
Langit Jakarta berubah menjadi cerah dengan nuansa biru terang disertai hiasan awan-awan putih, tanpa terhalau kabut polusi kendaraan dan hasil sisa pembakaran pabrik seperti biasanya.saat ini didominasi kondisi cuaca yang cerah pada pagi hari hingga menjelang sore. Hal ini ditandai angin yang berhembus cukup kencang dan kelembaban udara cukup kering dibandingkan dengan beberapa hari sebelumnya.
Di sebuah taman, tampak wanita dan laki-laki berjalan beriringan. Tangan saling menggenggam erat seakan tak ingin lepas satu sama lain. Saling melempar senyum, membuat sang wanita tertunduk tersipu. Langit sore itu seakan menyambut keduanya berbagi kebahagiaan. Meskipun mereka belum juga di karuniai anak kedua, setelah dua bulan yang lalu harus melepaskan calon anak mereka karena tidak berkembang.
Rangga memandang wanita yang kini menjadi pendamping hidupnya. Wanita yang sudah memberinya keturunan yaitu Muhammad Bagaskara Baratayudha. Oh ya bicara nama Bagas yang baru, itu sudah menjadi pembahasan Rangga dengan keluarga besarnya. Bukan dia tidak suka dengan nama sebelumnya. Tapi karena mimpi di datangi seorang kyai, meminta Rangga mengganti nama Bagas agar punya arti yang lebih bagus.
Perjalanan mereka menuju saat ini bukan sebentar. Perjalanan mereka hingga bisa seperti sekarang bukan kaleng-kaleng. Banyak yang harus mereka korbankan. Tangis seorang istri yang di zalimi mertua, tangis seorang istri ketika suaminya koma, tangis seorang wanita yang harus melalui kehamilan sendiri tanpa suami. Itu semua Laras lewati dengan keteguhan hati. Tak ada dia benci suaminya, Tak ada dia benci keluarga suaminya. Bukan karena dia bodoh, tapi Laras yakin suatu saat Rangga akan pulang.
Sesaat kemesraan mereka sedikit terusik. Aroma lezat dari seberang kiri taman mengusik indera penciuman keduanya. Pertanda mereka belum mengisi perut karena asyik quality time. Baik Rangga maupun Laras memilih melipir ke gerobak sate Padang. Sebelumnya Rangga memang belum pernah makan sate Padang, tapi karena tidak ada gerobak lain dan juga sedang lapar mereka pun duduk di samping gerobak.
"Bang, sate Padangnya dua, ya." pesan Rangga pada si Abang penjual.
"Mau sate apa, mas. Sate Padang ati ampela, sate iga dan sate daging?"
"Banyak pilihannya ya, bang. Kamu mau apa sayang?" Rangga mengalihkan atensinya ke arah Laras.
"Bang, sate daging satu. Pake keripik singkong ya bang. kamu mau apa, mas?" pesan Laras.
"Aku samakan saja dengan pesanan kamu, sayang." tangan Rangga menjentik hidung Laras.
"Bang sate dagingnya dua pake keripik singkong." pesan Laras.
"Ya, neng. Mau minum apa? itu disebelah saya ada yang jualan cendol plus ada es kelapa muda." abang penjual menunjuk kearah gerobak cendol di sebelah sana.
"Mas, kayaknya abang jualan itu sepi. Lihat tuh dia duduk nggak ada yang mampir. Kasihan, mas." bisik Laras.
"Kamu mau kemana, mas?" Laras bingung melihat suaminya berdiri meninggalkan dirinya di tempat sate Padang.
Rangga mendekati abang penjual cendol. Tampak lelaki usianya tak jauh darinya. Wajah nya berbinar ketika ada orang yang mendekati gerobaknya. Abang penjual cendol pun bangkit serta menawarkan dagangannya.
"Mau apa, mas? cendol apa es kelapa muda? mas, tenang saja, punya saya bersih kok." tawarnya.
"bang tolong antar es kelapa muda ke gerobak sate Padang disana. Atau kalau tidak abang ngelapak di sebelah sate Padang. Biar kami nggak susah pesannya." kata Rangga.
__ADS_1
"Saya ikut kesana aja, deh."
"Jangan lupa es kelapanya satu aja, bang. Tapi langsung sama kelapanya, ya." pesan Rangga.
"Mas, dua ajalah. Satu nggak kenyang." kata Laras.
"Lihat aku pasti kenyang." Laras tersipu malu.
Selesai jalan-jalan di taman mereka memilih pulang ke rumah. Sudah dua bulan keluarga kecil Rangga pindah ke kediaman Pattimura.
Rangga kasihan papanya tinggal sendiri di rumah. Bagas sering diantar jemput Donal. Sejak Lani sekolah ke luar negeri rumah jadi sepi, Laras pun tidak keberatan kalau suaminya mengajak tinggal di sana. Setiba di depan rumah, Bagas pun menyambut kedatangan kedua orangtuanya.
"Anak bunda sudah mandi." Laras merasakan wanginya aroma tubuh putranya.
"Iya, bunda. Bagas mandi paka bathup. Bareng sama opa. Bisa main gelembung sabun. Seru, bunda." ucap Bagas riang.
"Terimakasih, ya, pa. Sudah mandikan Bagas." ucap Laras.
"Nggak apa-apa, Ras. Cuma sama Bagas papa bisa seperti ini. Dulu cuma Dito yang mau main sama papa." kenang papa Donal.
"Papa malu sama Toni, Ga. Dulu papa menyalahkan dia karena Lani minta cerai. Papa tidak pernah mau mendengarkan penjelasan Toni, kalau semua ini memang salah Lani. Toni itu suami yang baik. Karena papa terlalu memanjakan Lani jadi kelakuannya seperti itu."
"Sudah, pa. Yang lalu biarlah berlalu. Toni tidak pernah marah sama papa. Dia pernah bilang kalau sikap papa akan terjadi pada orangtua manapun." jelas Rangga.
"Gini saja, pa. Bagaimana kalau kita makan malam undang Toni dan istrinya, Dito pasti ikut. Biar sekalian silaturahmi."
"Ide bagus, sayang. Apa aku boleh undang Ina dan Alam?" tanya Rangga.
"Mau reuni?" tanya Laras.
"Ya kalau diizinkan aku mau undang mereka. Walaupun kami pernah punya masa lalu yang indah. Tapi dia kan adik sepersusuanku. Jatuhnya sedarah kan? boleh kan, sayang?" Laras mengangguk.
"Mas, aku mau siapin bahannya dulu, ya. Buat masak makan malam kita."
__ADS_1
"Enggak usah, Ras. Papa akan pesan catering saja. Kamu duduk manis saja sama suami dan Bagas. Kali ini kita nggak makan di rumah tapi di restoran kenalan papa. Aduh papa lupa?" Donal tiba-tiba teringat sesuatu.
"Kenapa, pa?"
"Papa sudah tidak menyimpan nomor kontak Toni? Ga, kamu saja yang hubungi Toni."
"Papa sebenarnya lupa apa masih gengsi ngomong sama Toni,kan?" tebak Rangga.
"Enggak, Ga. papa beneran tidak punya lagi kontak Toni. Makanya papa minta kamu saja yang hubungi dia." kata papa Donal.
"Yasudah, nanti aku hubungi Toni. Sekalian aku juga kabari Ina untuk undang mereka."
"Ina biar aku saja yang hubungi." Laras langsung menyela ucapan suaminya.
"Jadi masih nggak percaya sama aku?"
"Enggak. Kalau ada urusannya sama mantan kamu, meskipun kalian sudah jadi saudara tetap saja dia mantan kamu, mas."
"Yasudah, sekalian saja aku undang Jihan biar bisa reuni." Rangga terkikik saat di pelototi istrinya.
"Undang saja, nanti malam tidur di luar." ucap Laras berjalan meninggalkan suaminya.
"Yah .. yang jangan dong? masa aku tidur di luar. Kamu nggak kasihan nanti aku di kerubuti nyamuk-nyamuk."
"Setahu aku rumah ini nggak pernah masuk nyamuk. Jadi jangan cari alasan."
"Makanya, Ga. Jangan bangunin singa yang sedang tidur." Papa Donal menggoda putranya.
*
*
*
__ADS_1
Sudah masuk part terakhir tapi masih sepi. Nggak apa-apa, sih. Yang penting saya sudah menjalankan amanah menyelesaikan ceritanya ini.
masih satu bab lagi.