Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Camp rumah pohon


__ADS_3

Beberapa kali Rangga mengabaikan telepon dari mamanya. Bukan tak penting, tapi saat ini Laras lebih penting dari itu. Ada rasa kecewa yang kembali melanda dihatinya. Kekecewaan seorang anak pada ibunya.


"Mama lihat apa yang sudah anda lakukan pada ibu dari anakku. Kenapa mama tega sekali sama Laras?" batin Rangga.


Ucapan dari Endang tadi sangat menusuk perasaannya. Endang seakan memberi tahukan kalau Rangga sekongkol dengan mamanya. Padahal tidak demikian. Dia pun baru tahu kalau mama.nya dalang dari semua yang terjadi.


"Pak Rangga saya mau menemui Bu Laras. Saya mau minta maaf soal pemblokiran tanda tanya nasabah. Maafkan saya, pak. Saya di tekan Bu Raya soalnya dia mengancam tentang orang tua saya. Saya takut pak." Anisa mendatangi rumah pohon setelah Endang turun.


Rangga masih tidak bergeming. Yang di khawatirkan bukan soal kejujuran Anisa. Tapi kondisi Laras yang teramat syok dengan pengakuan Endang.


"Untuk saat ini kamu kembali ke camp dulu. Saya tidak mau istri saya semakin drop dengan pengakuan kamu. Saya minta kamu pergi dulu." usir Rangga.


Anisa menurutnya saja. Dia berjalan turun meninggalkan rumah pohon. Melihat Rangga sangat khawatir pada istrinya. Membuatnya jadi teringat calon suaminya nan jauh disana. Ada rasa bersalah karena tidak mengabari keluarganya.


"Mas Hazar, aku rindu sama kamu." lirih Anisa.


Wanita berusia 29 tahun tersebut turun dengan pelan. Saat konsentrasi hampir kacau Anisa terpeleset dari anak tangga terakhir. Beruntung Adit langsung sigap menolongnya.


"Terimakasih, mas Adit." jawabnya pelan.


"Sama-sama mbak Nisa. Hati-hati, jangan melamun saat turun tangga."


"Saya nggak melamun mas Adit. Saya hanya ingat sama keluarga di Jogja. Saya tidak bisa mengabari mereka. Handphone saya kan kan disita."


"Owh, maaf mbak. Saya tidak bisa memberikan handphonenya. Kecuali atas perintah pak Rangga." jawab Adit.


"Tapi boleh saya pinjam ponsel mas Adit? saya takut mereka khawatir. Sebab saya hanya bilang sama mereka kalau saya lagi di Jakarta." tambah Anisa.


"Maaf, saya boleh bertanya sama mbak Nisa. Kenapa anda bisa di tahan sama pak Rangga. Apa kesalahan anda saat itu?

__ADS_1


Mungkin selama ini anda bingung soal rencana pak Rangga membawa kalian kemari. Sebenarnya pak Rangga mau cari keadilan soal istrinya yang difitnah.


Dari yang menjual rumahnya dengan rentenir sampai ada yang memblokir akses ATM atau rekening Bu Laras."


Anisa yang tadi menundukkan kepalanya menoleh sesaat. Ada rasa bersalah karena dia lah yang sudah memalsukan tanda tangan Laras. Anehnya saat itu apa yang dia lakukan tidak ada hambatan. Seakan orang sekitar pun mendukung perbuatannya. Nisa pun akhirnya menyadari dia sedang terjebak dalam permainan orang bank.


"Saya pernah dengar begini mbak.


Pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) disebutkan : “Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang, diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama empat tahun.


Barangsiapa membuat surat palsu atau memalsukan surat, yang dapat menerbitkan sesuatu hak, sesuatu perjanjian (kewajiban) atau sesuatu pembebasan utang, atau yang boleh dipergunakan sebagai keterangan bagi sesuatu perbuatan, dengan maksud akan menggunakan atau menyuruh orang lain menggunakan surat-surat itu seolah-olah surat itu asli dan tidak dipalsukan, maka kalau mempergunakannya dapat mendatangkan sesuatu kerugian dihukum karena pemalsuan surat, dengan hukuman penjara selama-lamanya enam tahun.”


Jadi kalau dilihat isi dari pasal tersebut, Apa yang dilakukan oleh orang bank juga yang dilakukan oleh Bu Endang dan Ratna adalah tindak penipuan. Dimana mereka juga mengaku sebagai kerabat Bu Laras. Padahal mereka bukanlah kerabat Bu Laras. Mereka juga mencuri sertifikat rumah Bu Laras. Padahal itu adalah tanah milik orangtua Bu Laras.


Kedua, pemalsuan tanda tangan untuk memblokir rekening milik Bu Laras. Dimana semua akses Bu Laras di bank malah di blokir oleh keluarga pak Rangga. Itu tanpa persetujuan Bu Laras."


Nisa kaget saat Adit begitu lancar membacakan undang-undang atas kasus yang dirinya lakukan. Meskipun dia kerja di bank, dia tak begitu hapal tentang undang-undang tersebut. Ada rasa takjub mendengar bait demi bait yang keluar dari mulut lelaki.


"Maaf, mbak saya ini sarjana hukum. Ya meskipun saya bukan berasal dari universitas ternama. Tapi Alhamdulillah bisa selesai pada waktunya. Kebetulan saya mengambil hukum perdata. Dengan konsentrasi hukum niaga."


Mereka langsung berjalan menuju camp. Tampak Endang dan Ratna berdiri menunggu dirinya. Tatapan kedua seakan ingin menginterogasi Anisa. Anisa memilih mengelak dari mereka. Dia malah berada di dekat kedua wanita itu.


"Nisa," sahut Ratna.


"Iya, mbak." Anisa menoleh kearah pemilik suara.


"Bagaimana tadi, apa kamu sudah bicara sama Laras?"


Nisa pun berjalan mendekati Ratna. Sesaat dia menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Payah kamu Nisa! kalau kamu bungkam kita makin lama berada disini." omel Ratna.


"Bu Laras masih syok karena perbuatan ibumu. Kalau saja ibumu minta maaf dengan tulus. Semua tidak akan begini." jawab Anisa.


"Alah, Laras saja yang manja. Dikit-dikit mewek. Dari sejak aku tinggal dengan dia. Aku sudah menebak kalau dia itu jual air mata." jawab Ratna sinis.


Adit yang melihat Anisa seperti di pojokan oleh Ratna dan Endang langsung mencoba melerai. Langkahnya terhenti saat ponselnya berdering. Adit pun menghela nafas berat.


"Iya, Reno." sapa Adit dengan penerima telepon yang juga salah satu pengawal.


"Begini mas Adit. Pak Rangga nyari mas Adit, katanya bapak suruh bawa mereka ke kantor polisi. Soalnya pak Rangga dapat info kalau keluarga mereka melaporkan hilangnya Anisa dan Ratna."


"Yang benar, Reno!" Adit setengah kaget.


"Ya infonya begitu."


Selesai menutup teleponnya. Adit meninggalkan camp tempat Anisa berada. Sungguh dia merasa Anisa bukan wanita yang buruk seperti yang dituduhkan. Dia langsung mempercepat langkahnya menuju rumah pohon yang berjarah 15 meter dari camp.


Kenapa aku begitu khawatir sama mbak Nisa? semoga saja Tuhan melindungi mbak Nisa dari kedua wanita itu.


Adit menghentikan langkahnya di depan rumah pohon. Tampak Rangga berdiri di depan Rangga seakan memang menunggu dirinya.


"Jadi bagaimana, pak?" tanya Adit.


"Kita akan jelaskan pada keluarga dan pihak kepolisian tentang apa yang dilakukan ketiganya pada istriku."


"Maaf, pak. Ini semata-mata pendapat saya. Dari semua yang saya korek, semua dalang masalah ini hanya satu orang, pak. Yaitu Bu Raya.


Nisa, Endang dan Ratna melakukan sesuai instruksi Bu Raya. Sertifikat rumah Bu Laras sekarang ada pada Bu Raya." jelas Adit.

__ADS_1


"Ya Allah, aku harus bagaimana? masa aku mengadili mamaku sendiri." Rangga melorotkan tubuh nya di bawah tangga.


"Maaf, pak. Semua kembali ke Bu Laras. Dia yang menentukan apakah mereka harus dapat hukuman atau tidak." jelas Adit.


__ADS_2