Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Ziarah


__ADS_3

Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup. Bahkan, ada beberapa hadits tentang kematian guna mengingatkan umat Islam mengenai proses kehidupan yang normal.


Mengingat kematian memiliki banyak manfaat, misalnya hikmah mengingat mati adalah mengurangi hasrat duniawi. KEMATIAN adalah sesuatu yang pasti terjadi dan akan dihadapi semua makhluk hidup di dunia.


Bila telah digariskan waktunya, siapapun, kapanpun, dan dimanapun kematian akan tetap akan datang. Demikian sebuah kutipan dari QS. Al-Imran: 185.


Kematian pun pada akhirnya persinggahan pertama manusia di alam akhirat. Al Qurthubiy berkata dalam At Tadzkirah,


“Kematian ialah terputusnya hubungan antara ruh dengan badan, berpisahnya kaitan antara keduanya, bergantinya kondisi, dan berpindah dari satu negeri ke negeri lainnya.”


Donal, Rangga, Laras dan Bagas sudah berada diarea pemakaman karet bivak. Dimana Aryo, papa kandung Rangga di makamkan. Tak jauh dari makam Aryo juga terdapat makam neneknya Rangga Esmeralda.


Keduanya berjongkok membersihkan rumput-rumput yang sudah memagari pinggir makam. Tampak Alam mengelus nisan yang berwarna hitam tersebut. Sosok yang tadi sempat bercanda ria selama perjalanan sekarang mendadak kalem. Terdengar suara susutan hidung dari lelaki itu.


 Al-Fatihah dikenal sebagai surat pembuka. Maka, sebelum membaca doa yang lain, awali membaca Al-Fatihah. Setelah membaca Al-Fatihah, lanjutkan dengan membaca surat pendek. Membaca surat-surat pendek saat ziarah kubur akan menjadikan pahala untuk almarhum yang ada dalam kubur. 


Dalam riwayat al-Marwazi dari Ahmad bin Hanbal, beliau pernah mengatakan bahwa: 'Bila kalian masuk ke dalam taman makam (kuburan), maka bacalah Al-Fatihah, surat Ikhlas, dan al-Muawwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas). Jadikanlah pahalanya untuk mayat-mayat kuburan tersebut, karena sungguh pahalanya sampai kepada mereka.


Allahummaghfìrlahu war hamhu wa 'aafìhìì wa'fu anhu, wa akrìm nuzuulahu wawassì' madholahu, waghsìlhu bìl maa'ì watssaljì walbaradì, wa naqqìhì, mìnaddzzunubì wal khathaya kamaa yunaqqatssaubul abyadhu mìnad danasì."


"Wabdìlhu daaran khaìran mìn daarìhì wa zaujan khaìran mìn zaujìhì. Wa adkhìlhul jannata wa aìdzhu mìn adzabìl qabrì wa mìn adzabìnnaarì wafsah lahu fì qabrìhì wa nawwìr lahu fìhì."


Artinya: "Ya Allah, berilah ampunan dan rahmat kepadanya. Berikanlah keselamatan dan berikanlah maaf kepadanya. Berikanlah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya. Mandikanlah dia dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran.""Gantikanlah untuknya rumah yang lebih baik dari rumahnya, istri yang lebih baik dari istrinya. Masukkanlah dia ke dalam surga, berikanlah perlindungan kepadanya dari azab kubur dan azab neraka. Lapangkanlah baginya dalam kuburnya dan terangilah dia di dalamnya." (HR. Muslim)

__ADS_1


"Assalamualaikum, papa. Apa kabar? Semoga papa bahagia diatas sana. Maafkan Rangga jarang nengok papa. Tapi papa selalu ada dalam doa Rangga." Rangga mengalihkan atensinya pada istrinya dan anaknya.


"Sayang, sini duduk dekat aku. Aku mau kenalin kamu sama papa."


Laras pun berjongkok di samping Rangga. Bagas pun ikut dengan apa yang dilakukan kedua orangtuanya.


"Papa kenalin ini anak dan istriku. Namanya Larasati. Dia cantik kan, pa. Secantik mama. Dan ini yang paling ganteng adalah cucu papa, namanya Bagas. Gas, beri salam pada opa Aryo."


"Assalamualaikum, opa ini aku Bagas. Aku adalah anak ayah yang paling tampan. Opa tenang saja, Bagas akan jadi anak yang baik buat ayah dan bunda."


"Mas Aryo apa kabar? ini aku Donal, terimakasih mas Aryo sudah percaya sama aku untuk menjaga Raya dan Rangga. Terimakasih sudah mendidik Rangga menjadi anak yang baik."


Semua yang ada di area pemakaman pun menjadi hening. Mereka mengenang orang-orang yang pergi.


"Aku berharap setelah mama bebas nanti, bisa mengunjungi makam eyang dan papa. Karena setelah papa Aryo meninggal dunia, mama belum pernah ziarah ke makam papa." sambung Rangga.


"Karena bagi mama, papa Aryo adalah masa lalu, mas. Jika seorang wanita sudah menikah lagi, dia tidak akan mengurusi masa lalunya. Status mereka mantan, tapi kamu lah yang harus nya lebih sering menengok papa Aryo, karena tidak ada mantan anak meskipun orangtuanya sudah meninggal." jelas Laras memberi pengertian pada suaminya.


"Mama Raya ingin menghormati perasaan suaminya yang sekarang. Tentunya dia masih bersilaturahmi sama Tante Kania kan? meskipun saat itu Tante Kania sudah jadi istri papa Aryo. Tapi papa Aryo keren, mas. Dia kuat dengan Tante Kania yang rada cassanova."


"Sayang Tante Kania dulu tidak seperti itu. Dia seperti itu setelah sakit hati dipermainkan om David mantan suaminya yang baru. Ya, walaupun sejak dulu dia masih cuek sama Ina. Kamu tahu, saat Tante Kania kritis, Ina sedang ngambek dan tidak pulang ke rumah semalaman. Sampai saat dia pulang Tante Kania sudah meninggal dunia."


"Itu karma, mas. Waktu Ina mau di operasi dia malah pergi Filipina. Mana dia mau peduli saat Ina mau donor jantung. Sampai saat Tante Yulia datang dan mengaku sebagai kakaknya dari papa kandung Ina. Itu mulai perjalanan bahagia."

__ADS_1


Donal mendengar obrolan anak sambungnya dan menantunya itu hanya tersenyum kecil. Dia bangga pada Laras karena punya pemikiran bijak. Disaat Rangga mempertanyakan kenapa mamanya tidak pernah ziarah ke makam Aryo, Laras justru memberi jawaban yang mengena. Dulu Donal juga tidak pernah melarang Raya berurusan dengan Aryo, apalagi mereka ada anak. Tapi memang Raya nya juga tidak mau berurusan dengan Aryo di luar urusan Rangga.


"Kalian ini malah ngobrol di pemakaman. Kata orang pamali? ntar ada yang ikut nimbrung." canda papa Donal mencairkan suasana.


"Yuk, kita pulang. Papa kemarin mancing ikan buat acara kumpul-kumpul dirumah. Sebelum Lani berangkat ke Paris."


Setelah berkumpul di kediaman Pattimura. Rangga dan keluarga kecilnya berkumpul di teras belakang. Acara bakar ikan pun berlangsung disana. Tawa canda ayah dan anak pun terlihat akrab. Laras melihat hal itu senang.


Sambil duduk menatap sunset, Laras sangat menikmati suasana itu. Kalau orang harus ke pantai hanya untuk melihat matahari terbenam. Dia cukup naik ke balkon hanya untuk melihat fenomena alam tersebut.


Sebuah tangan membalung dibelakang punggungnya. Laras tidak merasa kaget dan membiarkan suaminya melakukan apapun pada dirinya.


"I love you. Terimakasih atas kesetiaan kamu selama ini. Terimakasih kamu masih bertahan denganku apapun yang terjadi. Kamu adalah istri kesayangan Rangga dan akan selamanya menjadi kesayanganku" Rangga menarik dagu istrinya, menikmati indahnya cinta halal mereka."


"Maaaas" Laras menepuk pundak suaminya.


"Enak kan sayang, mana halal pula."


Rangga dan Laras masuk ke dalam rumah. Mendengar azan magrib sudah berkumandang. Menandakan mereka harus menghentikan aktivitasnya.


Suara suci itu bergerak lembut menyapa siapapun yang mendengarnya. Menyapa angin-angin kecil di sekitar rumah. Semuanya menjawab untuk menuntun shalat. Semua mengagungkan asma Allah. Semua berakhir kecuali yang lalai.


Semua berkumpul di ruang tengah. Donal kali ini menjadi imam shalat. Di belakang Donal ada Rangga dan Bagas. Saf paling belakang ada Laras dan Lani. Lani biasanya paling malas diajak shalat. Tapi kali ini dia mau ikut menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim. Entah apa alasannya hanya dia yang tahu. Laras senang saat Lani menanyakan soal mukena. Donal pun mengeluarkan mukena milik Raya yang tersimpan di lemari.

__ADS_1


__ADS_2