
Cahaya terang terus berputar mengitari bumi. Tampak sang surya mulai menampakkan diri setelah rintikan salju berhenti turun. Intensitas salju mulai berkurang, karena sebentar lagi akan masuk musim semi.
Itulah anugerah yang di berikan oleh Tuhan. Dunia tunduk pada ketentuannya. Langit pun mulai tampak pada pesonanya. Semua yang terjadi dalam kehidupan ini sudah diatur sedemikian rupa. Betapa indahnya keagungan tuhan. Waktu terus bergulir, hari sudah memasuki senja. Semua yang ada dalam dunia ini pun mengikuti ketentuannya.
Dalam kehidupan manusia terbagi dalam dua hal memberi dan menerima. Kita bisa memberikan setitik kebahagiaan untuk orang-orang tersayang, kita pun menerima timbal balik apa yang sudah di perbuat.
Masih dalam rumah sakit di Jepang. Laras terbangun setelah dia merasa bermimpi bertemu ibunya. Pembukaan mata pertamanya di hiasi penampakan ruangan yang asing dimatanya. Sebuah ruang bercat biru dengan aksen motif dinding yang cantik.
Namun kekagumannya hilang setelah melihat siapa yang berada di sampingnya. Wajahnya menekuk, tersirat rasa takut membelenggunya. Dia ingat soal surat itu, dia takut kalau mama mertuanya sangat berharap punya cucu.
"good afternoon . she is Laras How are you currently.
(selamat siang . dia Laras Bagaimana kabarmu saat ini).
"Alhamdulillah, doctor. Saya sudah lumayan, tapi maaf kenapa saya bisa berada di rumah sak?"
(Alhamdulillah, doctor. I've had enough, but sorry why can I be in the hospital?")
"Your feet are like a burn infection. Excuse me, may I know what happened?"
(Kaki Anda seperti infeksi luka bakar. Permisi, bolehkah saya tahu apa yang terjadi?)"
"Saya ceroboh pak. Tadi sedang memasak lalu terkena tutup presto alat perebus daging. Biasanya saya oleskan pakai pasta gigi langsung sembuh. Karena saya akan bepergian jadi saya lupa kalau kaki saya lembab. jadinya terasa sakit."
(I'm careless sir. I was cooking and got hit by the pressure cooker lid. Usually, I apply toothpaste and it heals right away. Because I'm going to travel so I forget that my feet l)
"Oke, saya sudah menjelaskan ini pada tuan Rangga. Jadi nanti akan ada beberapa obat untuk penunjang kaki anda. Jangan banyak aktivitas karena itu akan memperlambat penyembuhan anda. Saya permisi dulu, nyonya.
(Okay, I've explained this to Mr. Rangga. So later there will be some medicine to support your feet. Don't do much activity because it will slow down your healing. Excuse me,)
Raya duduk dengan angkuhnya di kursi ruang tamu. Kakinya bersila sambil menarikan tangannya di layar pipih. Kebetulan dia mendapat tawaran urusan modeling di Osaka. Beberapa bibit model dari Indonesia akan di gembleng untuk di kompetisikan dengan model berbagai negara lainnya.
__ADS_1
"Iya, halo."
"Oh, kalian sudah sampai. Sekarang kalian dimana beristirahat?"
"Oh, begitu. Oke nanti saya kesana."
Raya menutup komunikasinya dengan manajer talent yang menghubunginya tadi. Lalu masuk ke kamarnya. Arah lokasi kamarnya bersebelahan dengan kamar Rangga.
Tampak Rangga seperti sedang berbicara dengan Laras. Raut wajahnya seperti serius, menandakan bahwa ada pembicaraan empat mata.
"Ras, aku tahu kamu pergi karena surat itu. Maafin aku, Ras. Bukan maksudku untuk merahasiakannya. Aku cuma mencari waktu yang tepat untuk bicara denganmu."
Terdengar suara susutan dari hidung menantunya. Raya mencoba menguping pembicaraan mereka, rasa ingin tahunya sangat tinggi.
"Mas, kenapa kamu tidak bilang sejak awal. paling tidak aku tidak akan berharap banyak. Paling tidak aku tahu diri, walaupun rasanya sakit sekali, mas."
"Ras, dengarkan aku! saat ini tujuan kita ke Jepang untuk pengobatan kita. Aku dan kamu akan melakukan apapun proses supaya kamu bisa hamil. Soal berhasil atau tidaknya itu soal belakangan. Bayi tabung pun akan kita lakukan, Ras."
Sesusah itukah sampai mereka sampai menargetkan bayi tabung.
Aku memang ingin Laras hamil. Tapi Laras masih muda. kalau cari normal saja seharusnya mereka bisa.
kalau bayi tabung biasanya sudah beberapa tahun tidak dapat anak.
Ini tidak bisa di biarkan!
Raya langsung memasuki kamar milik Rangga. Dia tidak ingin jika Rangga menggunakan metode bayi tabung.
"Mama tidak setuju dengan rencana kalian! Apa-apaan pakai bayi tabung! Emangnya sesusah itu istrimu hamil sampai pakai bayi tabung, hah! Laras itu masih muda reproduksi wanitanya sedang bagus. Kenapa harus pakai bayi tabung?
Atau jangan-jangan kamu mandul, ras. Makanya pakai bayi tabung segala!"
__ADS_1
"Mama tidak sopan masuk tanpa permisi!" Protes Rangga.
"Oh, jadi sekarang aku harus permisi masuk ke kamar anakku sendiri, begitu? Ras, mama tidak menyangka ya, kamu dengan mudah mencuci otak anakku. Mama pikir kamu gadis yang baik makanya mama minta kamu jadi istri Rangga."
Laras masih sesenggukan mendengar ucapan mama mertuanya. Raya yang selama ini baik padanya saat sebelum menikah sudah berubah. Padahal dia merasa tidak pernah membantah mertuanya. "Ma,"
"Maaf, ma. Tapi Laras tidak pernah menghasut mas Rangga.
Mas Rangga tadi cuma kaget mama tiba-tiba datang ke kamar. Ya kan, mas. Minta maaf sama mama, mas.
Kamu kalau mau menegur mama bicara baik-baik."
"Huh, drama!" Batin Raya.
Ternyata benar kata teman-temanku.
Kalau punya menantu miskin akan ada banyak drama yang akan dibuatnya.
Dulu saat aku hendak meminta pendapat soal Laras akan menikah dengan Rangga.
Mereka sudah memperingatkan aku.
Bodohnya aku terbuai dengan sikap sok polosnya Laras..
klik
Laras duduk di jendela kamarnya. Waktu menunjukkan jam 9 malam, matanya tak bisa dipejamkan. Setelah membersihkan wajahnya Laras membaca beberapa ayat untuk menenangkan hatinya. Shalawat nabi dia di hayati dan dibacanya berkali-kali. Ada setitik kegelisahan yang masih menderanya. Namun dia percaya kalau akan ada solusi di setiap permasalahan.
Siapa yang tidak ingin hamil? dia sangat menginginkannya. Setiap wanita sangat mendamba momen itu.
"Dengar, Ras. Kamu memang bermasalah pada rahim. Tapi bukan berarti tidak bisa hamil. Setiap penyakit itu pasti ada obatnya, baik medis maupun non medis. Percayalah, apapun hasilnya tidak akan melunturkan cintaku padamu, Ras."
__ADS_1
Laras memejamkan mata sejenak. Kata-kata Rangga mampu memberikan energi. Dia tidak menyesal punya suami seperti Rangga. Romantis, sayang istri dan sempurna. Dimata Rangga itu tidak hanya sempurna fisik tapi juga sempurna akhlak.