Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Aku tidak seperti itu


__ADS_3

Rangga berjalan tertatih kearah Laras. Istri yang selama ini dia cari. Wanita yang sampai saat ini masih memenuhi ruang hatinya. Selama bertahun-tahun dia mencoba mencari tahu keberadaan Laras. Doanya langsung ijabah Allah. Wanita itu kini ada di depan mata. Tampak Eva masih menatap dirinya kesal. Beda dengan Sasti yang menyemangatinya. Dua wanita itu raut nya sangat bertentangan, namun tidak menyurutkan niat Rangga menemui Laras.


Tiba dirinya sudah berdiri di depan ranjang pasien istrinya. Ya bagi Rangga Laras masih berstatus istrinya, tidak pernah sekalipun dia berniat untuk menalak Laras. Walaupun mamanya beberapa kali bilang kalau Laras sudah menandatangani surat cerai mereka.


Beda dengan Laras. Wanita itu memilih bungkam bahkan membuang muka. Terbayang bagaimana perjalanan hidupnya yang terasa perih. Bagaimana dia menjalani kehidupan bersama putra semata wayangnya. Meskipun dia masih mendapatkan sambutan baik dari orang-orang di sekelilingnya.


Sekarang Rangga kembali setelah semua yang terjadi. Bagi Laras apa yang di lakukan Rangga saat ini hanya kamuflase belaka. Dimatanya lelaki itu sama saja dengan Raya. Sudah pastinya dia akan di boyong ke rumah Raya. Bertemu lagi dengan orang-orang yang pernah menyakitinya. Laras tidak mau hal itu. Dia juga tidak mau Bagas di jadikan alat bagi mereka.


"Ras,"


Suara itu muncul berdiri di hadapan Laras, Eva dan Sasti. Sasti mengkode Eva agar meninggalkan mereka berdua. Tak berapa lama keduanya keluar dari ruang rawat Laras. Hanya ada Rangga dan Laras berdua di ruangan itu.


Atmosfir ruang rawat Laras terasa begitu mencekam. Bukan karena hari sudah mulai beranjak sore, melainkan sebuah momen yang dinanti keduanya. Kerinduan yang sebenarnya sudah menyergap keduanya, namun salah satu dari mereka enggan mengakui. Nafasnya mulai menyergap wanita itu, mendapati sosok yang tak terduga di hadapannya.


Lelaki dihadapannya merasakannya hal yang sama. Debaran jantung terasa begitu kencang. Keduanya berada diruang yang sama, tak ada ekpresi apapun dari mereka. Saling terdiam, saling menatap, suasana pun terlihat tegang.


"Mas, kamu sudah puas kan? melihat keadaan aku seperti ini? ini kan mau kamu?" ucap Laras ketus.


"Ras, maksud kamu apa?"


"Kenapa kaget? kaget melihat aku masih sehat-sehat saja. Oh iya, mas jangan lupa, aku akan selalu sehat untuk membuktikan pada kalian, kalau aku bukan Laras yang gampang kalian hancurkan."


"Ras, aku tidak seperti itu. Aku berjuang sembuh untuk siapa? untuk kamu, Ras. Untuk kebahagiaan kita."


"Mas, tinggalkan aku sendiri. Bukankah kamu sudah menerima perjodohan keluarga. Aku siap mas jika kamu mau menalakku."

__ADS_1


"Nggak akan, Ras! sampai mati pun nggak aku menikah dengan perempuan lain. Aku cintanya sama kamu, bukan perempuan lain. Aku mohon, Ras. Jangan ucapkan itu lagi, aku nggak akan pernah menceraikan kamu apapun yang terjadi."


Rangga memeluk tubuh Laras dengan erat. Terdengar isakan kecil dibalik dada besar milik Rangga. Dia tidak menolak saat lelaki yang berstatus suaminya langsung membekap tubuhnya. Meskipun bibirnya berucap kekecewaan pada suaminya. Namun hatinya tak bisa di bohongi kalau dirinya memang merindukan suaminya.


"Bunda!" suara kecil itu memecahkan ketegangan diantara keduanya.


"Om nya Yusuf." Bagas balik bertanya pada lelaki yang berada di dekat bundanya.


"Iya, ini om nya Yusuf. Kamu apa kabar Bagas?"


"Om kenal sama bundaku?"tanya Bagas.


"Ras, apa dia anakku?" Rangga menatap Laras meminta kepastian tentang Bagas.


Laras hanya diam. Masih bergelut dengan rasa takutnya jika Rangga akan mengambil Bagas darinya.


"Om jangan marah-marah pada bunda. Bagas nggak mau temenan lagi sama om." Bagas memegang pinggang bundanya. Dia takut kalau Rangga mau macam-macam pada bundanya.


"Om mau temenan sama bundanya Bagas. Boleh kan?"


"Om bolehkan peluk Bagas?"


Lagi-lagi Bagas tidak mau melepaskan tangannya dari pinggang Laras.


"Gas, tidak boleh kayak gitu? kalau ada yang mau dekat dengan Bagas harus di terima dengan baik. Bagas mau nggak punya teman lagi?" Bagas menggeleng lalu melepaskan tangannya.

__ADS_1


"Maafin Bagas, om."


"Om boleh nggak peluk Bagas?" Bagas menggangguk lemah.


Rangga langsung menghamburkan tubuhnya ke arah Bagas. Sebuah pelukan dari seorang ayah yang merindukan anaknya. Laras menatap hal itu dengan buliran air mata yang membasahi wajahnya.


"Mulai sekarang panggil om dengan sebutan ayah."


prok ... prok ... prok ...


"Keren, suguhkan tontonan layaknya sinetron kamu tampilkan, Laras. Hebat! setelah kamu selingkuh dengan teman kampungmu, terus kamu jual airmata untuk menarik simpati anak saya. Kamu kira saya akan gampang percaya gitu saja. Kamu lupa Laras, kamu yang pergi dari rumah, meninggalkan Rangga yang berjuang dalam koma. Sekarang, kamu mau minta di akui lagi sama Rangga. Dan anak ini? aku yakin dia anak dari selingkuhan kamu. Siapa namanya? lelaki yang menjemput kamu saat pergi dari rumah."


Raya tiba-tiba muncul di tengah suasana mengharu biru antara Rangga dan Laras. Tentu saja dia tahu keberadaan Rangga dari maps pelacak kontak handphonenya. Bagi Raya, menemukan Laras itu gampang. Karena sudah satu tahun yang lalu dia sudah menebarkan mata-mata.


"Bu Raya," kata Laras saat melihat kemunculan mama mertuanya.


Laras enggan memanggil Raya dengan sebutan mama. Karena baginya seorang mama itu harusnya mengayomi, bukan malah memberi ketakutan tersendiri.


"Apa kabar kamu, Laras? saya dengar kamu sekarang kerja dengan Jihan. Wah keren. Kamu tahu kan siapa Jihan? atau perlu saya ceritakan."


"Nggak perlu, Bu. Saya tahu siapa Bu Jihan. Lagian itu tidak ada pengaruh sama saya. Kalau anda kesini hanya untuk memancing keributan disini, pintu sudah menunggu anda di sana.


Dan bawa pulang anak kesayangan anda jika tidak mau di usik."


Raya memandang seksama wajah Bagas. Entah kenapa dia seperti tidak asing dengan wajah anak itu. Bagas terus memegang bundanya ketika melihat Raya datang. Seakan ketakutan. "Bunda, Bagas takut."

__ADS_1


"Tenang, Gas. ada ayah disini?" Rangga menenangkan Bagas.


"Mas, saya mohon kamu lebih baik pergi. daripada membuat semuanya lebih runcing." usir Laras pada Rangga.


__ADS_2