Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Cerita di dalam taksi


__ADS_3

Pernikahan tak sekadar mempertemukan antara dua sejoli dalam satu ikatan suci. Lebih dari itu, menikah berarti menyatukan dua keluarga besar dengan berbagai latar belakang. Tak jarang saling berseberangan. Tidak sedikit yang berhasil menjalin relasi yang harmonis antara kedua entitas tersebut.


Laras memasuki taksi yang sudah menunggunya di depan gedung apartemen. Rasa kecewanya pada sikap Rangga membuatnya memilih pergi dari tempat itu. Setelah masuk ke dalam taksi Laras menyandarkan punggungnya di kursi mobil. Sesekali memejamkan mata, merenungkan apa yang terjadi barusan. Tangannya menyeka bulir-bulir air matanya yang membasahi pipinya. Helaan nafas berat terdengar dari mulutnya.


"Laras kamu harus kuat. Ingat Bagas, Ras. Ingat Bagas! kalau bukan untuk Bagas kamu tidak akan bisa seperti sekarang. Ras, kamu sudah berusaha selama ini. Jadi jangan cengeng, Ras! jangan cengeng!" Laras berusaha menguatkan dirinya sendiri. Mengingatkan dia sudah berjuang sejauh ini demi putranya tersayang.


Baru saja Laras hendak bernafas lega. Dia di kejutkan sebuah mobil yang terus mengejar taksinya. Laras mengenal pemilik mobil tersebut. Lagi-lagi dia memilih bungkam. Enggan banyak berkomentar atau melakukan apapun. Beberapa kali mobil itu mengklakson taksinya. Sampai-sampai sopir taksi mengomel karena ada yang berusaha menjegal mobilnya.


"Ini siapa sih, dari tadi ngejar mobil saya. Apa itu mobil rentenir kali, ya. Ya Allah saya belum punya uang buat bayar." ucap pak sopir taksi.


"Maaf, mbak. Kalau merasa tidak nyaman dengan kejadian barusan. mbak kalau mau pindah taksi nggak apa-apa. Demi keselamatan, mbak. Soalnya saya takut itu yang mengejar mobilnya rentenir."jawab pak sopir taksi.


"Itu bukan mobil rentenir, pak. Itu mobil suami saya. Dia pasti mau ngajak saya pulang ke rumah."


"Kenapa nggak mau, mbak. Bukannya surga istri ada pada suami. Dosa kalau tidak mau menurut. Mbak kan pake hijab pasti lebih paham dengan masalah seperti ini."


"Maaf, pak. Saya tidak menyalahi aturan agama. Saya hanya ingin menenangkan diri sejenak. Itu saja. Suami saya hanya ingin mengajak saya pulang."


"Maaf, mbak. Kalau saran saya sih, kalau ada masalah jangan mengadu pada dunia, nggak akan tenang. Mengadulah pada yang diatas. Saya jamin hati mbak akan sedikit tenang. Karena yang menggenggam kehidupan kita ya cuma dia."


"Terimakasih, pak sarannya. Maaf mau nanya, saya lihat bapak paham agama, tapi kenapa main rentenir? seharusnya bapak tahu kalau mereka itu berbahaya."


"Maaf, mbak. Saya nggak main rentenir, tapi saudara saya yang main rentenir pakai nama saya di jadikan jaminan." cerita pak sopir.


"Lapor polisi saja, pak." usul Laras.


"Apa bisa mbak? saya takut berurusan dengan polisi. Ribet!"

__ADS_1


Laras tersenyum mendengar ucapan pak sopir taksi "Selama kita tidak salah, insyaallah pasti di bantu, pak."


"Terimakasih, mbak. Saya doakan urusan mbak dan suaminya cepat selesai sehingga tidak ada ngambek-ngambekan lagi."


Laras tergelak "Terimakasih, pak atas doanya."


Mobil milik Rangga masih berusaha mengejar taksi yang di tumpangi Laras. Beberapa kali Rangga mengklakson taksi tersebut, namun Laras meminta pak sopir terus berjalan.


"Temui saja, mbak. Saya takut bahaya kalau kejar-kejaran seperti ini. Kalau nanti ada apa-apa saya juga yang kena."


Laras menghela nafas berat. Di tatapnya mobil Rangga yang masih mengejarnya. Ada rasa tidak enak dengan pak sopir taksi. Memang benar kata pak sopir taksi, kalau terjadi apa-apa dengan kendaraan lain bisa panjang masalahnya.


"Pak, tolong pinggir kesana." Mobil taksi pun meminggirkan di tempat yang aman.


"Ini, pak bayarannya." Pak sopir taksi kaget melihat bayaran yang lebih dari argo.


"Bapak punya anak?"


"Punya mbak, kembar sepasang sudah SD."


"Ini buat jajan si kembar pak."


Pak sopir taksi terharu melihat uang berwarna merah lima lembar di berikan Laras.


"Terimakasih, pak. Terimakasih!" terdengar isakan tangis lelaki itu.


"Saya doakan semoga mbak rezekinya lancar."

__ADS_1


"Amin, pak." Laras meninggalkan taksi.


Laras berdiri di trotoar jalan. Melihat mobil Rangga mendekati dirinya. Terlihat sunggingan senyum menyapa wanita itu. Namun Laras memilih enggan menatap lelaki yang masih berstatus suaminya. Hatinya masih sesak dengan apa yang terjadi tadi di rumah.


"Ras," tangan Rangga menggenggam erat jemari Laras.


"Mas, kalau kamu mengejarku cuma buat pulang ke rumah. Maaf, mas. Aku tidak bisa, selama kalian semua belum menerima Bagas. Selama mama Raya masih ikut campur dalam rumah tangga kita. Aku nggak akan pulang ke tempatmu."


"Ras, ngerti posisiku sekarang. Aku hanya ingin kamu tidak usah meladeni mama. Yang terpenting aku selalu percaya sama kamu. Jangan seperti anak kecil, Ras."


"Ngerti, posisi kamu? berapa tahun yang lalu aku berusaha mengerti posisi kamu, mas. Aku berusaha setia meskipun kamu tidak tahu kabarnya. Aku seorang istri tapi keadaan yang membuat aku terlihat seperti janda. Dan sekarang kamu minta aku mengerti. Sakit kamu, mas!"


Rangga masih belum menyerah dengan sikap Laras. Dia masih berusaha keras agar Laras mau pulang bersamanya. Rangga tahu tidak mudah mendamaikan mamanya dan Laras. Rangga sebenarnya juga tahu kalau mamanya dan Laras sama-sama keras. Tapi dia juga ingin bersatu kembali dengan wanita yang sudah memberinya keturunan. Saat ini dia masih berusaha agar Bagas mau menerimanya.


"Ras, Ayo kita jemput Bagas. Aku mau kita quality time bersama. Aku mau memperbaiki semuanya. Maafkan aku jika selama ini sudah banyak memberikan penderitaan padamu. Tolong bantu aku, Ras. Bantu aku supaya bisa di terima oleh Bagas. Bantu aku supaya bisa menjalani suami dan ayah yang baik untuk Bagas.


Apapun masalahnya kita hadapi bersama-sama. Meskipun aku tahu masalah terbesar kita adalah mamaku. Tapi aku mohon, Ras. Jangan pergi lagi dari sisiku. Kalau kamu tidak nyaman tinggal di apartemenku, aku nggak masalah. Aku mau tinggal di kontrakan kamu. Aku mau tinggal dimanapun asalkan bersama kamu dan Bagas." kata Rangga.


Laras hanya menunduk saja. Dia tidak tahu harus menjawab apa pada Rangga. Dia senang jika harus berkumpul lagi dengan Rangga. Namun, sosok Raya masih menjadi momok yang menakutkan bagi dirinya maupun Bagas.


Laras dan Rangga sudah berada di dalam mobil. Karena Laras ingin pulang ke rumah untuk membersihkan diri. Maka Rangga pun mengantarkan ke kontrakan.


Laras melihat mobil milik Camila bertengger di depan gang kontrakannya. Rangga mengerutkan dahinya sosok Camila berdiri di depan kontrakan Laras.


"Sejak kapan kamu kenal Mila?" tanya Rangga.


"Sejak aku melahirkan Bagas." jawab Laras.

__ADS_1


"kenapa kalau lihat Mila perasaanku tidak enak, ya? aku tahu kalau Mila orang baik. Tapi melihat dia dekat dengan Laras kenapa aku kurang setuju" batin Rangga.


__ADS_2