuh membasahi bumi. Termasuk membasahi apartemen tempat tinggal mereka. Udara dingin yang sangat terasa, membuat sensasi tersendiri bagi keduanya. Sepersekian detik mereka saling bertatapan netra. Sesekali tersenyum malu-malu, tangan Rangga mulai menyentuh pucuk hijab Laras. Bahkan bayang-bayang kenangan manis mereka yang mengiringi perjalanan cinta, membuat mereka kembali melepaskan senyuman.


Melupakan semua yang pernah mereka alami akhir-akhir ini. Melupakan semua kegundahan yang pernah mereka rasanya. Dengan niat membuka lembaran baru.


"Ras," Rangga memberikan perlakuan terbaiknya.


"Iya, mas." Laras merasakan sensasi halalnya diatas pangkuan suaminya.


Rangga membuka hijab yang dikenakan Laras. Lalu membaringkan istrinya diatas ranjang.


"Kita mulai semuanya dari awal lagi, ya sayang. Kita akan berjuang sama-sama demi masa depan Bagas. Dan ..." Rangga menjeda ucapannya.


"Dan apa, mas?"


Rangga mendekati telinga Laras "kita Bagas teman." Laras belum paham arah omongan Rangga "Teman?"


Kilatan petir di langit, layaknya ujian cinta yang mereka hadapi saat ini. Bisa jadi mereka juga akan menemuinya di masa yang akan datang. Dengan saling mencintai dan menerima. Baik Rangga dan Laras yakin bahwa cinta mereka tidak akan tumbang meskipun di hantam badai sekalipun.


"Ras, kita kasih adik buat Bagas." Rangga mulai melakukan aksinya.


Tok tok tok


Rangga mengomel dalam hatinya. Baru saja memulai ada saja pengganggunya. Laras meminta suaminya membuka pintu. Sementara dia membenarkan pakaiannya.


"Ada apa?" ucap Rangga memasang wajah ketusnya.


Mbak Ajeng menatap majikannya yang hanya memakai celana training dan tubuh polosnya Rangga. Seketika dia menelan salivanya melihat pemandangan gratis.


"Ajeng," suara Rangga yang sedikit lantang mengagetkan dirinya.


"Eh iya, pak. Maaf den Bagas nyari nyonya. Dia nggak mau makan kalau nggak disuapin nyonya." lapor Ajeng.


"Nanti saya kesana, mbak." jawab Laras.


Sepeninggalan Ajeng, Rangga meminta Laras menunda ke kamar Bagas.


"Sayang, nanti saja ke kamar Bagas. Aku masih kangen sama kamu." Rengek Rangga.


"Kamu sayang nggak sih sama Bagas?" tanya Laras.


"Sayang, dong. Masa enggak dia anakku buah cinta kita."


"Yasudah, kalau kamu sayang kita temani Bagas di kamar. Kasihan dia baru pulang dari rumah sakit. Lagian kita bisa kasih Bagas adek bisa kapan saja, kan? Asal...."


"Apa sayang?"


"Nggak apa-apa, mas. Kamu pakai baju, malu sama Bagas." Laras meninggalkan kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2