Istri Kesayangan Rangga

Istri Kesayangan Rangga
Melepas rindu


__ADS_3

"Mas ini ..." Laras rasa tidak percaya atas apa yang di hadiahkan suaminya.


"Iya, ini sertifikat rumah ibu Mala, dan ini kunci rumahnya."


Laras masih terfokus dengan apa yang di pegang suaminya. Masih merasa mimpi saat Rangga memindahkan sertifikasi rumah ke tangannya.


Map berwarna kuning keemasan berserta kunci rumah.


"Orang yang menempati rumah pun sudah pindah." jelas Rangga.


"Terimakasih, mas." Laras memeluk pinggang suaminya.


Rangga teringat saat pertemuan sebelum sidang. Mama Raya memberitahukan padanya perihal rumah Laras. Mama Raya juga bilang yang menempati rumah Laras adalah orang suruhan Raya.


Rangga memandang sertifikat yang sudah di bawa Donal. Dalam bayangannya ini akan menjadi kejutan buat istrinya.


Map berwarna kuning keemasan yang kini sudah dia kembalikan pada pemilik sebenarnya. Wajah Laras terlihat berbinar tak berapa melabuhkan ke dada suaminya.


"Terimakasih, mas. Terimakasih sudah mengembalikan satu-satunya peninggalan orangtuaku. Terima sudah berjuang mengembalikan nama baikku."


Senyuman lebar di sudut bibir lelaki itu. Dia senang kalau Laras sudah mendapatkan haknya.


"Kamu ingat ini?" Rangga mengeluarkan gelang perak berinisial La-Ra.


"Ini bukannya..." Laras kaget gelangnya yang hilang saat kuliah sekarang malah di tangan suaminya.


"Justru aku yang nanya...La - Ra ini siapa?"


"Itu.." Laras masih dalam mode berasa dalam mimpi.


"Iya, kata Ina ini punya kamu." jelas Rangga.


"Oh, dikasih tahu Ina, to ..." Laras memasang wajah datar.


Rangga ingat saat lama dia menyimpan gelang temuannya. Dengan inisial nama tak membuatnya berpikir kalau itu milik Laras. Mungkin karena dulu peka pikirannya hanya ke Ina.

__ADS_1


Kringggg... kringggg


Rangga menggerutu karena momen romantisnya terganggu dengan deringan ponsel.


"Oh, gitu ya, pa." jawabnya santai.


"Kenapa, mas?" tanya Laras melihat ekspresi aneh suaminya.


"Aku disuruh ke vila papa nggak jauh dari sini." jawab Rangga.


"Terus aku sendirian disini. Mana Bagas kamu titipkan ke kak Reza pula."


"Buat pancing mereka." jawab Rangga.


"Emang anakku apaan? sampai di jadikan pancingan segala." Laras melipat tangannya diatas dadanya.


"Ras, mama mau ketemu sama kamu." ucap Rangga.


"Kapan?"


"Lusa setelah sidang. Lusa adalah putusan sidang kasus kamu dan mama."


"Ya, Allah kasihan Nisa. Tapi dulu yang melayani aku saat mengambil uang tabungan bukan Anisa. Tapi orang lain. Cuma saat kata mereka yang ngurus tabungan aku ya si Anisa. Setelah mereka memberikan syarat, aku kembali lagi ke bank, eh malah nggak bisa ambil uang, mas. Padahal saat itu aku sudah hamil Bagas. Buat persiapan nyusul kamu ke Jepang."


Laras menceritakan bagaimana proses saat dia ke bank untuk biaya persiapan ke Jepang. Tentu dengan harapan bisa bertemu dengan Rangga yang masih koma saat itu. Dia harus memupus perjuangannnya karena kendala biaya.


Laras pun merasa beruntung, disaat dirinya terpuruk karena Rangga tanpa kabar, ada orang-orang yang sayang padanya. Orang-orang yang sudah seperti keluarga baginya. Ada Eva dan Adul sebagai teman keluh kesah. ada Bu Farida dan para ibu lain yang sudah seperti orang tua sendiri. Laras tak pernah merasa sendiri karena mereka selalu ada untuk dirinya dan Bagas.


Rangga dan Laras duduk di teras vila, menghirup udara subuh yang membangunkan mereka. Laras menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


"Katanya tadi mau ke vila papa Donal. Kok nggak jadi?"


"Nggak jadi."


"Kenapa?"

__ADS_1


"aku masih kangen sama kamu. Boleh kan kita seperti ini untuk melepaskan rindu."


"Mas, apa saat aku tidak ada kau sangat membenciku?"


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Kalau semua orang membenciku karena aku pergi meninggalkan kamu saat masih koma. Apa mama raya juga menceritakan hal itu padamu, mas?"


"Iya, mama cerita kalau kamu pergi dari rumah karena Adul. Karena aku akan cacat seumur hidup. Dan saat itu yang menyemangati aku untuk sembuh ada Camila."


"Oh, jadi dia adalah orang yang berarti ya. Pantas dia terobsesi sama kamu, mas." Laras memalingkan wajahnya ketika suaminya menceritakan kebaikan Mila.


Dia juga merasa berhutang budi pada dokter Camila. Dokter yang baik hati memberinya tumpangan. Dokter yang sudah banyak membantu dirinya dalam membesarkan Bagas. Dokter yang sudah menjadi kakak buat dirinya dan bude buat Bagas.


"Mas Rangga Baratayudha..." ucap Laras memandang mata suaminya.


pandangan mereka masih bertemu. Rangga pun menarik dagu istrinya, namun sedikit didorong oleh Laras. Laras berlari ke dalam vila karena tak enak kalau ada yang melihat. Sesaat mereka kembali masuk ke kamar.


"Aku benar-benar merindukan kamu, Ras. Dua minggu berada di tahanan selalu kepikiran kamu dan juga Bagas. Dua minggu di tahanan aku selalu menahan sesak memikirkan apa yang sedang kamu lakukan, apa kamu memikirkan aku juga."


Mata mereka kembali beradu, degupan jantung terasa kencang. Sesaat keduanya saling melempar senyum.


Seumur hidup Laras hanya Rangga lelaki pertama yang dia cintai. Saat masih SMP melihat perhatian Rangga pada Ina, hatinya selalu terketuk. Dimatanya Rangga bukan hanya tampan tapi juga spesial karakternya. Setiap Rangga mendatangi Ina, dia selalu mencoba menjauh. Bukan karena dia tahu Rangga mencintai Ina, tapi karena dia takut tidak bisa menguasai hatinya.


Seumur hidup Laras, lelaki yang sudah menghalalkannya adalah cinta pertama dan terakhir. Jika suatu saat Tuhan memisahkan mereka dengan maut tak akan pernah Laras mencoba memikirkan lelaki lain. Setianya hanya untuk Rangga seorang.


"Terimakasih, sayang. Kamu sudah mau menunggu aku selama lima tahun. Aku percaya kamu bukan seperti yang dituduhkan oleh mama. Tapi aku juga sangat berterimakasih sama mama karena sudah mempertemukan kita."


Rangga tidak melepaskan tangannya dari jemari Laras. Netra nya terus menatap tangan yang masih dalam genggamannya. Sesaat Rangga mulai menarik Laras dalam pelukannya. Dia tidak peduli hari sudah mulai terang, yang pasti tadi sudah menjalankan sholat subuh.


"I love you Larasati"


"Love you to Rangga Baratayudha."


Ujung jari Rangga mengangkat dagu Laras. Kedua pasang manik saling bertemu. Laras membiarkan degupan jantung berdetak kencang. Membiarkan suaminya melakukan kewajibannya.

__ADS_1


Rangga menangkup kedua tangannya pada Laras. Tangannya menuntun Laras membaringkan diri diatas ranjang. Rangga melahap bibir istrinya dengan pelan. Luapan perasaan rindu yang sudah ditahannya sejak dua minggu yang lalu.


Kamar itu menguarkan aroma wangi bunga mawar. Rangga membelai rambut istrinya yang dia lepaskan saat beraksi tadi. Meskipun matahari sudah meninggi namun tak menyurutkan keduanya meluapkan rasa cinta diantara mereka.


__ADS_2