Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Masih menumpang


__ADS_3

Rangga saat ini sedang berada di taman belakang vilanya. Tiupan angin seakan mengajaknya bermanja-manja ria. Menerbangkan daun-daun kering yang ada di sekitarnya. Menciptakan rasa nyamannya meskipun sedang dalam dunia kegelapan. Tangan Rangga hanya di gerakkan sedikit. Dia tahu kaki dan tangannya saat ini tak bisa berfungsi banyak, di gerakkan sedikit saja sudah bersyukur. Rangga tetap mencoba bersyukur, paling tidak dia masih bisa dipanjangkan nyawanya.


Terbayang ucapan sang mama tentang istrinya. Bahkan mamanya bilang Laras sudah menceraikan dirinya. Ada rasa tak percaya dengan cerita itu. Karena setahu dirinya Laras tidak pernah mau di beri fasilitas kemewahan. Tapi entah hati kecil lainnya menyetujui ucapan mamanya. Bisa jadi istrinya itu sudah lama merencakan semua ini.


Tak jauh dari posisinya ada seorang wanita yang sedari tadi memperhatikannya. Rona wajah manis pun terlihat ketika menatap lelaki itu. Camila yakin kalau saat ini perasaan Rangga masih berkecamuk ketika tahu istrinya pergi meninggalkannya. Tercampur rasa iba dan cinta yang tumbuh bermekaran di hatinya.


Hanya butuh kesabaran aku bisa membuat Rangga bisa menerimaku. Saat ini dia masih syok, tapi aku yakin kalau nantinya luka hati Rangga sembuh dengan sendirinya.


"Kamu apa kabar, Rangga?" tanya Mila saat kembali memeriksa kondisi mata Rangga.


"Ini siapa?"tanya Rangga masih asing dengan suara lembut itu.


"Aku Mila. Camila Rengganis, teman SMP-mu dulu. Anaknya mama Resi."jelas Mila.


"Owh, kamu Camila. Apa kabar, mil? maaf setelah sekian lama kita tidak bertemu kamu malah melihat kondisiku seperti ini."


"Alhamdulillah aku baik, Ga. Aku turut prihatin tentang keadaanmu. Kamu yang sabar ya, Ga. Tuhan sedang menguji umatnya. Dan kamu harus harus lebih dekat dengan-Nya." Mila masih mencoba menguatkan Rangga.


"Apakah ada harapan aku bisa melihat lagi?" tanya Rangga. Dia sedikit pesimis dengan keadaannya saat ini.


"Kalau Allah menghendaki, kamu pasti bisa sembuh, Ga." Mila menggenggam erat tangan Rangga. Lama wanita itu menatap wajah lelaki yang pernah disukainya.


Camila mengambil beberapa alat untuk disimpan kedalam tasnya. Sudah sekitar dua hari dia bolak-balik ke vila milik keluarga Pattimura. Ini hari pertama dia bertemu dengan Rangga yang sudah sadar. Sambil mengenang masa lalu, Camila mengajak Rangga berkeliling taman sekitar vila. Rangga meminta Camila berhenti memutar kursi rodanya. Dia ingin menghirup udara segar, sesaat matanya memejamkan.


"Mas,"


Suara sapaan itu membuatnya membuka mata. Seperti dia hapal dengan pemilik suara tersebut.


Laras!


"Mas, Rangga saya bawa kedalam, ya? ada ibu Raya." sapaan itu semakin dekat namun tidak selembut pendengarannya.


"Ini siapa?"

__ADS_1


"Saya Ajeng, mas. yang ngurus keperluan mas Rangga. Saya pengganti bi Asti." jelas Ajeng.


"OOO.." hanya itu yang bisa di ucapankan Rangga.


"Mari mas saya bawa ke dalam. Bu Raya sudah menunggu bersama dokter Camila." Rangga menyetop Ajeng agar tidak meneruskan permintaan Raya.


"Suruh mama saya untuk datang ke sini. Saya masih ingin menikmati udara."


"Baik,mas." Ajeng pun meninggalkan Rangga sendiri di taman.


Kenapa aku terus kepikiran Laras? apa iya dia pergi meninggalkan aku yang sekarat? apa iya dia pergi bersama Adul, teman lelakinya. Aku tahu kalau Adul memang suka sama Laras. Tapi aku rasa Laras tidak pernah meladeni perasaan lelaki itu.


Ah, kenapa aku seperti ini? kalau memang Laras mencintaiku, dia tidak akan meninggalkan aku disaat begini. Dia tidak akan pergi. Kenapa kamu tega sama aku, Ras. apa kurang yang selama ini aku lakukan.


klik


Setelah adegan pengusiran dari rumah kediaman orangtuanya. Laras datang ke rumah sahabatnya, Eva. Dia membawa barang Bagas, sambil menggendong bayinya yang baru berumur satu hari. Sebenarnya dia juga segan mendatangi Eva. Karena takut suami Eva terganggu dengan kehadirannya. Tapi dalam keadaan darurat seperti ini hanya Eva yang bisa dia minta tolong. Laras pun berjanji pada Eva akan mencari tempat tinggal secepatnya.


"Iya, Ras. Maaf tempatku tidak sebesar punya kamu. Kamu tidur di kamar ibu saja. Kan yang punya udah nggak ada." celoteh Eva.


Laras meletakkan Bagas diatas ranjang kasur berisi kapas kapuk. Itu tidak membuatnya risih karena dulu rumahnya juga begitu. Sesaat tubuhnya disandarkan di dipan ranjang. Tangannya mengelus ke dahi putra semata wayangnya. Sosok kecil itu meliuk seakan menikmati sentuhan dari ibunya. Tak terasa bulir air matanya menetes. Tak menyangka akan menjadi ibu tunggal. memiliki anak tanpa suami.


ooooeeeee.... oooeeeee...


Bagas menangis, dengan cekatan Laras menenangkan putranya. Kakinya berputar sambil mengayunkan Bagas diatas rentangan tangannya. Namun sayangnya putranya tak kunjung tenang. Mungkin bisa jadi karena tak kipas angin dirumah temannya itu. Laras membuka jendela supaya angin masuk.


Bagas bobo ooooh Bagas bobo


kalau tidak bobo digigit nyamuk


Bagas bobo ooooh Bagas bobo


kalau tidak bobo digigit nyamuk

__ADS_1


Tidurlah tidur anakku sayang


kalau tidak tidur di gigit nyamuk.


Laras terus bernyanyi menenangkan putranya. Bibir Bagas seperti mencari sesuatu. Laras langsung menyusui bayinya. Sambil duduk Laras mendengar pembicaraan Eva dan suaminya.


"Mau kemana bang?" tanya Eva yang kaget tengah malam suaminya pergi.


"Aku nggak bisa tidur gara-gara suara bayinya Laras. Kamu tahu kan aku butuh ketenangan saat ini sejak pandemi penghasilanku menurun. Cici aja nggak serewel itu waktu bayi."


"Abang kok gitu? Laras itu juga keluarga kita, dia saja nggak pernah protes saat abang numpang makan di rumahnya.


Bang .. bang ..." Eva mengejar suaminya yang langsung ngegas bersama motornya.


Laras terdiam mendengar pembicaraan mereka. Helaan nafas berat terdengar pelan. Laras merutuki dirinya sendiri, serumit inikah hidupnya.


Dulu dia pikir dia hidup bahagia dengan Rangga. Namun ternyata semuanya salah.


Laras teringat kata ibunya:


Maaf ibu keberatan kamu menikah dengan anak bos mu. Ibu tahu maksud dia baik, tapi menurut ibu lebih baik jangan dituruti. Kamu masih muda, masa depanmu masih panjang. Kita ini orang susah, nak. Ibu takut mereka hanya memanfaatkan kamu saja. Kalau sekarang saja mereka bisa mengaturmu, apalagi sesudah nikah nanti. Ibu mohon pikirkan lagi, nak."


"Maafkan Laras, bu. Aku tidak menuruti keinginan ibu." isaknya dalam diam.


"Bagas, bunda janji akan cari kerja dan kehidupan yang layak buat kamu. Bunda harap kamu jadi anak yang Sholeh agar bisa menjadi kebanggaan Bunda dan ... Ayah." Laras pun tertidur di samping Bagas.


*


*


*


Assalamualaikum terimakasih yang masih pantengin cerita saya. Maaf kalau saya tidak mengangkat tentang CEO atau mafia. Cerita ini lebih menjurus ke perjalanan hidup sehari-hari. Bagaimana perjuangan Laras membesarkan anaknya sendiri.

__ADS_1


Saya masih dalam tahap belajar. Jadi belum sekeren yang sudah pemes. Tapi tenang saja, disini tidak ada kisah siksa menyiksa.


__ADS_2