Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Irama cinta


__ADS_3

Pantai merupakan salah satu destinasi wisata alam yang menakjubkan. Sebab ada banyak kegiatan yang bisa kamu lakukan di sana. Mulai dari menikmati suasana angin sepoi-sepoi, menghirup aroma air laut yang asin, gemerisik daun kelapa yang tertiup angin, dan deburan ombak yang menenangkan. Selain itu kamu juga bisa melihat timbul dan tenggelamnya sang surya hingga menikmati kuliner ikan bakar.


Pantai, memiliki dua makna yang berbeda. Yang pertama, bagi mereka yang hidup berdampingan dengan pantai. Bagi mereka, pantai adalah halaman rumah mereka. Langkah kaki mereka di atas pasir halus menjadi catatan keseharian mereka. Ada yang pergi melaut, ada yang pergi bermain, ada pula yang pergi menenangkan hati dan pikirannya.


Yang kedua, adalah mereka yang menjadikan pantai sebagai pelabuhan mereka, pelabuhan segala kepenatan, kegalauan hidup, maupun luapan keceriaan. Pantai ibarat sahabat karib yang jauh, selalu ada waktu luang dan kesempatan untuk bersua.


Langkah kaki menyusuri deretan pantai, seperti rentetan kenangan indah. Tampak sang Dewi malam membulat sempurna sebagai lambang kesejukan hati.


Setiap tetes keringat yang keluar tidak akan pernah sia-sia dan akan berbuah manis pada waktunya. Deburan ombak yang menentramkan hati, menemani waktu bersantai setelah hari yang panjang.


Rangga memandang langit yang terang. Meskipun tanpa taburan bintang namun tetap mempesona. Sepasang mata tak hentinya memandang pantai dengan takjub.


Apabila kesedihan yang tengah melanda, rasanya kesedihan itu ikut terbawa arus ombak. Apabila kebahagiaan yang tengah mengisi hati, rasanya arus ombak yang datang melipatgandakan kebahagiaan itu.


Kedatangannya ke Anyer tentu saja ingin melepaskan penat. Melepaskan rasa mumet yang hampir dua bulan menghantam rumah tangganya. Dia yang ingin sang mama mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tapi dia juga yang lebih syok ketika sang mama di tahan.


"Mas,"


"Iya,"


"Kenapa mas tidak bilang kalau kita mau kesini?"


"Kamu ingat tempat ini?"tanya Rangga.


" Ingat dong, mas. ini tempat kita resepsi dulu. Terimakasih, mas. Kamu masih ingat tempat kenangan kita."

__ADS_1


"Ras," Rangga melihat Laras berjalan menjauh.


"Iya, mas."


"Awwwwww .... mas turunin!" Laras menepuk punggung Rangga.


Rangga menggendong istrinya tanpa berhenti. Laras sempat protes merasa pusing saat lelaki itu memutar tubuhnya. Sebuah pondok kecil mereka berhenti sambil memandang langit.


"Ras, kamu lihat langit." Rangga menunjuk kearah langit.


"Iya, kenapa?"


"Kamu tahu kalau bintang-bintang itu adalah malaikat yang sedang menatap kita."


"Karena ada keindahan di dalamnya. Kamu tahu mas, bintang yang paling berkilau seperti ribuan malaikat yang mengintip umat manusia. Kamu lihat bulan itu? cantik kan?"


Rangga dan Laras berjalan sambil bergandengan tangan. masih menikmati indahnya pantai Anyer di malam hari.


"Sudah tujuh tahun ya, mas."


"Dulu, kamu minta aku jadi istrimu untuk enam bulan saja. Aku sempat takut bakal seperti novel novel yang aku baca. Memulai rumah tangga tanpa cinta. Apalagi harus menikah dengan lelaki yang belum move on dari adik tirinya."


Rangga dan Laras saling bertukar pandang. Tak terasa tubuh Rangga hanya berjarak satu centi dari Laras.


Tangan Rangga mengangkat dagu Laras. Lagi-lagi kedua mata mereka saling bertemu, Laras berkali-kali menelan salivanya. Menentramkan jantung mereka yang berdebar kencang. Tanpa basa-basi Rangga pun meraih bibir Istrinya. Laras mencoba memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut dari suaminya. Laras yang sudah duduk diatas paha Rangga merasa terbuai dengan ritme hentakan bibir lelaki.

__ADS_1


"Larasati binti Fauzan, maukah kamu menjadi wanita terakhir untukku. Menjadi bunda untuk Bagas ku dan mungkin suatu saat akan ada Rangga junior atau Laras junior."


"Rangga Baratayudha binti Aryo. Maukah kamu menjadi lelaki terakhir dalam hidupku. Menjadi ayah kesayangan Bagas atau mungkin junior yang lain."


Rangga langsung membekap bibir istrinya dengan pelan. Laras pun mengikuti ritme pergerakan bibir suaminya. Dan ketika bulan semakin meninggi di sebelah timur. Rangga menggendong istrinya ala bridal style. Rangga memasukkan Laras ke dalam kamar.


Laras merasakan genggaman tangan suaminya begitu kuat. Sesaat dia disuguhkan wajah tampan pria yang telah sah menjadi suaminya selama tujuh tahun. Tak ada jarak yang memangkas mereka berdua. wajah keduanya semakin mendekat dengan tatapan yang semakin lekat.


Tangan wanita itu pun tak ragu lagi merayap di kulit wajah Rangga yang putih dan berjambang. Semakin dekat hingga bibir tipis itu menembus rongga mulut yang terbalut kumis tipis nan menggelikan itu. Aroma tubuh yang khas membuat wanita itu merekatkan tangannya di punggung leher semakin erat.


"Aku minta maaf jika dalam lima tahun ini tidak berada di sampingmu. Aku minta jika aku terkesan berada di pihak mama. Hati nuraniku seakan bimbang dengan kalian berdua. Tapi sebenarnya hati kecilku lebih kuat padamu, Ras." Bisik Rangga setelah sesaat melepaskan pagutan dari bibir istrinya.


"Jika kau ingin membenciku karena mamaku, karena kesalahanku selama ini. Aku rela, Ras. Aku rela asal kau tidak pergi meninggalkan aku." Bisik Rangga dengan suara bergetar.


Laras hanya menunduk pelan. Kalau bisa memutar waktu dia tidak akan meninggalkan rumah hanya karena keluarga suaminya. Kalau dia bisa memutar waktu, dia akan menyusul Rangga ke Jepang untuk memastikan keadaan suaminya. Sayangnya jika dia mengingat saat putaran waktu tersebut dia terjebak dalam penghalang yang begitu besar, yaitu mama mertuanya.


"Kamu tahu, Mas. Tidak pernah sedikitpun terbersit dipikiranku untuk berpaling ke lelaki manapun. Jika memang kamu masih hidup, aku selalu berharap kamu pulang menjemput aku dan Bagas. Jika kamu sudah tiada pun, aku tidak akan pernah menikah lagi. Kamu itu cinta pertamaku, lelaki pertama yang bertahta di hatiku. Lelaki pertama yang kuserahkan jiwa raga." Rangga menatap istrinya dengan lekat. Menghapus wajah istrinya yang sudah basah.


"Jangan pergi lagi, Mas. Jangan lagi kamu hilang tanpa kabar seperti lima tahun yang lalu. Jika itu terjadi lagi, aku tidak akan lagi memaafkanmu."


cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Cinta sebagai fondasi untuk membangun hubungan yang harmonis dan salah satu cara untuk mencapai kebahagiaan.


cinta bisa juga sebagai tiang suatu hubungan. Begitulah, adanya kekuatan cinta. Seseorang akan selalu belajar bagaimana merasakan kehangatan, kelembutan, dan keindahan. Dengan kekuatan cinta, seseorang diajari bagaimana mengatasi kecemasan dan ketakutan.


Lalu bagaimana cinta itu hadir? Refleksi akan cinta sudah tercermin sejak manusia terlahir di dunia. Tangisan bayi yang membutuhkan sentuhan dari orang tuanya, seolah mengafirmasi bahwa entitas cinta telah menjadi kebutuhan dasar dari berawalnya sebuah kehidupan.

__ADS_1


Laras masih bisa bertahan sampai saat karena cintanya pada Rangga. Pondasi kuat yang dia terapkan dalam dirinya. Laras juga selalu menyematkan nama Rangga dan Bagas dalam setiap doanya.


__ADS_2