
Sang mentari menyapa bumi dengan kehangatan sinarnya. Kicau-kicauan burung tak mau kalah menyambut datangnya hari baru. Terdengar suara mesin motor yang berlomba memecah keheningan subuh. Semua makhluk menatap indah hari yang penuh makna.
Kicauan burung membelah kesunyian pagi disertai dengan cahaya kuning keemasan yang membuat kita terbangun dari mimpi. Sejuk angin pagi pun seolah menambah semangat kita memulai hari, rasanya begitu segar dan nyaman. Tak mau kalah embun-embun kecil pun, mencoba menarik perhatian kita dengan memancarkan kilauannya yang indah.
Udara pagi yang masih menembus kalbu, membuat kedua mata enggan tuk memulai pembicaraan. Terlebih ketika mentari yang masih malu-malu, untuk memunculkan sinarnya dan embun-embun yang terlihat sedang menari-nari di atas daun segar. Namun langkah-langkah kaki yang bersemangat mulai memecahkan kesunyian,dan berbagai aktivitas mulai berdatangan di pagi yang menyenangkan.
Pelan-pelan Laras membuka matanya. Masih samar-samar pandangannya melihat di sekelilingnya. Lama kelamaan terlihat jelas jika dirinya ada di sebuah ruangan. Laras mencoba mengingat tempat apa yang menaunginya saat ini. Tangannya bertumpu pada kepalanya, masih terasa berat. Namun netranya berubah membulat saat ada sosok tampan di depan mata. Wajah itu masih terlelap indah. Sontak Laras membelai bekas luka di pinggir pipi kiri lelaki itu. Pelan-pelan tangannya menyusuri setiap lekuk wajah lelaki itu. Tanpa sadarinya sebuah tangan membalung pinggangnya semakin kencang.
"Mas,"
"Hmm..." Rangga menjawab tapi memejamkan matanya.
"Kamu sudah bangun?" ucap Laras lirih.
"Sayang," Rangga semakin mendekatkan wajahnya pada Laras. Tentu saja membuat wanita itu semakin salah tingkah.
"Eh... anu... mas ... itu." Laras mencoba melepaskan diri dari Rangga. Namun bukan Rangga namanya kalau tidak menyerah. Dengan cepat Rangga menarik dagu Laras menikmati indahnya bibir istrinya. Memori pun kembali berputar bagaimana mereka menjalani indahnya pernikahan dahulu. Lentik mata Laras masih menyiratkan keheranan.
"Ya Allah, kenapa aku bisa disini?" Laras langsung bangkit dari ranjang kamarnya.
"Sayang," Rangga mencoba menahan Laras.
"Mas, Bagas mana?" tanya Laras teringat putra semata wayangnya.
"Sayang, kamu tenang saja. Bagas ada di kamar barunya. Sekarang aku ingin melepaskan rindu sama kamu."
"Tapi, mas. Bagas pasti mencari aku." Laras keluar kamar mencari di mana putra semata wayangnya.
"Sayang," Rangga mengikuti kemana sang istri berjalan.
__ADS_1
"Apa ini kamar Bagas? atau ini? Bagas, kamu dimana, nak?" Laras terus berjalan mengikuti lorong kamar. Rangga hanya terdiam melihat sikap Laras yang mengacuhkannya.
"Bunda," tampak sosok kecil berdiri gagah dengan baju sekolahnya.
Laras langsung berhambur ke tubuh kecil putra semata wayangnya. Seakan rindu yang membelenggu dirinya, tangannya tak pernah melepas dari rambut tipis putranya.
"Bagas kemana saja, nak. Bunda rindu sekali sama Bagas. Kamu jangan jauh-jauh dari bunda." Laras melerai tubuhnya, matanya memandang dari atas sampai ke bawah.
"Bunda, kamar baru Bagas besar sekali. Dindingnya ada gambar bulan banyak banget. Kata mbak tadi itu gambar tata Surya. Bunda mau lihat?" Bagas menarik Laras masuk ke dalam kamar.
"Kata mbak kalau gelap, bolanya bisa nyala sendiri." Bagas sibuk memamerkan kamar barunya pada bundanya.
"Bagas bilang apa sama ayah?" Laras menuntun Bagas pada Rangga.
"Ayah?"
"Bagas lupa semalam janji panggil saya dengan sebutan apa?" Rangga mencoba mengingatkan.
"Bagas? bukankah Bagas selalu menanyakan soal ayah. Sekarang ayah Bagas sudah di depan mata."
Bagas masih merasa ketakutan melihat Rangga.
"Bunda, kita pulang, yuk. Bagas takut."
Rangga kaget ternyata tidak semudah itu Bagas menerima dirinya. Lelaki itu mendekati Bagas, namun tetap saja sosok kecilnya tak mau di dekati Rangga.
"Mas, sepertinya aku tidak bisa disini." Laras menggendong Bagas meninggalkan Rangga.
"Ras," lagi-lagi Rangga menahan Laras. Dia tidak mau kecolongan lagi.
__ADS_1
"Maaf, mas. Aku belum bisa tinggal disini, kalau kondisi Bagas sudah lumayan menerima keadaan. Aku baru bisa menerima kamu lagi."
"Aku mohon jangan pergi lagi, Ras. Aku mohon kamu tetaplah disisiku." mohon Rangga pada Laras.
Laras menunduk lemas. Sejatinya momen ini sudah lama ditunggunya. Namun hatinya dilema melihat sikap Bagas menolak Rangga. Padahal yang membuatnya takut bukanlah Rangga, melainkan Raya.
"Maaf, mas. Untuk sementara ini, Bagas lebih penting buatku."
Laras kembali ke kamar Rangga. Mengambil pakaian gantinya. Lama dirinya merenung melihat suasana kamar. Saat bangun tadi dia tak begitu memperhatikan isi kamarnya. Netranya berputar saat photo pernikahannya terpajang jelas di kamar tersebut. Kedua tangannya mengatup sembari menahan air matanya yang membasahi wajahnya.
Langkah kakinya berputar mengitari kamar pernikahan mereka. Kamar yang banyak memiliki kenangan manis, kamar di mana kebahagiaan selalu hadir dalam hidupnya. Sejatinya, Rangga tidak pernah memperlakukan dirinya dengan buruk. Kakinya terhenti pada sebuah lemari. Gaun pernikahan mereka masih terawat bagus di dalam lemari. Semua tidak ada yang berubah. hanya waktu saja yang sudah berubah. Kakinya terasa lemas.
"Bunda," suara itu terdengar memanggilnya dari luar.
"Iya, nak," Laras menyembulkan kepalanya di balik pintu.
"Bagas mau ke sekolah dulu. Kata Om Rangga ada sopir yang antar aku."
"Oh, iya. Bunda mau mandi dulu. Nanti bunda jemput Bagas, ya." Bagas mengangguk lalu menyalami bundanya. Rangga berdiri tak jauh dari Bagas hanya di lewati saja.
"Jahatkah aku jika kembali meninggalkan rumah ini?" batinnya.
Setelah berangkatnya Bagas ke sekolah, Laras pun membersihkan diri. Saat ini dia tidak di tempatkan rumah mertuanya. Tetapi mereka bernaung di apartemen milik Rangga. Laras membalutkan tubuhnya dengan mukena putih. Melaksanakan sholat Dhuha sebagai kewajibannya umat muslim. Setidaknya kekalutannya terobati jika mengadu pada yang maha kuasa.
Allahumma innad-duhaa'a duhaa'uka wal bahaa'a bahaa'uka wal jamaala jamaaluka wal quwwata quwwatuka wal-qudrota qudratuka wal 'ismata 'ismatuka
Allaahumma in kaana rizqii fis-samaa'i fa anzilhu, wa in kaana fil ardi fa akhrijhu, wa in kaana mu'assiran fa yassirhu, wa in kaana haraaman fa tahhirhu wa in kaana ba'iidan fa qarribhu bi haqqi duhaa'ika wa bahaa'ika wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika, aatinii maa ataita 'ibaadakash-shalihiin.
__ADS_1
Artinya: "Ya Allah, bahwasanya waktu dhuha itu waktu dhuhaMu, kecantikan itu adalah kecantikanMu, keindahan itu keindahanMu, kekuatan itu kekuatanMu, kekuasaan itu kekuasaanMu, dan perlindungan itu, perlindunganMu."
Ya Allah, jika rezeki masih di atas langit, turunkanlah dan jika ada di dalam bumi, keluarkanlah, jika sukar mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaanMu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hambaMu yang sholeh."