
Kita tidak bisa dalam setiap hubungan pasti ada saja masalah yang datang menghampiri. Entah itu masalah kecil atau masalah besar, semuanya bisa mengganggu keharmonisan keluarga.Permasalahan seringkali dianggap sebagai "bumbu" dalam rumah tangga. Kalau enggak ada masalah juga sepertinya aneh ya, Ma. Tetapi hal yang paling penting dan harus kamu catat adalah bagaimana cara kamu dan pasangan menyikapi masalah tersebut.
Rangga bangun dari lelap malamnya. Tangannya meraba pinggir kasurnya. Pelan-pelan dia membuka mata, di tolehkannya pandangan ke samping. Di susutnya tubuhnya ke dashboard ranjang. Ada rasa hampa saat ini, sebagian rasa ada yang hilang. Dia sangat ingin menemui Laras, tapi saat ini dengan membiarkan saling menenangkan diri jauh lebih baik. Walaupun dia tidak tega pada sosok kecil itu.
Ia berdiri di depan kaca kamar mandi. Bayang-bayang senyum kebahagiaan selalu mengikutinya. Diliriknya jam dinding, ternyata masih jam sebelas malam. Rangga menyeka air matanya, terdengar cengeng, tapi saat ini dia butuh pelipur hatinya.
Sejak dia pulang dari Jepang, dia tidak langsung berdiam diri saja. Banyak yang ingin diketahuinya, termasuk penyebab istrinya pergi dari rumah orangtuanya.
Sejak dia sampai di Indonesia, banyak kisah sumbang yang dia dengar tentang istrinya. Salah satunya adalah ada pria lain yang pergi bersama Laras. Ingin dia tidak mempercayainya, tapi berita itu semakin kuat. Hatinya mulai bimbang antara percaya atau tidak. Namun itu tidak membuatnya gegabah untuk menerima permintaan mamanya. Saat dia baru beberapa hari di Indonesia, sang mama sudah menyodorkan Mila untuknya.
Langkah kakinya berjalan menuju sebuah kamar. Ia membuka gagang pintu kamar yang tak di kunci. Tampak sosok kecil yang tertidur pulas. Rangga menyandarkan tubuhnya disamping malaikat kecilnya. Sambil membelai rambut tipis itu dia mengecup dahi si tampan kecil.
"Maafkan ayah, nak. Ayah terpaksa bawa kamu dari bundamu. Ayah tidak mau kehilangan kamu, nak. Ayah sengaja tidak bawa bunda. Karena ayah tahu, bunda tidak akan mau pulang kesini."
Rangga merebahkan tubuhnya di samping Bagas. Malam ini dia ingin tidur bersama Bagas. Sesaat dia merasa handphonenya bergetar. Dengan malas dia mengangkat telepon tersebut.
"Iya, ada apa menelepon malam-malam begini?"
"Maaf, pak Rangga mengganggu waktu malam anda. Saya dan rekan sudah berada di alamat yang anda berikan. Tadi kami melihat ada beberapa orang asing juga mengintai warung itu."
Rangga mengerutkan dahinya. Dia yakin mamanya sudah bertindak lebih dahulu. Kaki panjangnya berjalan kesana kemari. Memutar kamar besar putranya.
"Amankan mereka. Tapi jangan di sekap. Perlakukan mereka layaknya tamu. Mereka itu keluarga istriku. Paham."
"Kalau mereka tidak mau, bagaimana?"
"Bilang saja kamu disuruh Laras. Katakan kalau Laras ingin membantu mereka."
__ADS_1
"Oh, begitu. Baiklah, pak. Maaf, pak. Sekarang Anisa sedang di Jakarta. Apa yang harus kami lakukan?"
"Gabungkan tinggalnya dengan mereka bertiga. Ingat perlakukan mereka sebagai tamu. Bukan tahanan."
"Baik, pak." orang suruhan Rangga pun menutup teleponnya.
Rangga mengambil wudhu untuk sholat malam. Seakan pengobat untuk kegundahan yang dihadapinya. Dia takut jika Laras masih menjauhinya. Saat ini dia akan melindungi orang-orang yang akan disingkirkan mamanya. Semua itu dia lakukan demi keberlangsungan rumah tangganya.
Dalam sholatnya Rangga memanjatkan doa:
Ya Allah, hanya kepada-Mu aku pasrah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku bertawakkal, hanya kepada-Mu aku bertaubat, hanya dengan petunjuk-Mu aku berdebat, hanya kepada-Mu aku memohon keputusan, karena itu, ampunilah aku atas dosaku yang telah lewat dan yang akan datang, yang kulakukan sembunyi-sembunyi maupun Kiyang kulakukan terang-terangan. Engkau yang paling awal dan yang paling akhir. Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.
Rangga menyelesaikan sholat malamnya. Lalu mengambil tasbih untuk berdzikir. Setidaknya ada ketenangan dalam hatinya setelah melakukan sholat malam.
Allaahumma a'innaa wa laa tu'in 'alainaa wanshurnaa wa laa tanshur 'alainaa wamkur lanaa wa laa tamkur 'alainaa wahdinaa wa yassiril hudaa lanaa wanshurnaa 'alaa man baghaa 'alainaa. Allaahumma taqabbal taubatanaa waghsil dzillatinaa wa ajib da'watanaa, Allahumma irfa'na, wala tadho'na, wa akrimna wala tuhinna, wa a'thina, walaa tuhartimna, wa a'izzana, walaa tudzillana, wa amkirlanaa, walaa tumkir binaa, wadabbir lana, fainna lanuhsinu attadbir.
Rangga merebahkan tubuhnya disamping Bagas. Bagas yang dia jemput di kontrakan Sasti. Tadi sekitar jam setengah sepuluh, Sasti mengabari kalau Bagas dan Laras ada di kostnya.
"Sebenarnya aku sudah janji sama Laras. Tapi Bagas memanggil kak Rangga terus aku jadi tidak tega. Kasihan Bagas kalau jadi korban keegoisan kalian."
Rangga menggendong Bagas yang masih tertidur. lalu memasukkan putra ke dalam mobil.
"Kamu tidak bawa Laras sekalian?" tanya Sasti.
"Saya pengen bawa Laras. Tapi saya takut kalau dia akan pergi lagi. Aku masih bawa Bagas pulang ke rumah mamaku. Dan aku yakin Laras akan menolak. Saat ini biarkan Laras menenangkan diri. Aku titip Laras sama kamu dulu."
"Bentar?" Sasti berlari ke dalam.
__ADS_1
"Ini," Sasti menyerahkan barang Bagas pada Rangga.
"Terimakasih," Rangga meninggalkan kost Sasti. Mobilnya menghilang dari area kost-kostan.
...****************...
Di ufuk timur, langit menyemburatkan warna merah. Fajar perlahan menyingsing, terdengar suara kicauan burung, menandakan hari sudah siang. Beberapa saat kemudian tubuhnya bangkit. Ada rasa nyeri dalam dadanya, tampaknya dia masih ditempat yang sama. Tempat dimana dia pernah mereguk kebahagian bersama orang yang dicintainya.
Rangga membuka matanya. Tampak Bagas masih terlelap dalam tidurnya. Rangga membelai rambut putra semata wayangnya. Ada keanehan pada suhu tubuh putranya.
"Ayah ... ayah ... Bagas sayang ayah ... jangan tinggalkan aku dan bunda." igau Bagas.
"Ya Allah, nak. Badanmu panas. Gas, ayah disini, nak. Ayah tidak akan pernah tinggalkan kalian. Maafkan ayah, maafkan bunda, nak." Rangga memeluk putranya sambil menangis.
Rangga langsung menggendong Bagas membawa putranya ke rumah sakit. Tampak guratan cemas dari rona wajah tampannya. Bibirnya terus berbicara menguatkan putranya yang terus menggigil.
Donal melihat Rangga membopong Bagas. Dia juga ingin tahu apa yang terjadi dengan cucu sambungnya.
"Bagas kenapa, Ga?" tanya Donal.
"Bagas demam, Pa. Rangga mau bawa ke rumah sakit."
"Kok kamu sendiri, Laras mana?"
Deg! Rangga terdiam saat papanya menanyakan Laras. Tidak mungkin dia bilang kalau Laras pergi dari rumah. Karena bagaimanapun itu adalah urusan rumah tangganya. "Panjang ceritanya, pa. Pokoknya aku mau bawa Bagas dulu."
"Papa temani kamu, ya?" Rangga mengangguk lalu mereka bersama-sama pergi ke rumah sakit.
__ADS_1