Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Di rumah sakit


__ADS_3

Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Mencari informasi tentang kecelakaan menimpa mas Rangga. Dari resepsionis aku baru tahu kalau kecelakaan mas Rangga viral. Bersama Adul dan Eva mereka menemaniku ke rumah sakit.


Tadinya hanya Adul yang ingin mengantarkanku ke rumah sakit. Namun aku menolak, takutnya mama Raya akan berpikir yang tidak-tidak tentangku. Iya memang selama kita tidak merasa berbuat, tidak perlu takut. Tapi aku takut akan membuat mama mertuaku kembali murka. Apalagi kalau datang ke rumah sakit bersama lelaki lain. Aku harus menjaga perasaan mereka.


Ku langkahkan kaki menuju ruang rawat suamiku. Memandang tubuhnya yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit. Alat-alat medis menutupi sebagian tubuhnya. Rasanya tubuhku ikut remuk bersamanya, rasanya ini tidak adil harus menimpanya. Dia orang baik kenapa Tuhan memberi kami ujian seberat ini. Aku merasa separuh nyawaku telah hilang bersama mas Rangga.


Rasanya waktu enggan berputar, setiap detik rasanya tidak akan aku lewatkan bersamanya. Aku cuma bisa menatap pilu melihat kondisi mas Rangga.


Kulihat dokter sedang memeriksakan suamiku, mengecek alat yang tertempel di tubuhnya. Aku merasakan ngilu saat ada tusuk jarum menelusup ke pergelangan tangan mas Rangga.


Separah inikah!


Laras duduk disamping suaminya yang masih terbaring di ranjang rumah sakit. Tangisnya pecah saat melihat tubuh Rangga terbalut beberapa alat medis. Termasuk leher dan kakinya yang di perban.


"Mas, aku mohon bangun! tidak kamu ingin melepas rindu padaku. Bukankah kamu selalu bilang setiap saat merindukanku. Please bangun, mas. Jangan tinggalkan aku, hiks..hiks .." Laras membenamkan wajahnya di dada suaminya.


"Ini semua gara-gara kamu, Laras." suara raya terdengar sudah berada di belakang Laras. "Kalau saja Oma dan Rangga tidak berangkat ke rumahmu. Mungkin mereka masih sehat saat ini. Kenapa, Ras! kenapa begitu banyak masalah yang terjadi sejak kamu masuk di keluarga kami? Kenapa!"


"Mama!" Pekik seseorang dari luar. Tampak guratan amarah terpancar di wajah sosok itu.


Langkah kaki mendekati tubuh wanita paruh baya tersebut.


PLAAAAAAK!


Sebuah tamparan keras melayang di wajah cantik Raya. Tamparan yang menandakan kesabarannya pada sikap Raya sudah habis. Raya mengelus pipinya, merasakan perih pada wajahnya.

__ADS_1


"Mas!"


Raya tercekat saat suaminya melayangkan tamparan keras ke wajahnya. Lebih pilu lagi suaminya membela anak dari mantan pacarnya. Entah kenapa kalau melihat Laras dia teringat kalau menantunya adalah anak cinta pertama suaminya. Rasa benci pun makin membelenggunya ketika semua yang di rumah sangat sayang pada Laras.


"Kamu keterlaluan, Raya. Sempat-sempatnya kamu menyalahkan Laras. Ini semua sudah garis takdir dari Allah."


"Mas, tahu kenapa aku menyalahkan Laras? Rangga dan mama kecelakaan karena mau menemui Laras. Kalau saja mereka tidak bertujuan ke tempat Laras, semua akan baik-baik saja." Raya masih tidak mau kalah.


"Tapi biarkan Laras menemani suaminya. Karena itu sudah tugas istri berada disamping suaminya. Dan kamu Raya, lebih baik kamu fokus ke mama, bukan ngurusin Rangga. Ayo ikut aku!"


"Lepasin, Mas! Aku tetap akan menemani Rangga dia anakku, darah dagingku. Jadi aku masih berhak atas Rangga. Kamu kalau mau sama mama Gladys silahkan. toh itu ibumu bukan ibuku."


Donal menggelengkan kepalanya mendengar ucapan istrinya. Tak berapa lama dia meninggalkan ruang rawat Rangga. Kini hanya Laras dan Raya yang berada di ruangan yang sama. Raya menyimpan energinya untuk memarahi Laras. Dia lebih berfokus keadaan anaknya tanpa memperdulikan kehadiran Laras.


"Maaf, Ma. Dokter bilang apa tentang keadaan mas Rangga?" Tanya Laras memulai percakapan.


"Ma, Laras bolehkah menengok, Oma?" lagi-lagi Laras masih mencoba berkomunikasi pada mama mertuanya.


"Terserah! Mau kamu ngapain itu bukan urusanku!" Raya masih bersikap ketus.


Laras mengecek jam di handphonenya. Ternyata sudah jam enam sore, dia yakin sebentar lagi bakal azab Maghrib. Langkah kakinya berjalan menuju kamar mandi dalam ruang rawat.


Laras membasuh wajahnya, tangannya bergantian, usap ujung kepalanya, terakhir membasuh kakinya. Wanita itu keluar dari kamar mandi, sesaat dia teringat tidak membawa mukena.


"Maaf, ma. Laras bisa minta tolong nggak? mama ada bawa mukena tidak? ini sudah magrib, Laras mau sholat."

__ADS_1


"Mushola kalau tidak salah di dekat ruang bayi. Kamu lurus saja, nanti ada kelokan kanan. Ada tulisan Mushola disana."


"Terimakasih, ma."


Laras senang mama mertuanya mau menunjukkan jalan ke Mushola. Laras mencium tangan mama Raya dan pamit ke mushola.


Sesampainya di mushola Laras mengambil mukena yang terletak di nakas. Lalu beberapa saat kemudian tubuhnya sudah berbalut dengan kain berwarna putih. Tadinya hanya ada beberapa orang yang memasuki mushola, namun saat salah seorang menjadi imam membuka shalat, terdengar beberapa orang mulai memenuhi mushola.


Laras mulai mengikuti alunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dilantunkan imam. Dia mulai fokus dengan ibadahnya. Dalam shalatnya dia sempatkan menyebut nama suaminya dan Oma Gladys untuk kesembuhan mereka.


Hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari Jabir bin Abdillah, dia berkata bahwa Nabi SAW bersabda: “Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya maka dia akan sembuh dengan seizin Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” (HR Muslim).


Melalui doa, seorang istri bisa menyampaikan keinginan kepada Sang Maha Pencipta dengan harapan apa yang dipanjatkan akan segera terkabul. Sebagai istri yang shalihah, sudah sepatutnya untuk selalu mendoakan suami apapup kondisinya, terutama sering memanjatkan doa untuk suami yang sedang sakit.


Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang di bumi supaya dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang mereka perbuat. Dan memberi balasan kepada kepada orang yang telah berbuat dengan pahala yang lebih baik (QS. An Najm:53:31)


Laras duduk mengambil tasbih. Mengumandangkan takbir untuk maha pengasih dan pemberi. Berdoa untuk kesembuhan suami dan Oma mertuanya.


Allāhumma rabban nāsi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syāfi. Lā syāfiya illā anta syifā’an lā yughādiru saqaman,”.


Artinya: “Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H, halaman 113).


Laras selesai melipat mukenanya. Dengan cepat meninggalkan area mushola ke tempat suaminya. Namun, di jalan dia bertemu dengan Lani yang sudah sembab.


"Kak Laras, Oma ...." Lani menangis memeluk Laras.

__ADS_1


"Oma sudah tidak ada."


__ADS_2